INDAHNYA ITIKAF RAMADHAN : SERI 1 : CELANA ITIKAF

21 10 2008

” ayo ibu…cepat…katanya aku boleh ikut ibu kemping ke masjid…mang Denis dan bi Lulu tadi telpon sudah berangkat…lalu kita kapan berangkatnya. gak sabar niiih…”

Bingung, dilema, disatu sisi amanah memanggilku untuk ajarkan itikaf ramadhan kepada putri kecilku yang sudah no problem dengan tarawih dan puasa ramadhannya yang full 14 jam 30 hari, alhamdulillah. Disisi lain, bagaimana mau itikaf dengan kebiasaan ngompolnya? tentu najisnya akan menodai kesucian masjid…

Semalaman kuputar otak, dan sepanjang itulah putriku ngambek. Sahur sabtu pagi diwarnai dengan manyun bibir dan sedikit protes mogok makan. setelah shubuh pun dia tertidur pulas kembali, pukul 8 kuluangkan waktu belanja aneka buah di Giant dekat rumah. Saat iseng kukelilingi setiap lorong barang, ahaaaa!!!! sekelebat ide pun muncul, semoga berhasil ya Allah…

Berbagai ceritaku tentang nikmatnya itikaf ramadhan dan janji surga yang penuh dengan es krim kesukaannya kelihatannya begitu melekat dikepalanya. Buka puasa sabtu itu pun terasa lebih meriah oleh celoteh putriku kepada Nini Aki dan Mamangnya yang tak sabar mengurai rencana “kemping” pertamanya di
masjid malam minggu ini. Di ransel barbie-nya, bekal yang biasa dibawa untuk tarawih adalah perlengkapan shalat, alquran kecil, buku “pahala” nya yang berisi catatan shalat dan mengajinya, 1 botol air mineral, 1 susu cair coklat Ultra, 1 susu cair buah Milkuat…sekarang sudah sesak penuh terisi tambahan susu cair kesukaannya, 6 kotak ! halaaah….

Kewajiban tarawih 11 rakaat terlalui dengan baik, dan sejak pukul 9 masjid Pusat Dakwah Islam Bandung atau Pusda’i pun perlahan lengang, hanya beberapa gelintir jamaah bertahan. Setelah tertunai bacaan 10 ayat bacaan alqurannya, sambil tadarus dari sudut mataku terlihat kelinciku ini segera loncat dan berlarian dengan teman-teman barunya kesana kemari dihalaman masjid yang sangaaaaat luas….

Pukul 10 malam jamaah mulai berdatangan kembali untuk itikaf, banyak juga yang barang bawaannya seperti pindah kamar tidur, dari mulai selimut tipis, bantal, guling, kasur lepek dibawa, tak lupa rantang untuk sahur. cukup ironis denganku, yang cuma bawa 2 lembar sarung untukku dan anakku, toh sajadah sudah tergelar dimasjid, lagian kalo terlalu berlebihan dengan perlengkapan takut malah nyaman bablas bobo, bukankah tujuan itikaf adalah untuk banyak melek ibadah malam?

Segera kutata diri dipaling sudut masjid, tertutup hijab dan paling dekat dengan toilet wanita…

waktu pun bergerak, setelah pipis dan cuci kaki, putriku mengantuk. sekotak susu coklat pun dia tandaskan. Pops! tenda pink favoritnya, berbentuk mobil VW kodok seukuran badannya, namanya Molly, segera dia buka sendiri dengan mudah, membuat iri hampir semua mata anak-anak yang ada disitu. saat dia pamit bobo, dan bersegera masuk ketenda, segera kubisikkan dan kuperlihatkan sesuatu, matanya langsung
melotot…

” ga pa pa sayang….hampir semua anak yang shalihah dan ikut ibunya kemping dimasjid, pake “ini” kok…”

” gaaaak…pokoknya aku gak mau pake itu buuuu…aku kan udah besar….maluuu….itu kan buat dedek bayi…pokoknya janji deh aku gak ngompol…”

” dengar nak, ini macamnya banyak..ada yang buat dedek bayi, untuk anak SD, SMP, bahkan orang besar yang masih suka ngompol juga ada…ngompol itu tidak dosa kok, yang dosa adalah kalo ngompolnya mengotori masjid, nah apa aini mau berdosa karenanya?”

Negosiasi berjalan alot, putriku tetap ngotot, keukeuh gak mau pakai barang “itu”…finally…

” aini cantik…sekarang aini memilih….tidak pakai, tapi Molly nya dilipat lagi trus kita pulang…atau kempingnya tetap jadi, karena aini mau shalihah pakai “celana itikaf” ini…

” ibuuuu ibuuuu….gimana sih…masa ini dibilang “Celana Itikaf”…ini kan Pampers Huggies buat dedek bayiiiii….”

” Mereknya aja yang sama, Huggies. Tapi ini bukan pampers. Kalo pampers kan pakai lem kanan kirinya…kalo ini sih Celana, tuh liat, celana kan, namanya “Celana Itikaf”…celana ini khusus dibuat untuk anak-anak shalihah yang ikut ibunya kemping di mesjid, ya kayak aini sekarang ini…”

Allah maha pembolak balik hati. Allah dengar doa seorang ibu yang sudah kebingungan membujuk ini. KuasaNya langsung memudahkan pemahaman anakku…..”oh gituuuu, jadi ini bukan pampers ya bu, namanya “Celana Itikaf” ya…bagus juga ya namanya bu hi hi..iya deh kalo gitu aku mau pake…”

Alhamdulillah…30 menit terakhir menuju pukul 12 malam malah dilaluinya dengan “promosi” ke para ibu dan anak-anak perempuan yang ada di kanan kiri kami…”bu, kenalan, namaku Tarisha Noer Khurul’aini…aku tinggal di kota Bekasi, tapi lagi ikut ibuku kemping di mesjid Pusdai Bandung ini…aku anak shalihah karena nurut ibuku
pake celana itikaf…ibu pada pake “celana itikaf” juga kan ? ”

para ibu-ibu pun tertawa tersenyum mesem-mesem….celana itikaf gitu loch…

– teteh –

Taqabalallahu minna waminkum, shiyammana wa shiyamakum. maafkan segala
khilaf yaaa…

Iklan




TRUE STORY OF OGA

20 10 2008

INSPIRASI : TRUE STORY OF OGA

Sebut saja namanya Oga, wanita sunda yang cantik berlesung pipit
imut-imut, kulitnya putih kekuningan dan badannya segar, ceplas-ceplos
riang lugu dan kepolosannya membuat Oga masih seperti anak SMP usia 18
tahun. Tak ada yang menyangka jika dia sudah berusia 30 tahun dengan
3 anak perempuannya Mayla 2 bulan, Malwa 4 tahun dan Manda 16 tahun!

Saat bertukar cerita di acara kumpul keluarga besar, dengan penuh
semangat dan percaya diri, Oga menceritakan salah satu episode
hidupnya saat mengandung Mayla. Setiap hari, dia harus bangun lebih
dulu, melawan angin dinginnya pukul 3 dini harinya sebuah desa kecil
di pinggiran parkir candi Borobudur, dengan perut besarnya Oga
membawa bakul cucian ke air pancuran di kolam dilanjutkan memasak
untuk keluarganya. Lalu dia bangunkan suami anak dan ibu mertuanya
yang sudah renta, mengawasi Malwa yang sudah bisa mandi pakaian dan
sarapan sendiri, sambil menyiapkan teh manis untuk sarapan suaminya.
Malwa hanya cukup diantar sampai pagar rumah, cukup diberi seribu
rupiah Malwa akan berjalan sendiri sejauh 1 km untuk menuju Sekolah TK
nya.

Oga lalu mengendap-ngendap perlahan ke kandang yang bisa ia kontrak
dari hasil tabungannya, menyapa dan memeriksa keseratus bebeknya serta
mengambil telur-telurnya. Jika ada bebek yang sakit, maka akan
disuapinya dengan dengan penuh cinta kasih dan doa.

Jam 7 pagi Muklis sang suami pamit “ngangon” bebek-bebek mencari makan
ke sawah sungai ladang. Oga segera pergi ke kebun, memeriksa dan
menebar urea di palawija yang ia tanam di 4 petak tanah yang juga
kontrakan. Dengan sigap dia memetik paprika hijau dan merah di 2 petak
tanah yang sudah siap panen. Terik matahari menyadarkan Oga bahwa saat
itu “kira-kira” sudah pukul 10, perlu 1 jam Oga bolak balik menyeret
sendiri 2 karung paprika ke teras rumah.

Muklis dan bebek pulang, setelah menyeruput teh manis bikinan Oga, dia
pergi mengurus lele dikolam warisan orang tuanya. Belum lepas penat,
selama 1 jam Oga harus melayani kedatangan bandar pengumpul yang
menimbang, menawar, membayar lalu mengangkut paprika dan telur
bebeknya. Malwa pulang dan meminta makan, karena kelelahan dan
kepanasan, Malwa langsung tertidur di lantai semen favoritnya.

Oga makan siang dengan suaminya, kangkung dari pinggir kolam pun
ditumis, satu kotak tempe seharga seribu pun digoreng hangat-hangat,
lalu makan dengan nikmat. Sang suami beranjak tidur siang, namun Oga
tidak. Dia pergi ke halaman mengambil jemuran kering, melipat dan
sebagian disetrika. Tak terasa Ashar, gelas teh manis keempat
dibuatkan Oga untuk Muklis yang baru saja bangun tidur siang dan akan
berangkat lagi “ngangon” bebek disore hari. Oga bilang bebek-bebek
harus terjamin kekenyangan perutnya, supaya hasil telurnya pun baik.

Setelah Ashar, Oga dan Malwa ke masjid untuk pengajian dilanjut temu
kelompok tani. Oga dikenal sebagai petani bandel, karena tidak pernah
mau menggunakan semua teori pertanian dan takaran yang diberikan
penyuluh, Oga lebih senang menggunakan perasaan yang ia yakini bisa
memberi hasil tani yang lebih baik dan lebih irit karena tidak boros
pupuk. Dia sering dianggap aneh dan ditertawakan karena kreativitasnya
menebar pupuk sambil bernyanyi, berdoa, mengajak ngobrol palawijanya
sambil tertawa-tawa seolah-olah mereka bisa saling bicara. Semua itu
Oga ingat saat masa-masa kecil dulu berlibur ke desa melihat bagaimana
Aki (kakek) bertani.

Magrib menjelang, mereka berkumpul dirumah, ditutup dengan makan malam
dengan kukus ikan peda simpanannya dan teh manis keempat untuk sang
suami, Muklis dan Malwa berangkat tidur. Hanya Oga yang masih melek,
mencuci piring, membereskan rumah, mengkalkulasi pengeluaran belanja
rumah tangga dan pupuk, lalu menyimpan tiga puluh ribu sisa uangnya
hari ini, di suatu tempat yang hanya Allah dan Oga yang tahu. Lalu Oga
mengendap-ngendap keluar rumah menuju kandang bebek, memeriksa kondisi
mereka, mengucapkan selamat bobo, mendoakan mereka seperti kepada
putrinya, berharap besok pagi bertelur semua. Oga pun kembali ke rumah
dan tertidur dengan sangat lelap, tanpa mimpi.

Begitulah hari-hari Oga berlalu, suatu dini hari perut besarnya mulas,
namun tidak dirasakan Oga dan tetap melakukan rutinitasnya, ke
pancuran kolam mencuci lalu memasak, membuatkan suaminya teh manis,
mengantar Malwa sekolah sampai pagar rumah. Saat kekandang mengambil
telur bebek, dirasakan rasa sakit yang sangat hebat, Oga bersandar di
kandang bebek kesayangannya karena kaki serasa lunglai tak mampu
menyangga. Reflek Oga membawa tangan kanannya memegang kepala bayi
yang sudah muncul di saluran kelahiran, dan dengan hanya hitungan
detik, begitu mudahnya sang bayi keluar dari kandungan yang tak pernah
sekalipun Oga periksakan ke bidan. Oga tidak menangis dan menjerit
layaknya ibu-ibu manja yang melahirkan di rumah sakit lengkap nan
mewah, Oga melahirkan dalam senyapnya pagi, perlahan Oga mendekap bayi
dan ari-arinya ke dada, menyeret badannya ditanah perlahan sejauh 100
m, saat tiba diteras rumahnya, barulah Oga memanggil sang suami dan
ibu mertuanya.

Ah Oga, tak pernah disangka ia akan menjadi seorang ibu muda yang
tegar dan mandiri, pintar menyiasati hidup, yang menerima takdir
dengan ikhlas dan optimis. Oga merasa sebanding dan layak menerima
jodohnya dari Allah, Muklis, suami keduanya, yang tulalit karena
mantan pecandu narkoba, dengan menunjukkan bakti sebagai istri
meninggalkan Jawa Barat dan keluarga besarnya mengikuti suami untuk
membangun hidup sambil mengurus ibu mertuanya yang renta di desa
kecil, dengan kultur budaya dan bahasa yang berbeda. Dia meyakini
kesulitan hidupnya ini adalah untuk menebus air mata ibunya yang telah
wafat, dosa-dosa dan kebandelan-kebandelannya dimasa remaja. Oga
harus bersusah payah hanya untuk bisa membeli tiket bis ekonomi 40
ribu pulang ke Jawa barat, berkumpul di hajatan keluarga besarnya, dan
tentunya untuk melepas rindu dengan putrinya Manda yang tahun ini
masuk tahun kedua SMA, tumbuh menjadi gadis secantik ibunya. Dengan
optimis dan riang, Oga sering berkata dihadapan banyak keluarga
“Manda, untuk pendidikanmu, maafkan Ibu yang menitipkanmu bersama Uwak
Nani (bude) di Ciater, semoga kau ikhlas. Banyak keluarga mengira Ibu
sangat menderita dengan kehidupan ini, tidak. Ini adalah jalan indah,
anugrah Allah untuk taubat ibu dan menebus dosa dulu. Karena kebodohan
dan keluguan ibumu, sampai kau terlahir tanpa ayah, dan ibu tamat SMP
pun tidak. Namun Allah telah mengirim Muklis dengan segala
kekurangannya, namun penuh dengan segudang kesabaran dan
kesederhanaannya”.

Oga dulu, anak kota, anak gaul, si anak bungsu kesayangan orangtuanya,
dimanja oleh ke-8 kakaknya, hidup dalam limpahan kasih sayang dan
materi. Sekarang Oga adalah sosok wanita apa adanya dan mandiri.
Untuk bisa pulang setahun sekali saat Idul Fitri, Oga mengongkosi diri
dan kedua anaknya serta suaminya dengan menjual semua bebeknya. Perlu
satu bulan untuk bisa kembali pulang Yogya dan memulai modal hidup,
tak pernah sedikitpun mau menerima bantuan dari kakak-kakaknya atau
sanak saudara di Jawa Barat yang sering dipanggil anaknya Malwa “wong
sugih”. Oga hanya mau diberi uang sebagai upah atas pekerjaan yang
“terpaksa” diberikan para kakak dan keluarga besar selama satu bulan
tinggal di Jawa Barat, misalnya menjaga toko, pencuci rambut di salon,
masak order catering, sedang suaminya untuk pekerjaan seperti ngecat
rumah, atau jadi supir antar keluarga kita kemana-mana, pokoknya apa
saja mereka bisa kerjakan. Tentunya para kakak dan keluarga besar pun
sangat ikhlas untuk memberikan upah yang “sangat exlusive”, kepada
mereka. Rasanya terdengar aneh dijaman sekarang, masih ada manusia
seperti mereka, “wong deso” yang mempunyai nilai “harga diri”
sedemikian tinggi.

Oga sangat energik, mengerjakan semua pekerjaan dengan cekatan,
padahal Malya si bayi tak pernah lepas dari gendongannya. Oga sangat
menikmati peran ibu, sangat menghayati peran pengabdian pada suami.
Oga sekarang adalah sosok pekerja keras, percaya diri untuk maju,
tidak pernah ada kata mengeluh, bibir mungilnya selalu bersenandung
riang dan penuh tawa, khas lugu dan ceplas ceplosnya tak pernah
hilang. Kekeliruannya dulu membuat Oga tidak tamat SMP, namun sekarang
dia terlihat sangat cerdas dan enterprenershipnya terasa berkelas.
Tempaan hidup tampaknya tidak menghapus kecantikannya, tetap putih
segar muda tanpa polesan apapun, matanya sangat bening, ini mungkin
yang disebut “Inner Beauty”.

Oga, yang tegar mengandung dan melahirkan putri pertamanya dalam
pengasingan dan tanpa suami. Juga yang membuat Muklis suami keduanya
melongo saat melahirkan putri ketiganya dikandang bebek. Oga, yang
sangat rasional, menyuruh suaminya meninggalkan pekerjaan supir
bergaji kotor 600 ribu perbulan, dan berinisiatif bertani dan beternak
dengan hasil 30 ribu atau 900 ribu perhari bersih. Oga, yang tak
pernah hafal no handphone nya sendiri, karena ia sangat berbahagia
jika saudara keluarga yang menelponnya. Oga, yang hanya 30 menit akan
segera tiba di pintu hotel dengan senyum tawanya yang riang, saat
suaminya parkir motor Oga akan sibuk dengan celotehan riangnya
menghibur Malwa yang mengantuk dan Malya yang menangis di gendongan,
serta tangannya yang penuh dengan bingkisan keranjang telur bebek asin
produksinya. Ya, dia tidak pernah absen menyempatkan bertemu saudara
keluarga yang berkunjung ke Yogya untuk urusan dinas.

Oga, saat saudara-saudara mu ini mendengar kisahmu dengan penuh haru
simpati namun berbangga, sementara kau, sambil menyusui Malya begitu
ringan bercerita dengan ceria diselingi tawa, seolah tak pernah ada
kata “susah” dalam hidupmu. Bahasa tubuhmu sangat alami. Kisahnya
diakhiri Oga dengan perkataan optimis “Hei saudaraku, kalo sayang aku
jangan ngirimin aku duit kasihan, kirim aku doa ya, supaya cita-citaku
terkabul, punya peternakan dan restoran bebek yang besaaaaaaar
sekali”. Ah Oga, Sangat mudah bagi Allah untuk mengganti panas dengan
dingin, malam dengan siang, duka dengan suka. Allah akan memberikan
kerajaan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Rasanya manusia sepertimu
layak mendapatkannya, seorang wanita yang pernah keliru memilih jalan
hidup, namun kuat tabah sabar tidak berputus asa dan penuh daya juang
tinggi, semoga Allah memberkahi, amin.

Salah satu inspirasi sederhana, semoga bermanfaat
Oleh-oleh weekend dari Subang
– Teteh –