Tetaplah memberi

19 04 2010

Pagi ini,  saya senang banget bisa berkesempatan duduk sarapan lontong
sayur berdampingan dengan seorang sahabat.  “Teteh, ayo dong kapan bikin
lagi, kangen dengan tulisannya”. Hayyah, malu lah hati ini, karena
berbagai hal alasan sampai tak bisa menyisih waktu untuk berkunjung dan
meramaikan dunia persilatan milis kami.

Oke lah kalo beg beg begitu…demi menyenangkan hati sang sahabat, saya  sempatkan luang waktu makan siang ini untuk menulis sedikit pengalaman pribadi saja ya, semoga ada hikmah bermanfaat yang bisa dipetik.

Ehm ehm, bismillah, begini ceritanya,

September 2009, karena hal sepele terjatuh saat mengganti lampu, adik kami
mengalami cedera tulang belakang, sehingga sakit bila bergerak dan sulit untuk berjalan. Berbagai dokter yang kami datangi memberikan analisa dan keputusan tindakan medis yang berbeda, ini sangat membingungkan.

Begitu indah Allah mengatur semua. 9 Februari 2010 tanpa sengaja kami
berbincang dengan penjaga toilet bandara yang baru saja mendapatkan sedekah besar dari seseorang yang rutin PP Singapore karena profesinya sebagai dokter bedah tulang. “namanya Dokter Lutfi” begitu kata sang penjaga.

Dari mesin google kami dapatkan beberapa RS di Jakarta sebagai tempat praktek beliau, hampir semuanya terjadwal penuh. Alhamdulillah satu nomor tersisa yang mempertemukan kami dengan beliau di RSPI. Analisa dan keputusannya adalah, kerusakan pada tulang belakang 4 dan 5 harus dikikis, diganti dengan tulang pada pangkal paha lalu disambungkan kembali.

Operasi yang dilakukan oleh tim dokter yang beliau pimpin berjalan dengan
lancar. Kami sangat bersyukur hanya perlu 3 hari saja adik kami pulih pasca
operasi, sudah boleh pulang kerumah dan dapat bergerak serta berjalan normal kembali.

Saat pembayaran hampirlah copot jantung kami karena kuitansi menunjukkan pengurangan hampir 40 % dari 90 jutaan yang harus dibayar. Cashier menjelaskan bahwa sepasang pen/ alat sambung seharga 30 juta ternyata sang dokter bawa dan beli sendiri dari distributor dengan seharga cuma 10 juta saja, dan beliau mengembalikan biaya jasa operasi yang menjadi hak beliau beserta tim senilai 20 juta-an, dan beberapa biaya terkait jasa beliau dan tim senilai 10 juta-an.

Beliau jugalah yang menyarankan kami untuk melakukan operasi di RS Mitra
Kemayoran, karena lebih ekonomis dibanding RSPI dan karena beliau adalah ketua tim operasinya. Saat reservasi, dengan cueknya beliau tanpa diminta menggaransi segala pengeluaran kami di RS, padahal sesuai peraturan kami seharusnya diawal mendeposit uang sebanyak 80% dari total estimasi biaya.

Kami baru kenal saat itu, saudara atau teman pun bukan, bahkan tak pernah seucap kata pun kami pernah meminta semua yang telah beliau lakukan itu, selama ini kami hanya pasrah sujud minta kemudahan saja dari Allah. Kami juga sangat terkenang dengan kata sikapnya yang begitu sopan dan santun. Ranking ke-4 ahli bedah tulang se-Asia ini begitu bawel dan humoris saat menerangkan, ramah dan gemar hormat merundukkan badannya seperti padi yang makin meninggi dan berisi.

Itu kenapa kami gemar sekali membincangkan pengalaman luar biasa ini kepada teman kerabat saat menjenguk, ataupun dengan tulisan seperti ini. Amanat Rasulullah, ibrah nikmat dan kebaikan Allah melalui seseorang seperti Dokter Lutfi ini harus banyak diceritakan agar banyak orang bisa mendoakan beliau sebagai balasan dari kami, dan bisa mencontoh kebaikan beliau sesuai kapasitas kita masing-masing.

Entah itu sekolah, rumah tangga, persahabatan, kesehatan, pekerjaan atau dalam usaha, semua itu adalah ujian kehidupan. Bagi yang sedang sakit jasmani, puyeng kepalanya, mentok karirnya, sedang merugi atau ditipu usahanya, semua itu hanya ujian hidup. Jangan bersedih, tetap bersyukur dengan ceria semangat dan ditingkatkan sabar tawakal ikhtiarnya, tetaplah memberi sesuai dengan kapasitas amanah yang Allah telah berkahkan kepada kita.

Yuk kita terus meminta hanya kepada Allah. Sang Maha Pengasih tahu betul apapun yang terbaik dan dibutuhkan serta saat yang tepat untuk kita. Pertolongan Allah akan datang, bahkan dengan aneka cara, waktu dan bentuk yang bahkan hal yang tak pernah kita bisa duga. Nikmat mana lagi yang harus kita dustakan dalam hidup ini. Allah itu baik banget, Maha Pemberi.

“Ah, aku ini siapa, apa sih yang bisa aku kasih”. Padahal ingin memberi itu
adalah fitrah, jadi memang gak perlu menahan diri. Bukan materi dan manfaat
secara material saja, tapi yang namanya memberi walau sedikit akan menumbuhkan cinta dan persaudaraan. “Memberi ikhlas sebutir kurma pun akan menghalau dari api neraka. Maka saling menghadiahilah, niscaya kalian akan saling mencintai, dan menghilangkan kedengkian”, begitu Rasulullah bilang.

Cerita membantu dan memberi, saya yakin betul banyak teman-temanku ini udah pada jagonya, Temu kangen dan traktiran, bakti sosial bersama, kalau sakit saling menjenguk, kepada yang wafat datang bertaziah, yang lahiran ditengokin, yang putus asa disemangatin, souvenir luar negeri kacang batam udang sambel kerupuk keripik bandeng tahu-tahu nemprok di meja, dipinjemin mobil, ditemenin wisata kota, bahkan yang dinas keluar kota pun sempat-sempatnya extra bagasi nenteng dus-dus bertuliskan Bhek Putra, duh duh duuuh, luar biasa.

Subhanallah, semoga ini bisa terus kita lakukan. Dalam kapasitas apapun dan
sekecil apapun, tetaplah memberi, jadikan semua itu tabungan EPOS yang pasti Allah cairkan pada saat yang tepat, bahkan dari arah yang tak pernah kita duga.

Iklan




Inner Beauty

30 03 2010

Inner Beauty, seolah melekat erat mutlak wanita menjadi sang pemilik, padahal ?

Allah sempurnakan ciptaan atas Manusia, pada geliatnya selalu dikendalikan 2 hal, hati dan akal, dan yang pandai menahkodai keduanya maka akan punya kepribadian yang gagah nan anggun. Hati dan akal selalu bersinergi, terlihat dalam keduanya karakter manusia terbentuk, dan membentuk inner beauty seseorang.

Inner beauty, semoga kita bukanlah golongan penafsir sempit dengan mengartikan hanya dua buah kata inner dan beauty saja.  Itu bukanlah sesuatu yang digemborkan kaum barat, yaitu ukuran-ukuran mutlak penampilan luar para wanita sebagai si pemilik. Bukanlah kecantikan ala bahasa jahiliyah dunia all about 3S : sex, smooth and size appearance. Ini adalah kecantikan berupa jiwa yang menyangkut hati, niat, akal dan nafsu, juga faktor lainnya seperti ilmu pengetahuan, kebersihan, kesucian, pakaian hingga masalah pergaulan, yang seharusnya tidak saja dilekatkan kepada wanita, namun juga kaum hawa sebagai makhluk ciptaan Allah, muslim dan muslimah.

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah (QS 3 :110)

Tidak saja urusan mematut diri seorang istri dihadapan suaminya atau sebaliknya, tapi juga kreasi mu’amalah dunyawiyah yang ijtihadi dapat ditempuh oleh setiap manusia, wanita dan pria, dengan banyak cara yang tidak menyimpang dari akidah, syariah dan akhlak Islam.

Tanpa harus bernarsis ria, dengan inner beauty tanpa sadar kita telah berjuang dan memperjuangkan hak kita untuk hidup aman dan nyaman dengan pandangan dan cara kita sendiri dalam menghayati kehidupan. Tidak lagi diatur pandangan material yang menipu, toh pada dasarnya kita juga tidak lagi mau ditipu. Kita akan menjadi cerdas, dalam, komprehensif, dapat menjawab setiap tantangan dengan dalil dan ilmu serta rujukan yang selalu bersumber pada firman, bukan “kata si anu atau si itu”.

Inner beauty itu ghaib, karena banyak sekali yang tidak mampu melihat keberadaannya, tapi begitu mudah ditangkap oleh panca indera dan qalbu kita yang terasah bersih. “Ah masa iya sih, hari gini masih ngomong yang ghaib2, yang fakta2 aja. yang tidak terlihat, tidak terdengar, tidak dapat dirasakan itu ya gak ada !” Bila tak sedikit banyak orang berkata demikian, lalu dimanakah letak cinta, rindu, kasih sayang, kepercayaan, keberanian? Yang sering kita lihat hanyalah tanda cinta fisik dan tanda percaya yang narsis dapat dibuktikan. Padahal cinta dan percaya adalah sesuatu yang ghaib.

Kejujuran, ketulusan, keikhlasan, itulah Inner beauty. Itulah Rasulullah, seorang lelaki yang amanah, jujur dan bertanggungjawab. Mengapa Beliau larang lelaki menggunakan sutera dan emas? Karena ingin kaum lelaki ber-inner beauty. Tidak bangga dengan penampilan fisik, beliau ingin kita tampil dengan keindahan dari dalam, akhlak yang dikemas indah dengan jiwa manusia, rukun Islam sebagai pesona ibadah, ilmu pengetahuan, kebersihan dan kesucian, etiket dan etika yang penuh dengan kesederhanaan.

Keikhlasan seorang budak hitam dari Abu Thalhah sahabat Rasul yang terkaya dan dermawan. 3 buah roti sebagai upahnya seharian, selalu dia berikan pada anjing yang kelaparan. Dia tidak kecewa kehilangan haknya, karena yakin itu adalah ketentuan Allah. Itulah inner beauty, si budak hitam.

Imam Ali yang begitu mudah jatuh hati pada si miskin, membelah satu buah delima yang hanya itu mampu dia belikan untuk istrinya tercinta Fatimah yang sedang sakit. Saat pulang dan menemukan suami tercinta membawa hanya sepotong kecil delima, tak sedikitpun Fatimah marah, malah mendoakan kesembuhan baginya dan si miskin. Dengan hati, dia berbelas kasih kepada si miskin, dengan akal dia sikapi hanya separuh pemberian untuk si miskin, karena dia memiliki tanggungan seorang istri yang sakit dan membutuhkan pula delima. Itulah inner beauty.

Nabi Yunus, yang berjaya dan berjabatan kepala logistic, namun tetap berpuasa dan membiasakan diri berlapar. Saat seseorang bertanya padanya mengapa, dijawabnya” aku khawatir jika aku kenyang akan melupakan orang yang kelaparan”. Itulah inner beauty.

Abubakar, mengerjakan pekerjaan bukan karena ingin dipuji orang, hanya semata mematuhi perintah Allah, dia meneruskan kasihsayang menantunya Rasulullah kepada si pengemis buta yahudi, menyuapi makan walau dia tahu bagaimana menantunya selalu dicerca dihina dimaki habis oleh si pengemis. Saat tahu rasulullah wafat, maka si pengemis pun bersaksi atas nama Allah. Itulah inner beauty.

Rasulullah, yang tetap diam, bahkan menjenguk si sakit suruhan Abu Lahab yang selalu meludahinya saat pergi dan pulang ke masjid. Sampai akhirnya dia merasa malu dan berikrar menjadi muslim. Itulah inner beauty.

“Rasulullah, seorang yang sangat cemerlang, wajahnya tampan, berkelakukan baik, dahinya indah, bola mata besar alis yang lebat. Lehernya panjang, suara berwibawa, berjanggut tebal. Saat berbicara serasa memenuhi ruangan, indah tampak dari jauh, lebih indah dilihat saat dekat. Kata-katanya manis terdengar jelas, dimengerti titik komanya, tidak terlalu cepat ataupun lambat hingga mudah dipahami. Perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi pun pendek. Punya banyak teman yang mengelilingi, saat berkata semua akan mendengarkan, saat memerintah semua kan berlomba untuk mengerjakan”. Kombinasi yang indah antara jiwa manusia, pesona ibadah, ilmu pengetahuan, kebersihan dan kesucian, etiket dan etika yang penuh dengan kesederhanaan, itulah inner beauty.

“Demi Allah, sungguh Allah tidak memberikan pengganti seorang wanita untuk menjadi istriku yang lebih baik dari Khadijah. Dia beriman kepadaku saat orang mengingkari kenabianku, dia benarkan aku saat orang-orang mendustaiku, dia membantuku dengan harta kekayaannya saat orang lain tidak mau memberiku, dari rahimnya Allah anugerahkan anak-anak bagiku tidak dari wanita-wanita lainnya”. Rasulullah tetap menyebut kebaikan dan keluhuran budi Khadijah, suami istri yang ideal, penuh inner beauty.

Jadi ingat, perilaku salah seorang kerabatku saat menghadiri acara-acara keluarga, beliau ungkapkan bahwa sangatlah gengsi menjinjing tas bayi darah dagingnya sendiri, berjalan mendahului didepan, sendirian berlenggang tangan. Sementara istrinya kerepotan menggendong bayi yang menangis didepan dadanya, plus tas bayi dibahu kanan, tas wanita berisi susu dot dipers emergency tools di bahu kiri, jari kiri mengait keresek oleh-oleh untuk keluarga besar, dan kedua tangan memegang bingkisan kue, laksana gurita bertangan 8!!!! …hhhhh, inner beauty ? or the beast?????

Ah, jadi ingat saat tadi masuk sebuah ruang majlis, sepasang suami istri rela yang duduk berdampingan rela berpisah, sang suami tersenyum seraya memberikan kursinya kepada saya yang kepayahan sendirian menggendong si kecil yang tertidur dan beratnya minta ampun. Si istri pun sibuk membantu melepaskan tas dan aneka atribut di tangan saya. Terlirik, mata sang istri menyapa ikhlas dan lalu tersenyum, bahkan dia sempat membantu membetulkan hijab panjang saya yang tertarik bobot badan si kecil. Mukanya tanpa sapuan bedak dan sejenisnya, namun akhlak perilakunya itu…aih, cantik sekali dia.  Itulah inner beauty.

Sang suami berdiri menyender tembok selama 2 jam majlis berlangsung, menyimak khusuk materi majlis. Saat si kecil batuk, sang suami dengan sigap membantu mengambilkan botol air minum yang sulit saya jangkau dibawah kursi. Dia sorongkan botol air minum dengan tangan kiri, Allahuakbar, ternyata tangan kanannya tidak ada. Namun dimata dan hati saya semua itu terlihat sangat indah, tak satupun kecacatan terlihat, sangat sempurna….itulah inner beauty.

t.e.h.l.e.n.i.

malam minggu-an yang selalu berkesan, terimakasih kang Abik, mbakyu Neno, bunda guru Durrah Baraja atas undangan majlisnya… mohon maaf bukunya masih belum aja tamat dibaca, maklum he he 🙂





Kau Uruslah Sendiri Anak Perempuanmu Itu !

30 03 2010

“Aku sangat kecewa karena kau tak bisa memberikan aku anak lelaki !”

Sambil mengusap perut buncitnya, sang perempuan tenang menjawab, “Astagfirullah mas, janganlah kau kufur atas segala nikmat Allah. Siapa yang kau kira punya kuasa untuk memberi anak laki-laki atau peremupan kepada kita? Apakah kita bisa tentukan pilihan atas apa yang kita senangi?”

“Allah pemilik kerajaan langit dan bumi. Dia yang mencipta semua yang dikehendaki. Dia beri anak perempuan atau anak perempuan atau pasangan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.Dia jadikan mandul siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Tahu, Dia Maha Kuasa”.

“Aku tahu, aku tak boleh kecewa dengan apa yang Dia telah berikan. Aku tahu Nabi Luth tidak dikaruniai anak laki-laki. Aku tahu Nabi Ibrahim pun tidak dikaruniai anak perempuan. Aku tahu Nabi Yahya dan Nabi Isa pun tidak dikaruniakan anak seorangpun. Tapi aku ini bukan nabi !” lanjut sang lelaki sambil membanting badannya ke sofa.

“Astagfirullah mas, janganlah kau berlaku layaknya jahiliyah yang dicela Allah. Bercerminlah. mukamu merah padam karena amarahmu. kau bersembunyi dari orang banyak. kau merasa hina. atau bahkan kau akan lanjutkan dengan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah?”

“Andai saja kau paham, di sana ada janji besar Allah, surga bagi hamba-Nya yang berbuat kebaikan kepada anak perempuannya.”

“Andai saja kau dengarkan khutbah jumat’mu di masjid,  tentang seorang wanita miskin dan kedua anak perempuannya yang diberi Aisyah tiga buah kurma. wanita miskin lalu memberi setiap anaknya masing-masing sebuah kurma. Saat satu buah lagi diangkat ke mulutnya, kedua anaknya meminta kurma itu, dia bagi dua kurma yang semula hendak dimakannya untuk kedua anaknya. Ketakjuban itu diceritakan Aisyah, dan Rasulullah bersabda “sungguh Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka.”

“Mas, andai kau pahami lagi sabda Rasulullah,  siapapun yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan berdampingan dengan beliau”.

“Kamu kan tahu keluargaku orang terpandang, ningrat!!! anak lelaki adalah penerus generasi kami, pemangku keturunan adat kami ! rasanya aku seperti liliput dipandang sinis keluarga besarku, semua orang sepertinya mencelaku, bahkan nasehat ramuan ini itu dari mereka seperti ejekan bagiku. tak seorang pun memperhatikanku, bahkan orangtuaku hanya begitu penuh perhatian dan mau menjejakkan kaki ke rumah kakak dan adikku yag sudah memberikan mereka cucu laki-laki saja”

“Astagfirullah mas, itu semua belumlah tentu benar, mungkin hati dan perasaanmu lah yang mempermainkan. jangan kikis imanmu. Semestinya kita bersyukur, menjadikan kenyataan yang ada itu sebagai suatu kebaikan. Husnudzan, kasih sayang Allah pasti selalu lebih besar daripada kasih sayang kepada diri kita sendiri. Allah Maha tahu kebaikan untuk kita daripada kita sendiri. Kita bisa membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, kita bisa suka sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Allah Maha Tahu, kita tidak tahu”

Entah peluh atau sisa air mata yang telah menahun mengering, sambil mengusap pipinya sang perempuani sabar berkata “Di antara kita tak ada yang tahu kalau anak yang kau sesali kehadirannya kelak memberi bakti kepada kita. Di saat usia mereka menanjak dewasa sementara kita merambat senja, mereka menjadi anak-anak yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mencurahkan bakti kepada kita orang tuanya. Dan yang terpenting panjatan doanya sebagai amal shalih yang terus menerus bagi orang tuanya setelah tiada”.

“Aaaaah, aku pusing! lebih baik aku keluar dari rumah ini, mencari istri yang penurut dan tidak sok pintar sepertimu!. itulah yang sering orangtua dan keluargaku bilang padaku. Kau Uruslah Sendiri Anak Perempuanmu Itu !!!. Brakkkk, pintu pun dibanting, menjadi saksi terakhir kalinya sosok sang lelaki terakhir dirumah itu.

Pelan ompol hangat membanjiri daster batik kumal sang bunda, menyadarkan pikiran malamnya yang sempat melayang  ke masa yang selayaknya tak perlu diingat lagi. Sang perempuan memandang dan mengusap pipi montok tubuh mungil kecil disampingnya. Tahun berganti tahun sungguh tak terasa berlalu, menemani sang perempuan sendirian mengandung melahirkan mendidik dan membesarkannya. Allah telah membuat semuanya sedemikian ringan dan mudah.

“Anak shalehah, kaulah utama dari sekian alasan mengapa Allah masih berikan aku hidup”, bisikan halus sang perempuan makin membuai mimpi lelap si kecil.

t.e.h.l.e.n.i.

(sumber : QS Asy Syuuraa: 49-50, QS An Nahl: 58-59, HR. Muslim hadits no. 2630, HR. Muslim hadits no. 2631, QS Al Baqarah: 216, QS An Nisaa’ : 11)

10.02.2010. special dedicated to someone that might u re not a human, but always such a guardian angel to live with me behind…keep fight to learn this universe, my princess.





Wanita Mayoritas Penghuni Neraka ???

26 03 2010

Padahal, begitu banyak sudah disebutkan keistimewaan wanita dalam dalam Al Quran dan Al Hadits, antara lain adalah :

1. Doanya lebih makbul daripada lelaki, karena sifat penyayang yang lebih kuat.
2. Yang shalihah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki shalih
3. Yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seperti orang yang selalu menangis karena takut Allah, dan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
4. Yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama Rasulullah di dalam surga
5. Yang taat berkhidmat dan taat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga, dan dapat masuk dari mana saja pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab. Semua ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya serta menjaga shalat dan puasanya.
6. Yang shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dikehendaki.
7. Yang yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam surga terlebih dahulu daripada suaminya.
8. Yang mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
9. Yang mulai sakit saat bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
10. Yang yang melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
11. Yang menyusui, maka setiap satu tegukan daripada susunya diberi kepadanya satu kebajikan.
12. Yang semalaman tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT. Barangsiapa membawa hadiah dan diberikan kepada keluarganya, maka berpahala seperti beramal amalan bersedekah, dan hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki.
13. Surga itu di bawah telapak kaki ibu
14. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, dan dia ihsan dalam pergaulan dengan mereka, mendidik mereka dengan takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah surga.
15. Jika memanggil ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.
Barangsiapa diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya dan dia berbuat baik pada mereka, maka penghalang baginya daripada api neraka.
16. Aisyah r.a berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab Rasulullah “Suaminya.” ” Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”
17. Dan banyak lagi, wallahuallam.

Tuh kan, ladies so special. Lalu mengapa disebut-sebut wanita mayoritas masuk neraka????
Bukankah surga neraka adalah dua hal yang Allah ciptakan bagi wanita dan lelaki, yang satu tempat tinggal abadi bagi Mukminin, dan satunya bagi musyrikin serta pelaku dosa yang Allah telah larang.

Siapapun yang berusaha terus memahami, tentu sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka Ini fitrah tidak saja untuk kaum lelaki, tapi juga wanita, karena begitu hina nista dan mengerikannya neraka jika menjadi tempat abadi kita kelak, naudzubillah.

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)

“Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.” (tafsir Imam Ath Tabari rahimahullah)

“Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.” (tafsir Ibnu Abbas radliyallahu’anhu)

“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)

Kedahsyatan dan kengerian neraka juga disabdakan Rasulullah dalam hadits shahih Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, “Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” Astagfirullah, jika api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia?

Duh, seram sekali ya. Sekali lagi, bagaimana dengan saya, kami para wanita, yang disebut-sebut sebagai penghuni mayoritas neraka?

Rasulullah bersabda “Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya).

Hadits ini memang tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya, saat sahabat bertanya mengapa demikian, Rasulullah menjawab “Karena kekufuran mereka”. “Karena kufur kepada Allah ya Rasul?”. “Karena kufur mereka terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Ini adalah peringatan keras bagi para wanita yang menginginkan ridha Allah. Tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan surga dengan cara mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan. Dan ini yang banyak kita dapati sekarang ini di tengah keluarga kaum muslimin.

Mereka banyak yang kufur terhadap suami dan kebaikan-kebaikannya, mereka banyak yang Nuzyuz, durhaka terhadap suami. Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya yang sering dijumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin, yaitu durhaka ucapan, durhaka perbuatan, diwarnai dengan sifat syirik, meninggalkan shalat, namimah atau mengadu domba, banyak bicara dalam keburukan.

Dalam hadits lainnya, Rasulullah menjelaskan “ …dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang, melenggak-lenggokkan kepala laksana punuk onta karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya. (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu).
Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan dunia, berpaling dari akhirat karena kurang akal mereka dan mudah tertipu kesenangan dunia sehingga lemah untuk beramal.

Wanita banyak yang Tabarruj, menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. Padahal Allah telah melarang “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31).

Perbuatan seperti ini secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat mampu menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun, terlebih bagi yang lemah tanpa benteng ilmu Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam hadits, Rasulullah sendiri menyatakan fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita. Sejarah sudah berbicara betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia tanpa iman kepada Allah hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Berapa banyak persaudaraan antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.

Dari Imran bin Husain dia berkata, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Jalan menuju neraka memang indah, penuh syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.

Rasulullah menuntun satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)

So, janganlah kita para wanita merasa ditakdirkan beda, Allah maha adil, kitia punya kesempatan yang sama dengan kaum lelaki untuk masuk surga, demikian pula dalam hal masuk neraka. Kembali lihat dan lakukan 17 hal diatas demi meraih pahala dan surga, hindarilah semua kekufuran dan kedurhakaan itu. Mari kita taubat, dan terus belajar untuk menjadi wanita shalihah berwangi surga, amin.

Wahai kaum lelaki, bantu kami para wanita agar dapat lebih berhati-hati dalam hidup.
Dukung kami yaaaa….:)))





Kau Uruslah Sendiri Anak Perempuanmu Itu!

24 03 2010

“Aku sangat kecewa karena kau tak bisa memberikan aku anak lelaki !”

Sambil mengusap perut buncitnya, sang perempuan tenang menjawab, “Astagfirullah mas, janganlah kau kufur atas segala nikmat Allah. Siapa yang kau kira punya kuasa untuk memberi anak laki-laki atau peremupan kepada kita? Apakah kita bisa tentukan pilihan atas apa yang kita senangi?”

“Allah pemilik kerajaan langit dan bumi. Dia yang mencipta semua yang dikehendaki. Dia beri anak perempuan atau anak perempuan atau pasangan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.Dia jadikan mandul siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Tahu, Dia Maha Kuasa”.

“Aku tahu, aku tak boleh kecewa dengan apa yang Dia telah berikan. Aku tahu Nabi Luth tidak dikaruniai anak laki-laki. Aku tahu Nabi Ibrahim pun tidak dikaruniai anak perempuan. Aku tahu Nabi Yahya dan Nabi Isa pun tidak dikaruniakan anak seorangpun. Tapi aku ini bukan nabi !” lanjut sang lelaki sambil membanting badannya ke sofa.

“Astagfirullah mas, janganlah kau berlaku layaknya jahiliyah yang dicela Allah. Bercerminlah. mukamu merah padam karena amarahmu. kau bersembunyi dari orang banyak. kau merasa hina. atau bahkan kau akan lanjutkan dengan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah?”

“Andai saja kau paham, di sana ada janji besar Allah, surga bagi hamba-Nya yang berbuat kebaikan kepada anak perempuannya.”

“Andai saja kau dengarkan khutbah jumat’mu di masjid, tentang seorang wanita miskin dan kedua anak perempuannya yang diberi Aisyah tiga buah kurma. wanita miskin lalu memberi setiap anaknya masing-masing sebuah kurma. Saat satu buah lagi diangkat ke mulutnya, kedua anaknya meminta kurma itu, dia bagi dua kurma yang semula hendak dimakannya untuk kedua anaknya. Ketakjuban itu diceritakan Aisyah, dan Rasulullah bersabda “sungguh Allah telah menetapkan baginya surga dan membebaskannya dari neraka.”

“Mas, andai kau pahami lagi sabda Rasulullah, siapapun yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan berdampingan dengan beliau”.

“Kamu kan tahu keluargaku orang terpandang, ningrat!!! anak lelaki adalah penerus generasi kami, pemangku keturunan adat kami ! rasanya aku seperti liliput dipandang sinis keluarga besarku, semua orang sepertinya mencelaku, bahkan nasehat ramuan ini itu dari mereka seperti ejekan bagiku. tak seorang pun memperhatikanku, bahkan orangtuaku hanya begitu penuh perhatian dan mau menjejakkan kaki ke rumah kakak dan adikku yag sudah memberikan mereka cucu laki-laki saja”

“Astagfirullah mas, itu semua belumlah tentu benar, mungkin hati dan perasaanmu lah yang mempermainkan. jangan kikis imanmu. Semestinya kita bersyukur, menjadikan kenyataan yang ada itu sebagai suatu kebaikan. Husnudzan, kasih sayang Allah pasti selalu lebih besar daripada kasih sayang kepada diri kita sendiri. Allah Maha tahu kebaikan untuk kita daripada kita sendiri. Kita bisa membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, kita bisa suka sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Allah Maha Tahu, kita tidak tahu”

Entah peluh atau sisa air mata yang telah menahun mengering, sambil mengusap pipinya sang perempuani sabar berkata “Di antara kita tak ada yang tahu kalau anak yang kau sesali kehadirannya kelak memberi bakti kepada kita. Di saat usia mereka menanjak dewasa sementara kita merambat senja, mereka menjadi anak-anak yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mencurahkan bakti kepada kita orang tuanya. Dan yang terpenting panjatan doanya sebagai amal shalih yang terus menerus bagi orang tuanya setelah tiada”.

“Aaaaah, aku pusing! lebih baik aku keluar dari rumah ini, mencari istri yang penurut dan tidak sok pintar sepertimu!. itulah yang sering orangtua dan keluargaku bilang padaku. Kau Uruslah Sendiri Anak Perempuanmu Itu !!!. Brakkkk, pintu pun dibanting, menjadi saksi terakhir kalinya sosok sang lelaki terakhir dirumah itu.

Pelan ompol hangat membanjiri daster batik kumal sang bunda, menyadarkan pikiran malamnya yang sempat melayang ke masa yang selayaknya tak perlu diingat lagi. Sang perempuan memandang dan mengusap pipi montok tubuh mungil kecil disampingnya. Tahun berganti tahun sungguh tak terasa berlalu, menemani sang perempuan sendirian mengandung melahirkan mendidik dan membesarkannya. Allah telah membuat semuanya sedemikian ringan dan mudah.

“Anak shalehah, kaulah utama dari sekian alasan mengapa Allah masih berikan aku hidup”, bisikan halus sang perempuan makin membuai mimpi lelap si kecil.

t.e.h.l.e.n.i.

(sumber : QS Asy Syuuraa: 49-50, QS An Nahl: 58-59, HR. Muslim hadits no. 2630, HR. Muslim hadits no. 2631, QS Al Baqarah: 216, QS An Nisaa’ : 11)

10.02.2010. special dedicated to someone that might u re not a human, but always such a guardian angel to live with me behind…keep fight to learn this universe, my princess.





Laa ilaha illallah…Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun

1 10 2009

Sungguh segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali padanya. Bencana gempa beruntun 2 hari ini dan entah sampai kapan hak preogratif Allah kepada kita ini. Hakekatnya Allah menyadarkan kita kembali akan makna hidup dunia yang sungguh fana dan singkat. Dalam hitungan detik, disaat banyak insan manusia terlena rutinitas dunia, batu tersuruk api melalap air melebur bumi menggoyang merontok bangunan dan segala yang manusia koleksi dan perindah, serta sungguh banyak nyawa terenggut, singkat dan pasti. apa yang telah dan akan kita lakukan?

Teringat sebuah pertanyaan untuk direnungkan, tatkala kita mengalami kondisi yang pasti datang giliran kita tersebut, apa yang kita ingin agar orang lain katakan dan lakukan kepada kita? siapa sahabat dunia yang akan segera mendekat kepada kita, saudara kah, sahabat yang setia, orangtua yang penuh kasih sayang, anak yang shalihah, atau bahkan gerombolan manusia yang selama ini tak pernah sekalipun kita kenal? perbuatan hidup kitalah yang akan menjawabnya.

Tak akan kita pernah rugi, bahkan akan selalu penuh dengan keberuntungan saat kita ulang terus pertanyaan dan penegasan diri, jawaban apa yang didapat saat merenung dalam tentang esensi hidup. Apa hakikat hidup? kenapa kita hidup? untuk apa kita hidup? mau kemana kita setelah hidup? apa bekalnya? kita isi apa hidup selama ini? kita hidup karena siapa? siapa yang mencipta dan mempunyai kita? sungguh, saya sendiri malu dan sulit untuk menemukan jawabannya, pertanyaan-pertanyaan yang selalu berebut bermunculan dimanapun kapanpun, karena semua itu ada didalam dasar lubuk hati terdalam kita…….yaitu qalbu, sebuah tempat yang terjaga kemurniannya, di nurani makhluk yang pernah berkata: “Aku bersaksi” ketika Allah swt mengatakan:”Akulah Tuhanmu.” (Al-A’raf:172).

Pertanyaan selanjutnya, mau dan bersediakah kita meluang waktu sebentar saja untuk menemukan satu saja jawaban muara ketauhidan dari semua pertanyaan itu?

Berhikmat dan bertaubat, dunia dan semua isinya termasuk kita, pasti kembali pada-NYA “Akulah Tuhanmu”, cepat atau lambat…





Jangan Mudah Lupa

1 10 2009

Sahabat, musim haji sudah tiba. saudara2 kita yang telah mendapatkan panggilan tengah sibuk mempersiapkan diri untuk bertamu ke Baitullah. Persiapan janganlah terlalu disibukkan dengan urusan JASMANIAH saja, matching set baju putih lengkap dari ujung rambut sampai ke ujung kaki bahkan sampai ke kantong batunya :), pernak pernik ini itu yang sebenarnya tidak krusial bisa mudah didapat disana, perbekalan isi perut yang pada akhinya mubazir dikalahkan kenikmatan air zamzam yang melimpah. Persiapkanlah rohani kita, bekal ilmu yang akan membawa langkah kaki disana dengan penuh keyakinan, kepasrahan dan ketawakalan. Luruskan niat, untuk apa kita melangkah raga disana ?

Semua persiapan tentu kita niatkan semata untuk menyempurnakan rukun islam dan menunaikan setiap detail rukun haji, menjadi tamu Allah yang terbaik dengan jamuan terbaik pula. Tidak sedikit yang telah BERKALI-KALI terpilih menjadi tamu Allah, lupa diri takabur sombong dan riya. Hanya kuasa Allah lah yang telah memberikan kita kesempatan berkali-kali menjadi tamu istimewa-nya, hanya Allah lah yang memampukan kita untuk rampungkan seluruh manasik hadi dari mulai umrah sampai tawaf wada. Hanya Allah lah yang maha tahu catatan KEMABRURAN haji kita, ampunan segala dosa hina kita, perlindungan dan keselamatan setiap langkah perjalanan kita.

Tanda-tanda kemabruran, diantaranya Imam Hasan al Bashri rahimahullah sebutkan, haji yang mabrur adalah agar ia pulang dari ibadah haji menjadi orang yang ZUHUD dalam kehidupan dunia, dan mencintai akhirat.

Zuhud bukanlah orang yang hanya ibadah di masjid saja, tak mau bekerja mencari harta dan nafkah keluarga, tapi zuhud adalah tidak diperbudak harta, dunia boleh ada di tangan tapi tidak di hatinya, aktifitas dunia tak pernah melalaikan ingatannya kepada Allah, tepat selalu SHALAT lima waktu, tidak putuskan SILATURAHMI, semakin rajin menuntut ILMU mengamalkan dan mendakwahkan, tidak melupakan TANGGUNGJAWAB kepada KELUARGA, mendidik anak istri. Zuhud berarti berpenghasilan dari yang HALAL bukan hasil renten, riba, suap, korupsi, mencuri, judi, pungli, memeras, menipu, memakan hak orang lain.

Tanda kemabruran kedua adalah menjadi lebih baik dari sebelum berhaji, dalam hal TAUHID. Masih suka pergi ke dukun untuk minta kaya, anak, jodoh, pangkat dll, masih suka menyembelih sapi untuk tumbal atau sesajen, percaya ramalan bintang, mengkeramatkan keris jimat dan sapi saat sepuluh Muharam, meruwat bumi, mengkutak kutik hitung hari pesta, meyakini nasib sial diwaktu2 tertentu, segera tinggalkanlah perbuatan SYIRIK tersebut. “Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu benarkan apa yang dikatakan, maka ia telah kafir dengan apa yang telah diturunkan kepada Muhammad” demikian sabda Rasulullah.

Perbaiki muamalah kita dengan ORANGTUA yang telah melahirkan dan atau membesarkan kita sejak kecil, jangan menyakiti hati mereka, berbakti dan perlakukan mereka sebaik mungkin. Jika telah meninggal, bukan ziarah kubur sekar kembang siram air yang mereka harapkan, tapi hanya doa doa dan doa kita setiap saat dimanapun kita berada.

Para SUAMI sang pemimpin rumah tangga, perbaikilah muamalah dan berlemah lembut kepada anak istri, lakukan hal-hal yang menyenangkan istri sepanjang tidak bertentangan dengan syariat, terus timba ilmu dan lebih pintar sehingga bisa membimbing anak istri, didik anak istri dengan untaian nasihat, bawa ke majlis taklim, belikan buku dan kaset yang bermanfaat, jadilah teladan bagi mereka. “sebaik-baik kalian para suami adalah yang terbaik kepada keluarganya” demikian sabda Rasulullah.

Para ISTRI, taatlah pada suami dalam hal yang makruf saja, bila hal maksiat tidaklah ada ketaatan kepada makhluk dan perangilah atas perintah Allah Al Kahliq.

Para ORANGTUA, perbaikilah pendidikan kepada anak-anak, karena mereka amanat yang akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhir. Didik dengan contoh teladan yang baik, sekolahkan ditempat yang baik, awasi pergaulan mereka, doakanlah mereka selalu agar Allah lindungi dan jaga mereka dari segala kejahatan dan keburukan.

Para MUSLIMAH, wanita yang diistimewakan Allah, perbaikilah dalam berbusana, tutuplah aurat dan jangan diperlihatkan kepada lelaki yang bukan mahram kita. “Katakan kepada istri2mu, anak2 perempuanmu, dan istri2 orang mukmin, ulurkan jilbab keseluruh tubuh agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu. Allah maha pengampun dan penyayang” demikian Allah qalamkan pada Al Ahzab 59. “ada 2 golongan penduduk neraka, pertama kaum yang punya cambuk untuk memukul manusia, dan kedua adalah wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk unta. mereka tidak masuk surga bahkan mencium bau surga” demikian sabda Rasulullah diriwayatkan Muslim.

Banyak terlihat jamaah haji wanita yang berpakaian demikian, saat mereka menangis berdoa dan mohon ampun saat wuquf arafah, apakah kita akan kembali ulangi dosa-dosa kita? Semoga jamaah haji wanita kita menjadi teladan kaum muslimah di tanah air, yang sedang dilanda dekadensi akhlak moral. Didiklah putri putri kita berbusana muslimah, nasihati mereka agar tidak keluar rumah bercelana pendek, atau celana panjang ketat dengan perut yang terlihat. Banyak para jamaah wanita berdandan bersolek berparfum, dan semoga semua KESHALIHAN itu dipersembahkan untuk para suami SHALIHnya.

Tanda kemabruran lainnya, adalah memperbaiki diri bertanggungjawab dalam masyarakat. Saling memberi ilmu bermanfaat, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, saling bekerjasama dalam takwa. Tak sedikit muslim Indonesia MURTAD dari islam karena kelengahan dan kelalaian kita, karena lemah iman ditambah lemah ekonomi, kita tidak bisa diam dan berpangku tangan, perbuatlah sesuatu sesuai kemampuan kita. Jika ilmu kita terbatas, ajak saja dan fasilitasi mereka menghadiri majelis ilmu, bagikan buletin buku kaset bermanfaat. Jika malas bekerja berilah motivasi, jika menganggur buatlah lapangan kerja, jika putri2 kita beranjak dewasa carikanlah suami yang baik KEISLAMANnya jangan biarkan mereka menikah dengan lelaki kafir atau islam KTP. Anda yang pejabat, jangan halangi atau persulit orang-orang yang ikhlas mengajak manusia untuk menTAUHIDkah Allah dan tidak berbuat syirik, ikuti sunnah rasul dan tidak berbuat bid’ah. Para orangtua yang putrinya berjilbab, dukunglah dan banggalah terhadap anak anda yang taat kepada ALlah, semoga Allah hiasi putri anda dengan akhlak yang baik pula.

Para jamaah yang berlebihan harta, beramal jariyah dengan membelikan kitab-kitab bermanfaat bagi para ustadz di tanah air, dan masih banyak amalan lain yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri dan masyarakat.

Semua tanda kemabruran itu, bukankah untaian doa dan tangisan mohon ampun kita saat wukuf di Arafah? janganlah mudah lupa, dan biasanya begitu mudah terlupakan saat kita kembali tenggelam dengan gemerlap hiruk pikuknya tanah air. Lalai kepada diri sendiri, lalai kepada keluarga, lalai kepada masyarakat, lalai menasihati saudara kita sendiri…

Jangan mudah lupa…