Rica-Rica

10 01 2011

The Leny bagi resepnya dwoong!
Teh Leny boleh di share di sini resep peda kukus sama terong rica-rica sama sekalian pak Untung resep zupa zoupnya! Wasalam Didin razani…

Re: The Leny bagi resepnya dwoong!
Mauuu…(makanan lagi, waktunya makan siang nih). Laper..laper..laper Xixi.Emuharim.

Re: Pedagang memberi resepnya? Kenapa tidak!
Pagi gini udah bahas terong rica sama peda kukus ni teh.Emuharim.

Komentar-komentar sahabat ini yang membuat saya punya utang selama weekend kemarin, dan akhirnya hari ini baru bisa berbagi resepnya. Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba ya kawan…

Bumbu I :

  • 3 siung bawang merah
  • 6 siung bawang putih
  • 5 cabe rawit merah
  • 5 cabe merah
  • 4 cm jahe

Bumbu II :

  • 3 siung bawang merah
  • 6 siung bawang putih
  • 5 cabe rawit merah
  • 5 cabe merah
  • 2 batang serai
  • 1 lembar daun pandan
  • 5 lembar daun jeruk

Memasak Bumbu Rica :

  • Bumbu I diulek halus
  • Bumbu II dirajang saja, lalu ditumbuk kasar sebentar, supaya rasa rempahnya keluar
  • Bumbu I ditumis dengan minyak goreng secukupnya, sampai wangi. Masukkan bumbu II, tumis bareng sampai wangi
  • Tambahkan air, garam, gula putih, merica, secukupnya sesuai selera.
  • Setelah matang, matikan api. Peras 1 jeruk nipis, campurkan.

Bahan Utama :

  • Bisa aneka daging hewan halal, atau aneka sayuran seperti Terong Ungu favorit saya
  • Terong : 1 kg dicuci bersih. Belah 2 sampai ujung dan jangan terlepas dari tangkai. Goreng sebentar dalam minyak panas. Angkat dan tiriskan
  • Ayam bebek/ sapi kambing/ ikan: 1 kg dipotong iris sesuai selera, dicuci bersih. Rendam 10 menit dalam air mendidih untuk mengeluarkan racun septic dan kotoran buruk. Tiriskan, lumuri air lemon + parutan jahe + minyak wijen, diamkan 10 menit. Goreng matang dalam minyak panas. Angkat dan tiriskan.
  • Bahan utama disiram bumbu rica matang, atau bisa diadukcampurkan
  • Taburi bawang merah dan bawang putih goreng diatasnya.

Sedikit tips supaya masakan enak lezat dan menyehatkan :

  • Bahan didapat dengan cara atau uang halal
  • Bismillah dan berdoa sebelum mulai memasak, niatkan untuk kebaikan, misal untuk ibadah memberi keluarga gizi yang baik/ menjamu dan menyenangkan tamu
  • Memasak dengan ikhlas riang gembira penuh senyum, tanpa ada beban apalagi marah-marah
  • Menjaga kebersihan bahan tempat dan alat masak, salah satunya selalu dicuci bersih.
  • Semakin segar bahan, semakin baik hasil masakan
  • Gunakan media spatula kayu untuk mengambil dan mengolah bahan. Semakin minimal tersentuh langsung tangan, makanan akan semakin awet dan tidak basi

Resep ini saya dapat dari seorang kawan orang Makasar saat kuliah dulu.  Olahan resep saat ini menjadi salah satu menu buffet favorit pengunjung resto yang dikelola sahabat kami di daerah Kampung Baru – KL.

Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba ya kawan.

Iklan




Ikhlas, tepat dan adil, bukanlah hal mudah. Just keep growing up with.

14 11 2010

600 lembar alas tidur tikar besar. 1000 box susu bubuk anak. 600 roll biskuit bayi siap saji. 1500 pakaian baru anak-anak. 200 kotak susu cair siap minum. Tak disangka banyak amanah pada kali ini yang harus tersampaikan pada korban pengungsian merapi. Sampai rabu malam masih ditambah lagi 300 tas sekolah. 500 paket isi crayon warna buku gambar buku cerita mainan lego (yang ini saya jadikan tugas mahasiswa kumpulkan dan dapat nilai tambah he he), serta 1500 botol tetes mata dan curcuma dari sahabat dokter.

Bismillah, dari niatan yang terus urung sejak beberapa minggu lalu, kali ini saya paksakan diri untuk ikut serta, melihat langsung kondisi disana, sekaligus checking sekian donasi rutin yang telah disalurkan ke frontliner yang berbagai donator percayai disana. Kamis pukul 10.00 ngepot sebentar menghabiskan kekuatan rupiah yang tersisa ke Indogrosir Cipinang, dikawal 3 sahabat junior yang baik hati, plus 1 box truk pinjaman dari senior mas Koko melalui pak Jahran.

Kamis 10.00 Ngepot dan sauna belanja di Indogrosir

Kamis 11.00 Bhama, Gregg, Rio, bantu pinjam setirkan truk, dan angkut gotong muat bongkar

Berkat kepiawaian Komandan Feri dibantu trio junior Roy Gregg Bhama dan duo cleaning service Imam-Deni, semua donasi yang tertumpuk di wisma sudah memenuhi truk. Sayangnya tas sekolah crayon buku gambar mainan buku cerita dan obat-obatan tak mungkin muat lagi di truk, karena jumlahnya sungguh tak diduga banyak sekali dan masih tertumpuk di pondok kelapa.

“Bantuan Merapi” hasil print-an sahabat Wiwik tertempel cantik, 13.00 truk melaju dilepas oleh sahabat Unang, sementara saya sendiri masih sibuk pesan ini itu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang akan tertunda selama 1 hari kedepan.  “Perhatian, seluruh komando perjalanan ada disaya, jangan pada bandel ya” demikian titah kumendan Feri, 15.00 Innova menyusul iringi truk, isinya kumendan Feri, Sukarto, saya dan Aini my guardian angel.

Kamis 14.00 Aini ulangan dan bolos supaya bisa ketemu teman-teman pengungsian

Kamis 21.00 Karto, Eko, Aini, isi bensin

Kamis 22.00 Seluruh komando misi pengantaran ada ditangan Kumendan Feri

Kamis 22.00 Truk dan malaikat kecil penyemangat perjalanan

Kumendan Feri mengambil alih kemudi. Antrian macet panjang perbaikan jalan, dicegat polisi periksa surat kendaraan, 2 kali isi bensin dan cari ATM dan numpang pipis, 3 kali berhenti di pos polisi dan pertigaan untuk bertanya memastikan arah jalan, adalah warna-warni perjalanan jalur tengah kami menuju Jogja.

Jumat 04.00 kepulan asap hitam letusan merapi dipagi hari menyambut kami. Kami sempatkan mampir ke posko jogja untuk minta izin parkir truk sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke TKP.  Shubuh sarapan mandi dan 1 jam saja kami coba pejam mata luruskan badan di kamar 420 dan 421 Hotel Quality yang disediakan sahabat yang baik hati.  30 menit saya sempatkan ke sebelah hotel cari ATM bayar tagihan HP yang sangat krusial diperlukan saat itu, dan cari sedikit oleh-oleh untuk bisa diburu keluarga saat kami pulang, untuk para guru yang sangat mendukung Aini”bolos” jumat demi misi merapi.

Jumat 04.00 , Merapi menyambut dengan letusan dan asap hitam. Jogja kota bersih tanpa asap dan abu.

Jumat 05.00 check in hotel dan mencoba istirahat

Jumat 09.00, Mas Krisna, arsitek, relawan, pemandu

Setelah berkoordinasi dengan sahabat Dayu, dan sahabat Handoko yang standby di Magelang menangani posko utama, 10.00 Jeep merah frontliner mulai memandu van dan dari hotel menuju TKP.  11.00 memasuki Klaten, dijalan raya sudah disambut aparat dan dipandu 2km selanjutnya menuju Balai Desa Jogonalan. Saya tidak terlalu banyak melihat aktivitas dan barak para pengungsi. Beberapa ibu terlihat duduk-duduk didepan rentengan jemuran, puluhan anak-anak bermain dilapangan, dan beberapa kaum prianya gotong royong membantu kami menurunkan bantuan. Aparat desa membuatkan kami surat serah terima barang, Pak Camat Suradi mengucapkan terimakasih atas bantuan yang jauh-jauh sudah diberikan.  “salam buat dek Wiwik ya, itu adek saya loh” he he siap Pak!

Jumat 11.00. Balai Desa Jogonalan, tempat penampungan pengungsi warga lereng merapi

Pak Suradi, Kades Jogonalan

Kaget dan terpukau, memandangi Merapi yang meletup dan berasap, mengarah ke arah Magelang

Mendengarkan cerita Pak Kades

Sebagian isi truk sudah terbongkar

Seorang aparat desa berbaju kampanye, melihat-lihat isi karung baju anak-anak. Insyaallah layak karena semuanya memang baru.

Serah terima dan tanda tangan daftar donasi

Ibu-ibu pengungsi di selasar kanan. Duduk-duduk dan melihat dari kejauhan.

Anak-anak mengisi waktu luang dengan bermain seadanya

Berbeda dengan Jogja Kota dan Klaten Kota yang terlihat normal bersih dan hijau tanpa abu, perjalanan arah Magelang penuh dengan tantangan. Terpaan angin keras dan abu tebal, pohon dan rumah tumbang laksana terlukis sephia, toko dan rumah semua tertutup abu, desa dan kota senyap bak kota mati. Kecepatan kendaraan hanya bisa dipacu 10 – 30km/ jam, pengendara dan motor yang terjatuh jadi pemandangan rutin, sesekali kami harus rem mendadak karena abu gelap yang tiba-tiba menghadang, luar biasa menegangkan.

Abu menyambut perjalanan ke arah Magelang

Angin mengencang, dua motor didepan slip dan terjatuh setelahnya

Abu menderas, kecepatan mobil hanya 10 – 30 km/ jam. Seringkali harus rem mendadak karena tertutup abu tebal.

3 meter jarak pandang maksimal kedepan, ini sudah yang terbagus.Wiper dan water spry tak henti bekerja

Jalanan licin dan berair oleh abu dan hujan

Bahkan 30 menit saya di van harus menunggu jeep dan truk yang terpisah ditengah perjalanan karena kondisi alam yang sedemikian buruknya, sambil mengevakuasi sepupu saya Miga dan bayinya Nayla akibat bencana merapi ini, berjuang mereka berdua menerjang abu untuk bisa janjian bertemu saya di depan pasar muntilan yang sepi tutup tak bernyawa.

Evakuasi sepupu dan bayinya. Rumahnya rubuh. 2 jam terperangkap di reruntuhan mushola pengungsian, akibat 2 jam gempa beruntun. 200 bebek petelur dan ikan2 di dua kolamnya mati semua karena hujan kerikil abu panas. Kebun cabenya gagal panen. 5 hari tanpa listrik. Krisis pakaian bersih dan terserang gatal-gatal.

Bak kota mati, sunyi senyap

Awal rencana “nakal” kami untuk menyelusup ke km10-15 dipandu frontliner terpaksa dibatalkan karena buruknya cuaca dan keterbatasan waktu. Jeep-truk-van merayap pelan di ring km15-20, melewati desa-desa yang tampak mati, berabu, pohon dan rumah bertumbangan, sawah palawija ringsek diterjang kerikil pasir dan abu panas, ya Allah. Kami melaju melewati berbagai desa, Dukun, Gunung Pring, dan Ngasem.

Satu dari sekian puluh pengungsian yang kami lewati. Lebih layak dan beruntung, namun lainnya swadaya dan memprihatinkan

Rumah dan tumbuhan rubuh diterpa angin kerikil pasir abu panas

Air kali berwarna abu penuh pasir pekat. Warga di pengungsian arah Magelang ini mengalami krisis air dan terserang penyakit gatal-gatal

Reruntuhan rumah dan abu yang masih menggulung

Sawah dan pohon semuanya sujud merunduk


Lihat bedanya, pepohonan depan sengaja saya goyangkan dulu debunya

Di desa terakhir, ditengah lautan dan hujan debu, truk dikosongkan muatannya. Kami disambut ratusan warga pengungsi, mereka sukacita, namun sungguh saya melihat wajah-wajah yang nrimo ikhlas dengan tatapan kebingungan.

Sulitnya medan menempuh penampungan swadaya sederhana di pelosok. Bahu membahu membuka akses jalan

Melewati timbunan pohon dan rumah runtuh, seperti kota mati, menegangkan

Bingung terasing mengungsi di kampung orang lain yang sama buruk keadaannya

Tiba di pos terakhir pengungsian swadaya yang jauh terpelosok

Ngasem, para pengungsi malu-malu keluar menyambut

Mata harus terus dipicingkan untuk menahan pedih debu, Aini harus pakai kacamata cengdem yang ikhlas dipinjamkan Karto.

Diterpa angin dan hujan abu, perangkat masker + kacamata pinjaman, sesak dan mata perih

Sesekali saya haris membuka masker untuk bisa berbicara jelas, sekaligus rasa “malu” karena hampir sebagian besar dari pengungsi harus tahan tidak bermasker karena ketidakadaan supply.

Ibu-ibu khusus ditempatkan di mushala, tikar robek dan terbatas digelar. 1 dari 10 saja yang menggunakan masker, memprihatinkan

Beberapa anak-anak datang mengelilingi, sementara Aini sibuk sendiri colek-colek beberapa bayi dan bagi-bagi coklat snack simpanannya, saya didatangi ibu-ibu yang tanpa diminta menceritakan rumahnya rubuh, ternaknya mati, anaknya ada yang patah kaki, dengan wajah nanar tanpa ekspresi, namun terlihat kerlip air mengambang dimata mereka. Demikian pula cerita tragis yang saya dengar dari sepupu. Duh duh, sabar ya, tawakal.

Ibu ratmi dan anaknya, rumah saya rubuh bu, anak saya patah kakinya tertimpa atap kayu saat gempa panjang

Gotong royong pengungsi membantu menurunkan bantuan. Aini dan teman-teman pengungsian ribut ikutan membantu, khas anak-anak

Pak Bambang, Kepala pengungsian setempat, serta warga secara khusus dan khusuk mendoakan segala kebaikan untuk kami dan keluarga sahabat yang sangat peduli. Rasanya malu atas semua doa ikhlas mereka yang tak sebanding dengan apa yang telah kita bantukan. Mereka juga sangat antusias berfoto dengan kami.

Pak Bambang kepala pengungsian swadaya, simbolis menerima bantuan

Heboh ingin foto bersama. Sedikit sekali yang pakai masker, padahal angin dan abu terus mengguyur

Rasanya saya malas untuk beranjak dari sana, ingin cerita-cerita banyak sama ibu-ibunya, ingin main-main lama dengan anak-anaknya. Disana kami berpisah dengan mas Eko supir truk, kami instruksikan untuk segera pulang Jakarta, dan angkut donasi trip kedua.

Sehabis mendengarkan curhat ala wanita bersama pengungsi. Sabar dan tawakal ya ibu-ibu. Walau badai ujian hidup menghadang, keep alhamdulillah keep smiling terus kayak saya

16.00, setelah makan kesiangan (lagi) di mbok berek, kami meluncur pulang.  Sok gaya sok pintar, jalur selatan kami lintasi dengan diskusi berat tasawuf agar menantang mata tetap melek ditengah terjangan lelah dan kantuk yang luar biasa. Setiran ala “Fear Factor” diiring derasnya hujan, menambah lengkap ketegangan dan kepasrahan malam itu. 22.00 saya shalat dikendaraan saja, dan sudah hilang selera dengan ajakan kedua driver handal untuk makan kemalaman di pringsewu wangon.

Sabtu 02.00 alhamdulillah kami tiba di rumah Bandung. Setelah didoping kopi hangat, Feri dan Karto melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Badan rasanya remuk dibanting-banting. Bada subuh saya “pingsan” dan terbangun pukul 11.00, bada duhur “pingsan” dilanjutkan sampai pukul 16.00. Bada magrib saya “pingsan” lagi sampai pagi tadi he he  he. Sebuah SMS masuk dari mas Eko supir“Bu, saya sampai lagi di Jakarta. Barang yang di pondok kelapa sudah masuk truk, bentar lagi saya jalan. Makasih ya bu”. Selamat jalan mas Eko, sampaikan trip kedua titipan kami kesana ya, supaya anak-anak bisa kembali ceria bermain belajar menggambar membaca, hilang trauma dan memanfaatkan kebosanan waktu mengungsi dengan kegiatan edukasi yang sebaik-baiknya.

Sabtu 17.00. Truknya mas Eko siap meluncurkan trip kedua.

Hanya syukur dan syukur, ditengah aneka ragam kewajiban lainnya, Allah telah kuatkan niat dan memberi kesempatan tak terduga untuk bisa menyelusup ke pelosok pengungsian swadaya yang terlantar, bertemu langsung saudara-saudara kita yang sedang berduka dan kebingungan disana. Dari beberapa sample pengungsian saja, mata kasat dan hati saya pribadi berbicara akan banyaknya fakta bantuan yang berbeda dengan aneka berita dan informasi yang dikoar-koarkan, sungguh memprihatinkan. Pelajaran hidup yang sangat berharga, terasa makin kecil saja diri ini, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Sungguh beruntung Allah telah mempertemukan dan mempersatukan kami dengan orang-orang yang amanah dan berjiwa besar, penuh tindakan gak banyak omong, penuh keringanan tangan saling membahu dan membantu yang terbaik tanpa diminta tanpa hitung-hitungan. Semoga benar-benar terlahir semangat Tangan Di Atas, yang sesungguhnya.

Misi sudah berakhir? Semoga masing-masing hati kita menjawab “belum”. Disela isak tangisnya, sepupu salah satu korban nyata menceritakan 1500 an pengungsi di Bentingan dan di titik-titik pedesaan sekitar yang mengungsi swadaya seadanya dan tak terperhatikan, ribuan pengungsi yang saat ini katanya masih tidur ditruk-truk beratap terpal, belum lagi ditempat lainnya, Wasior dan Mentawai yang begitu terasa jauh dari jangkauan jasmani kita. PR besar untuk terus mengasah rasa, saling bantu dengan ikhlas, tepat dan adil, bukanlah hal yang mudah.

t.e.h.l.e.n.i.

Thanks to all keluarga himniers atas kekompakannya selama ini, juga para sahabat lainnya. Om Unang and Blake yang terus update pantau. Jeng wiwik sang debt collector. Pak Sumarna yang direcoki timbunan donasi di wisma. Mas Koko yang minjemin truk box belanja. Cilla dan Vega dengan dedikasinya. Gregg Roy Bhama Imam Deni yang keringetan angkut angkat. Dayu Handoko- Banteng dan Andrias yang sudah direpoti koordinasinya. Mas Khrisna untuk semangat pelosok dan jeep merah kerennya.  Mas Eko supir truk yang digenjot dua kali trip melelahkan sabtu ini.  Sang pemilik van nyaman dan penyedia kamar hotel transit. Simpai Deni yang memfasilitasi pertemuan dan truk boxnya. My guardian angel Aini to lighten my life spirit always high. Especially Sukarto dan Feri yang 24jam full gantian nyetir, banyak dikuras dompet pribadi dan pulsa HP nya, merawat dan menjaga saya dan Aini dengan sangat baik selama perjalanan, kembali tiba selamat dan sehat gemuk bergizi. Keep growing up with!





Claw and Will Claw Thee, Alhamdulillah

27 10 2010

25 Oktober 2010. Senin Yang Indah.

Anak-anak kok ya begitu gampang dibangunkan, tak seperti normalnya. 04.00 mereka masuk toilet mandi dan berpakaian seragam sendiri. Martabak wortel dan jus jambu menu sahur sehat disikat tanpa banyak protes. Shubuh pun terasa lebih khusyuk. 06.00 melaju tanpa hambatan. Menunggu pintu dibuka, 1 jam menuju 08.00 kami santai Dhuha di masjid Imigrasi Jaktim, adeeem. Alhamdulillah.

Nomor antrian 25 sampai 32 kami borong. Anak-anak begitu excited, mau ngantri sendiri di kasir – bayar – bawa berkas – foto dan diinterview petugas, tanpa mau ditemani, Good Girls!. Emak cukup memantau sambil jagain tas mereka dari tempat duduk. Singkat dan cepat, petugasnya pun cantik-cantik karena keramahannya, 10.00 kelar sudah. Jalan pun bersahabat lenggang menemani emak mengantar mereka ke sekolah toko rumah, dan kembali mengisi hari dengan beberapa titik meeting di seputaran Jakarta Pusat dan Timur. Alhamdulillaaah.

17.00 pasca point check keberadaan anak-anak di sekolah sore dan rumah. Waduh…kenapa parkiran bisa kayak kolam renang ya, Jakarta bakal tenggelam sepertinya bukan sekedar isu nih. Setan malas menghantam untuk bisa tiba di kampus Salemba. Namun terbayang pertanggungjawaban kelak, Emak putuskan hantam saja hujan dan banjir ini, cuma air kok!. ”Dadah mobil, kamu nginep aja disini aja ya”...Emak melambai haru pada si roda empat yang manis bermandi genangan air 20cm-an. Lirik kanan kiri cari ojek, sebuah tepukan halus mendarat dipundak ”kereto ku luwih duwur, wis tak anterke nang kampus yo”. Alhamdulillaaaaah.

Emak pun bak ratu sejagat, naik mobil kinclong di lobi, disupiri pula, plus music dan cemilan saat waktu berbuka maghrib. Beberapa kali kami harus berputar balik, mencari jalan kesana-sini karena terhadang banjir. 19.30, wadooh! Hampir 3 jam sudah kami masih saja terjebak di seputaran Jakarta Timur. Para pengemudi terlihat depresi, salipan seenaknya, sahutan klakson dan umpatan dimana-mana, herannya kami malah penuh tawa canda, ngobrol aneka topik heboh, yang sungguh jarang sekali bisa sempat kami diskusikan selama ini. Banjir dan macet yang bermakna, tak terasa…Alhamdulillaaaaaaah.

Baru saja Emak mau ambil HP, sebuah panggilan sekretariat masuk ”Jadi Ibu tetap akan mengajar?”. Ya iyya lah udah terlanjur dijalan begini, pantang mundur. ” Kalo begitu, Ibu hati-hati ya. Macet dan banjir begini.  Saya sudah siapkan ibu nasi uduk Mas Miskun dan jeruk panas nih Bu, bonus pejuang hari ini heeee”. Halah, baik banget sih, Alhamdulillaaaaaaah.

Tahu betul betapa tak keberatannya sahabat Emak ini, namun Emak putuskan untuk lebih tahu diri, keluarganya pasti sudah menunggu dirumah. Emak tolak halus paksaannya mengantar, Emak lanjutkan sisa perjalanan dengan busway saja, toh hanya 1 km-an lagi. Alamaaak, busway pun penuh sesak. Baru mulai menata posisi, kembali sebuah tepukan halus ditangan ”Silahkan duduk bu” begitulah seorang gadis muda menyapa. Alhamdulillaaaaaaaaah.

”Gak pa-pa, silahkan untuk Bapak aja, saya masih banyak stok daging lebih nih heee” Sambil tunjuk badan yang berbobot ini, begitulah jawaban Emak saat mensubkon penyikatan nasi uduk yang disediakan kepada pak Satpam. Dia pasti lebih membutuhkan, terlebih Emak terburu-buru harus memulai kelas yang sudah 2 jam terlambat. Dari sekian puluh yang seharusnya, hanya 2 mahasiswa saja yang Allah izinkan hadir, jempol seratusss!. Kampus dan kelas begitu lengang, Emak rasanya seperti di jaman SMA dulu sore-sore ngajar privat bocah SD, diskusi bertiga super seruuu, Alhamdulillaaaaaaaaaaah.

22.00 kelas pun berakhir. ”Mari bu, disini motornya”, sapa anak muda berhelm fullface menghampiri. Ah, Emak kenal dia, ojek kampus langganan yang baik, sopan dan tidak begajulan, setia mengantar Emak kalau tak bawa si roda empat. Motornya mulai melaju atraksi canggih, menyelip di antrian mobil yang tak kunjung bergerak. ”Ibu mau saya antar ke rumah Rawamangun apa Bekasi?”. Loooh kok pake nanya, biasanya dia langsung tancap ke rumah Rawamangun. Emak jadi mulai detail memperhatikan si anak muda dari belakang, lah kok pakai kemeja, lah lah kok ada tas nyantol di depan, lah lah lak kok jadi putihan kulitnya. Sebentar…sebentar…ini siapa ya, abang ojek khan????   “Saya Ardian bu, mahasiswa Ibu. Saya tadi tiba di kampus 21.30 karena terjebak banjir. Jadi nanggung dan malu juga mau gabung kelas kalau cuma 15 menit. Saya lihat ibu keluar ya disamperin deh. Terimakasih banget nih kok ya Ibu berkenan saya antar pulang”.

Tuing tuing tuing, Emak maluuuuu. Waduh nak, mohon maaf, Emak pikir kamu ojek langganan, helm cakilnya gak dibuka sih jadi gak jelas mukanya, pede banget pula langsung nyamperin mau antar hi hi hi. Emak berkali-kali minta maaf karena sudah menyangka ojek langganan. Tak digubris saat berkali-Emak kali pula minta stop turun di jalan karena harus pulang ke rumah Bekasi, si anak muda ini keukeuh ngotot lanjut antar Emak. Jadilah malam itu Emak diajaknya adventure trekking lewat-lewat kuburan cina gang tikus dan jalan tembus. Wow amazing, koleksi pengetahuan jalan Emak jadi nambah nih, Alhamdulillaaaaaaaaaaaaah.

Kembali terdengar jeritan klakson para pengemudi yang stress karena berjam-jam macet yang tak bergeming. Emak dan ojek intelek ini cukup 30 menit saja untuk sampai rumah Bekasi, nyelip sana sini, ngobrol macam-macam topik pembicaraan. Emak jadi tahu dia yatim piatu, perjuangan menanggung 2 adik perempuannya, melanjutkan kuliah, kerja kantoran, sambil usaha cuci steam motor dan 2 gerobak gorengan. Ini baru murid emak! Hmmm anak keren, anak baik, good boy!. Emak jadi tahu dan belajar banyak hal-hal baru darinya. Emak tambah pintar malam itu, Alhamdulillaaaaaaaaaaaaaaah.

Rupanya badan tahun 70 an ini kurang kompromi ya, terasa betul kakunya pinggang gara-gara duduk miring naik motor kejauhan. 22.30 tiba, tepat anak-anak selesaikan PR sekolah rebutan diperiksa dan laporan ini itu. Perang bantal malam itu telah menewaskan anak-anak dipukul 23.30. Sambil Emak ciumi satu persatu pipi mereka “Duh Gusti, izinkan saya dan mereka hidup bangun kembali besok pagi ya. Izinkan sahabat saya tadi punya mobil lebih gede dan tinggi lagi dari yang saya tumpangi. Izinkan gadis cantik di busway tadi dapat jodoh yang shaleh. Izinkan ilmu dua murid saya yang hadir tadi barokah. Izinkan Ardian mahasiswa saya tadi jadi orang jeneng dan sukses. Amin”.

Kreeeek….baru saja mata ini akan menutup, kepala seorang asisten nongol di sela pintu kamar yang dia buka pelan “Bu…saya pijitin yah”. Aihhhh, Allah tau aja deh….Alhamdulillaaaaaaaaaaaaaaah.

25 Oktober 2010. Senin Yang Indah.

t.e.h.l.e.n.i.

Just keep moving. Claw and will claw thee.





Bener-bener ndeso ya….

19 10 2010

“Loooh…kok tidurnya gelar dilantai, pakai kasur tipis lipat pula…”

5 tahun lalu awal ceritanya, ketika baby kecilku ini mulai aktif kesana kemari, langsaknya minta ampun, sempat berapa kali benjol jatuh jatuh dari ranjang. Akhirnya diputuskanlah untuk mendesain dan membuat sendiri 8 buah kasur tipis lipat, digelar full memenuhi ruangan kamar. Melantailah kami tidur, sang baby makin aktif dan senang berguling hilir mudik, tidur berputar bak gasing kesana kemari…. Bagaimana nasib sang ranjang kasur? cukuplah satu atau dua kali seminggu kami tidur disana untuk urusan “spesial” lainnya…

“Muhammad Saw pun hanya tidur bergelar tikar tipis saja…” begitu kira-kira kesederhanaan Rasulullah sang panutan, manusia termulia dan disayang Allah.

Duh gusti, mohon ampun padaMu. Rasanya kami belum mampu seperti Beliau. Kalaupun satu tahun kemudian kami masih harus bertahan tidur melantai dikasur tipis, itu lebih karena tuntutan sang baby yang beralih profesi jadi jagoan ngompol.  Melipat mengangkat dan menjemur kasur lipat yang terbasahi ompol, sangatlah simpel dan cepat kering dibandingkan spring bed yang berat dan tebalnya aduhai itu. Bahkan satu atau dua kasur lipat tipis itu seringkali nongkrong di bagasi mobil menemani perjalanan hidup kami kemanapun dan setiap saat bisa dimanapun digelar…kantor, kampus, taman, mudik, rumah saudara. Kasur berjalan….nikmat juga.

Jadi ingat lagi nikmat lainnya, 2007 disaat banjir sempat mampir selutut ke rumah, kami hanya cukup mengungsikan beberapa alat elektronik saja. Furniture kayu biarlah direndamkan saja, sedangkan yang lainnya termasuk kasur cukup kami lipat susun rapi di atas lemari. Kami jadi punya waktu banyak untuk bantu tetangga ungsikan spring bednya, maaaak beratnya minta ampun. Satu hari kemudian dijemur, kami sudah bisa tidur lelap lagi di kasur lipat, sementara para tetangga perlu dua mingguan menunggu kasur tebalnya kering, bahkan banyak juga yang yang langsung dibuang karena sudah dowel-dowel bau busuk jadi saringan lumpur, duhh…

Ahhh, tak terasa enam tahun sudah terlewati. Saya dan anak-anak sampai saat ini tetap lebih suka memilih tidur dikasur lipat tipis itu daripada di ranjang kasur. Karena semalam saja saya coba tidur diatas empuknya ranjang kasur di kamar sebelah, tulang punggung ini kok malah rasanya remek kaku pegel linu disaat bangun di pagi hari, sakit sekali. Ala  bisa karena biasa.

Pagi ini sempat kubaca sampai butir 15 dari sebuah artikel terjemahan yang sudi mampir di inbox saya, tentang bagaimana kiat mendidik dan menteladani anak :
” 15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.

Oke lah kalau begitu. Makin tipis, makin lepek, makin wangi ompol, makin adem,  makin spesial 8 tahun kau bersaksi akan kisah kasihku bersama anak-anak. Biar ibuku sering ngomel ini itu, biar orang lainnya berkata apa. Maju terus pantang mundur, tetaplah nikmat bagi kami tidur di kasur tipis lipat ini…

Bener-bener ndeso ya he he he

t.e.h.l.e.n.i.

==============================================
Mathwiyat Darul Qasim “tsalasun wasilah li ta’dib al abna” asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah . (Diterjemahkan oleh Ubaidillah Masyhadi)

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian sesrius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala.

Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya. Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut :

1.       Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca Basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.

2.       Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.

3.       Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja.

4.       Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.

5.       Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaum wanita.

6.       Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-hal ini.

7.       Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa  bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.

8.       Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur’an dan buku-buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur’an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam   dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan menela-dani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham kelompok-kelompok bid’ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar kita, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

9.       Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.

10.     Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.

11.     Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia-kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.

12.     Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.

13.     Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.

14.     Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.

15.     Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.

16.     Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.

17.     Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.

18.     Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.

19.     Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu’, lemah lembut dan menghormati temannya.

20.     Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.

21.     Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.

22.     Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.

23.     Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa sallam.

24.     Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.

25.     Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.

26.     Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan hal itu.

27.     Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.

28.     Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.

29.     Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-
perintah.

30.     Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

31.     Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh.

Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak diantara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan.
Wallahu a’lam.





Everywhere! just found most popular greetings “Ramadhan”. Wonder about, what is that?

13 10 2010

west-lee: how r u my east friend.warmest hug for ur cute daughter . missed bandung n ur family. wonder about word “ramadhan”. just found popular greetings n comments on facebook and twitt.everywhere!

nurlaenileni: hi lee. howr u. im fine. might 12 hours different. midnight here. just wake up. and imhappy found u far away asking about

west-lee: then no say sorry for urhappiness ha ha. im also fine. a bit lazy for killing those papers. so myfriend, explain me about. answer my couriesness plz

nurlaenileni: well. ramadhan, blessed month of fasting, bestmonth to purify n train our body n soul. ramadhan s around now, a gift for us,for a whole entire life in this world. t 9th sacred month in islamiccalendar, base on lunar year, obligatory for moslem to fast in. meansabstinence, stop eating, drinking, smoking, n sexual activities from dawn untildusk

west-lee: all moslem doing fasting now?

nurlaenileni: some people exempted from fasting in this month, some with consequences. purelyexempted for minors n mentally retarded. t aged should donate a meal to t needy.t sick, traveler, pregnant-suckling-menstruating women, should fast anequivalent number of days afterwards

west-lee: sound t rule very considering!

nurlaenileni: yes lee. shown islam very natural n very considerate religion.”…but whoever is sick or upon a journey,then (he shall fast) a (like) number of other days; Allah desires ease for u, nHe does not desire for u difficulty, n (He desires) that u should complete t numbern that u should exalt t greatness of Allah for His having guided u, n that u maygive thanks” (Holy Quran 2:185)

west-lee: ok. moslem should fast. but why?

nurlaenileni: t goal of fasting s to develop self-restraint. called Taqwa. an arabic word. t stateof heart that motivates virtuous conduct n prevents evil action. combinationbetween t Love of God n t Fear of God will leads moslem to Taqwa, means abilityto safe-guard. “O u who believe! fasting sprescribed to u as it was prescribed to those before u, so that u may develop Taqwa” (Holy Quran 2:183)

nurlaenileni: mentioned “…before u…”. for suchexample, God says about Mary in HolyQuran that she said “Verily!, I ve vowed a fast to t Most Beneficent…”(Maryam19:26)

west-lee: ok. u said before, ramadhan such as great blessed month ?

nurlaenileni: yes. peacen blessings of Allah be upon our Prophet Muhammad, who address on t eve ofRamadhan, as a great blessed month. God has made fasting during it anobligation, steadfastly observing its nights in worship a voluntary act. whoeverundertakes an act of obedience to Allah during this month with a righteousdeed, it s as if he has performed n obligatory act at other times. whoeverperforms n obligatory act during it is as one who performed seventy obligationsat other times.

nurlaenileni: also Ramadhanis month of patience, n reward for patience is paradise. month of goodwill,during which provisions r multiplied

west-lee: so this month u fasting for a whole day?

nurlaenileni: of course not. not allowed. ramadhan time-table involved to divide a daybecome night n day. at day eating drinking sexual activities forbidden. those permittedat night, compiling with special prayers at evening n midnight, eating beforedawn n breakfast as for starting n closing

nurlaenileni: fasting n sins do not go together. Allah no need for hunger n thirst of uswho does not restrain from telling lies n acting on them even while observingfast. while fasting, we should abstain from indecent acts n unnecessary talk. ifsomeone begins an obscene conversation or tries to pick an argument, shouldsimply tell “I am fasting”

west-lee: just thinking t same. ramadhan more than fasting from hunger n thirst. am I right?

nurlaenileni: yes. ramadhan provides annual training opportunity. fulfill characterbuilding needs for t rest of year. still remember about Taqwa I mentioned? moslemcharacter-building s achieved. all about God-fearing nature. after lifeaccountability. patience n self-control. self-discipline n responsibility. obediencen of course purification of soul

nurlaenileni: a whole blessed month. moslem full of begging. said first 10 daysfasting for God’s mercy. middle 10 days for God’s forgiveness. rest 10 days forSalvation from hell-fire

west-lee: wow. those such rewards!

nurlaenileni: yes my friend. u know, every action of moslem as t sons of Adam s givenmanifold reward. each good deed reveiving ten times its like, up to sevenhundred times. Allah t Most High said “exceptfor fasting, for it s for Me, n I will give recompense for it, he leaves offhis desires n his food for Me”. two times of joy we have while fasting; timewhen we break our fast n time when we meet Allah. t smell coming from t fastingpeople’s mouth s better with Allah than t smell of musk!.

west-lee: hmmmm im more embittered. mean how fasting feels all about

nurlaenileni: may u r not just feeling hungry n thirsty. bet many times u cry for familiarafrican hunger images. but see, poor n hungry people always be present around u,in ur neighbourhood!do u feel how their hungry n thirsty before? ramadhan cultivates that’s feelings.lead us more care n concern for them. to help attitude towards have-nots. togive charity n donations. to refrain from wasting food n drinks. n of coursesome other social responsibilities.

west-lee: ok I understand. but people said fasting cause bad injury for body system.

nurlaenileni: well. heard also. such fasting cause stomach’s atrophy. paralyze bowels.deplete our blood. Anemia. weaken n collapse heart. deficiency n malnutritional. irresistance to disease-teeth-nervous system-glands n other vitalorgans. cause mental disturbances. those irresponsible statements, might slander.misbelieves! u can prove by urself.

nurlaenileni: some medical fact n research book nowadays. professors n doctors proved fastingvery good for human body. gives vital organs a complete rest. promoteselimination of metabolic wastes. allows body to adjust n normalize itsbiochemistry n secretions. lets body break down n absorbswellings-deposits-diseased tissues-abnormal growths. restores youthfulcondition to cells n tissues. increases power of digestion n assimilation. permitconservation n rerouting energy. also clears n strengthens minds.

west-lee: hmmm understand why moslem do that nurlaenileni: well. again, moslem reason is only Taqwa. just do what Holy Quran stated.n as Prophet Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, addressed 1400years ago “fast, and you shall becomehealthy”.

nurlaenileni: one of God’s bless in ramadhan. all t sons of Adam may walk back to t MostTruth Guidance, Holy Quran. revealed, guidance to men a clear proofs of guidancen distinction. “and we have indeed madethe Quran easy to understand and remember, then is there any one who will remember (or receive admonition)” (Holy Quran 54:17).

west-lee: don’t know what to ask more. im speechless. like to learn more my friend

nurlaenileni: alhamdulillah. God bless you. but sorry lee, ve to end. time for earlybreakfast before fasting. called suhoor or sahur here. kids need me to prepare.will continue while leisure. keep contact lee. warmest regards for urhusband n kids. takecare. salam. bye

west-lee: warmest hug too for u n kids. miss u more than before. cant stand to talkabout more. bye my friend





Sleeping beauty ya honey…

30 04 2010

ayo.. ayo.. dibeli-dibeli barangnya bagus-bagus. .

ini nyontek indomaret ya, warnanya sama, kacanya gede-gede

kalau disebelah kanan sepi ya, bagusan sebelah kiri, kelihatan ramai

bu.. mamaku bisa bikin lebih bagus dari ini, aku ingin jualan disini, boleh ya bu.

tabung aja ah uangnya nanti buat beli mainan

begitu tulisan seorang teman, mengekspresikan  celoteh bocah yang masih polos, putra-putri dari kawan-kawan bisnisnya. Bocah-bocah polos ini sejak dini secara tidak langsung sudah dikenalkan dengan aroma wirausaha bahkan ada putri temannya yang harus tidur di lapak padahal orang tuanya bukan termasuk orang yang patut disantuni.

Sedikit berbagi pengalaman tingkah polah anak-anak kami di Inacraft 2010.

Diawal kemanapun pergi dan berada, selalu saya jelaskan kondisi dan konsekwensinya, biasanya ya tetep antusias aja mau ikut. Bahkan di hari terakhir yang super padat, dengan maksud supaya tidak terlantar dan happy, kami tawarkan mereka untuk bermain seharian di Kidzania, jawabannya “Gak ah, lain kali aja, kita mau di JCC, jagain ibu takut ada yang culik” he he he ada-ada saja.

Di stand, kami para ibunya selain reunian, saling tukar info dan ilmu, ya berjualan. Alhamdulillah anak-anak kami kebanyakan chemistrynya sama, jadi kompak juga bermainnya, hak utama mereka. Padahal rata-rata baru kenal disana juga, atau kalaupun sudah saling mengenal hanya setahun sekali saja bertemunya.

“Bu, kita mau main ke J&C di plenary yah. tadi pagi mang Iwan bilang mau kasih kueh” begitu kira-kira kalau mereka pamit menghilang. Saat kembali, mereka datang dengan serenteng aneka barang promosi yang banyak dibagikan setiap stand yang dilewati.

Lalu sambil ngos-ngosan dilanjut heboh mengalir aneka cerita yang tak sedetik pun bisa ditunda “Waah, ada gamelan bali sama musik irian jaya di stand BRI bu. bagus banget. sayang cuma sebentar. Om-nya bilang nanti jam 7 maen lagi”  Maaaaak, bilang cuma sebentar, padahal kami agak dag dig dug juga menanti mereka hampir 2 jam !

Rini anak (angkat) rajin mengkoleksi kartu nama setiap stand. saya tanya untuk apa, jawaban karena lucu dan bagus2 warnanya, suka dia tiru untuk tugas menggambar disekolah.  Jadi kalau hilang kartu nama relasi yang perlu saya kontak, saya tahu harus minta backup pada siapa he he he.

Anak bontot saya, 2 hari kemarin malah langganan tetap nongkrong di BPEN, selain penjaga stand nya memang beberapa teman yang dia kenal betul, yang paling utama adalah karena ada live show membatik yang memang begitu sangat dia sukai dimanapun kegiatannya. Minatnya mungkin di garmen yah?

Beberapa customer closing transaksi ditempat kami, gara-gara terkesan pijitan Diaz di pundak mereka saat duduk mendengarkan penjelasan produk kami. Diaz putra sahabat kami itu memang anak 6 tahun yang manis, murah senyum doyan ngobrol dan hobi mijitin orang tua, so cute.

Ada juga kami agak pelototin dikit mereka, saat muncul penyakit pecicilan mengobrak-abrik tatanan stand, coret2 partisi, buka-bukain plastik barang, kalau ada customer datang ya ikutan ngrecokin juga sok tahu dan berlomba menerangkan, haduhhh. Stand kami memang terlihat lebih ramai dan ricuh karena aksi para krucil itu, yang ngobrol, ketawa2, main tebakan, glosor, loncat2, lari2 antara 2 ujung lorong, tulis2, hilir mudik, he he heboh.

“Aku aja deh yang ngambil, pleaseee” begitu kira2 rengekan mereka, senangnya kalau ada stok barang yang habis, tanda mereka bisa berebut lomba lari menuju Assembly 3-58 stand kami lainnya, dan kembali ke stand kami no Hall B-309. Padahal cuma 3 pcs aja kekurangannya, tapi yang akan berangkat ya segerombolan deh. Biasanya kami tetap meminta messenger kami untuk mengikuti, takutnya mereka suka kelamaan “nyangkut” disatu tempat, tertegun dengan sesuatu yang menarik minat mereka, lupa sama tugas deh he he

Bila luang waktu, kami giliran nenteng para krucil itu keliling (jangan harap bisa bawa anak kita sendiri saja, saking kompaknya mereka he he). Selain kenalan silaturahmi mencari relasi juga bertukar informasi, ya ikhtiar belajar terus lah semampu kami. Walau para krucil itu terlihat seperti “main-main” saja, tapi sebenarnya tanpa sadar menyerap bagaimana cara kita orang dewasa ini berkomunikasi dan interaksi, mengamati dekorasi setiap stan, aneka produk, tawar menawar, ikut menghitung uang dll.

Kami tidak terlalu khawatir mereka kesasar saat “bermain”. Rupanya perlahan mereka terampil memetakan JCC, menghapal jalur, lokasi toilet terdekat, lorong penghubung, akses pintu, parkir dll.  Mereka bahkan yang sering menjadi penunjuk jalan kami ke beberapa lokasi atau stand tertentu. Tak jarang mereka kata-katain “ibu-ibu kita kan udah pada gede, tapi kok susah banget yah ngapalin jalan doang, padahal kan gampang”, ha ha makin menua kami memang makin tulalit naaak…

Satu pengalaman semalam yang menyebalkan tapi mengharukan. Susah payah kami para ibu delivery order nasi kotak untuk dinner mereka, 9 krucil itu saat kembali dari “bermain”nya dengan polos mentah-mentah menolak “gak deh, kenyang, makasih, buat ibu aja. soalnya kita baru dikasih KFC seember sama pak Haji Umar yang jualan barang lombok di hall utama itu loh bu”. Ughhh, apa kami para emak gak sakit hati tuh 🙂

Saya pikir cerita inacraft ini berakhir bersamaan penutupan semalam, ternyata tidak. Pagi ini sebuah sms khadimat masuk “Bu, telpon rumah dong bujukin, katanya hari ini Neng gak mau masuk sekolah, masih ngantuk mau tidur lagi “.

Tenang, tarik nafas, gak usah kesal, saya berpikir sebentar. Alhamdulillah saya bisa mengingat, kalau sudah sebuku tulis habis dia kerjakan soal-soal math english arabic, yang memang selalu dadakan saya bikin disana, mengisi sela2 “bermain” nya di JCC kemarin sabtu minggu.

Jadi, biarin aja deh bocah 6 tahun itu hari ini gak masuk sekolah dan lanjutkan tidurnya. Paling cuma sehari ini doang bolosnya…., so sleeping beauty ya honey”





surga beneran, mati beneran

30 04 2010

Assalamualykum,

Doa untuk sahabat semua, sehat dan bahagia selalu, lahir dan batin. Diterjang putaran suka duka hidup, demi masa, itu sudah janji-NYA. Tetap kuatkan rantai sabar kita dengan syukur,  jangan sampai aus apalagi terputus, serem.

Tak terasa kita terus bertambah menua. Gak usah pake ukuran berapa kerutan wajah, uban, apalagi lebar pinggul dan perut ah. Rasanya baru kemarin menyandang status gadis ting ting, rambut dikibar kayak bendera, kulit masih suka dipamer-pamer gak seperti krucilku yang dari kecil sudah indah tertutup he he jadi malu saya. Sekarang mah, udah tong tong diintil krucil. Anak kandung saya memang baru kelas 1 SD, tapi tentu sahabat banyak yang anaknya sudah masuk SMP loh, kuliah, mantuan, cucuan dsj, keren.

Bicara keseharian anak-anak yuk. Kita pasti selalu mengajarkan anak-anak kita untuk selalu berdoa diawal dan akhir kegiatan apapun. Dari mulai bangun tidur, pakai buka baju, wudhu, keluar masuk toilet-rumah-kendaraan-kelas, makan minum, tulis bicara, belajar dsj. Tanya kenapa? karena kita ingin mereka jadi anak shaleh bla bla bla…dan ujung-ujungnya pasti to collect point untuk karcis ngumpul di surga.

Ya surga, itu cita-cita utama kita. Ditengah aneka harapan dan timbunan harta dunia pun, kita tetap ujungnya ingin masuk surga, karena yakin disanalah letak kebahagiaan yang hakiki. Itu yang selalu utama kita minta disetiap doa kita…minta kavling di surga.

“Ibu, kok ngelamun sih, kalau giliran neng baca tolong dengarkan dong!” sewot si bontot protes. Rritual saling membaca sebelum bobo semalam agak terganggu oleh tingkah aneh sang emak yang celohok melohok, “menerawang” terhimpit sebuah pertanyaan…

“Sorry ya nak, agak melamun. ibu lagi mikirin heaven, surga. Yang selalu kita inginkan dan doakan itu loh. Apa yang Allah perintah dan larang, selama ini kita berusaha lakukan dan hindari. Dari sekian banyak itu, sebenarnya apa ya syarat utama bisa masuk surga?”

Cuek tanpa melepas pandangan sedikitpun dari buku si grok-grok desa pelangi kesukaannya, si bontot reflek menjawab cepat “ya MATI dulu lah bu, baru bisa masuk surga !”

Kaget saya dengan quick respondnya. Boro-boro saya tertawa dengan jawaban lugas itu, tapi merinding. Cepat saya cepat tersadar, dibalik syarat MATI itu tersembunyi kesungguhan jati diri kita yang selama ini selalu berusaha kita perbagus tampilannya. Sudah berani mati?

Serabut saraf pun tangkas mengkoneksi ingatan pada celoteh senior kampus saat saya digeret ikut sebuah rapat panitia reuni kampus di bintaro.

“….teh, ya lu berjuang dong. Jangan cuma lu modalin dengan sabar dan syukur doang. Allah ciptakan hidup, kita anggotanya ya jadi pasukan berani mati buat dapetin surga. Lu mau dapet surga sejati ya harus mati. Mau setengah surga ya hiduplah setengah mati. Mau surga-surgaan, ya mati-matian lah lu hidup. Kalo lu mau surga sungguhan, ya harus mati betulan. Sekarang lu kayaknya malah katagori setengah mati deh, bete gue punya temen kayak lu!”

He he he sorry ya kalau sakit hati dikata-katain dia, anak gunung ini emang suka asal ngomong, susah bedain mana yang serius dan ceplosan. Tapi kok ya kali ini dia ada benarnya juga.

Kita hindari kerja keras dan resiko, pake embel-embel sabar syukur pula, ya itulah konsekuensi jati diri. Kalaupun kita terima tuntutan kerja mati-matian, ya itulah bagian dari jiwa. Ini tanda hidup sangat berseni, yet we have the full joy of life.

Pastikan lagi yuk kita nanti mau yang mana, mati, setengah mati, mati-matian, atau mati beneran. Imbalannya mau yang surga, setengah surga, surga-surgaan, apa surga beneran.

karena kita sudah besar tua dan makin pandai berhikmah, jadi pilih dan penuhi saja persyaratannya, lalu maksimalkan jati diri.

Serius amat, balik lagi deh ke si krucil my daughter, Tadi pagi, lagi dia sudah mulai buktikan dengan pilihan “MATI” nya. Memilih beli-gigit-kunyah kunyah cakue kampung saja untuk mencopotkan 6 gigi goyangnya “murah dan enak, ngapain ke bu dokter gigi itu, nunggu lama buang uang dan akunya stresssss” he he he.

Mau belajar “MATI” ah kepada si kecil, quick and inspiring answer lastnight. Saya enggak yakin, kalau sahabat akan membatalkan cita-cita masuk surga, karena menyadari persyaratan ini he he he

So Have fun and wonderful weekend with beloved people around