POLARITAS HIDUP

21 10 2008

Karena kehidupan tercipta dari begitu banyak interaksi…yang kelihatannya saling berpolaritas atau bertentangan…maka kita perlu memahami pertentangan itu, dan menentukan tanggapan yang sesuai…lalu tanggapan itu akan membantu efektifitas untuk mencapai tujuan kita sendiri…jadi dengan begitu, kehidupan adalah co-creation.

Ini kejadian beneran…disebuah kantor pusat instansi pemerintahan yang mengelola keuangan pungutan impor, dibentuklah suatu tim yang mendapat penugasan untuk membantu translasi bahasa pada suatu proyek peng’gol’an undang-undang organisasi tersebut…ya, suatu proyek yang vital, dengan standar persyaratan profesionalisme yang sebenarnya harus tinggi…. tidak saja bisa ditranslasi mudah oleh bahkan ketua tim yang punya modal ngomong slank cas cis cus…atau oleh anggota tim yang ada berlatarbelakang pendidikan sastra bahasa…namun perlu technical serta experience skill yang luas… sehingga kalau dilihat dari cakupan dan tenggat waktu dibanding sumber daya yang dimiliki oleh tim, sebenarnya proyek translasi ini adalah proyek yang impossible dilakukan oleh tim tersebut…

Walaupun demikian, proyek tetap harus dilaksanakan organisasi. Sebutlah seorang “bawahan” sang ketua tim…dia yang sudah “kelewat matang” di pohon, akhirnya harus dijadikan “manisan buah” saja agar manfaatnya tetap terdistribusi kepada organisasi… dia sebenarnya ingin menolak keterlibatannya dalam proyek ini…namun karena karena kewajiban moral, ilmu ikhlas dan dedikasinya kepada organisasi, serta tuntutan pertemanan dan tekanan jabatan atas permintaan salah satu anggota tim tersebut, akhirnya sang bawahan itupun pun ikut membantu mengerjakan proyek tersebut sendirian walaupun tidak didukung atasannya, dengan konsekuensi bekerja tanpa hitam diatas putih, entahlah itu kepanitiaan, surat tugas, ataupun keputusan pembentukan tim. Ketika proyek selesai, si bawahan tadi karena tidak mendapatkan “hitam diatas putih” maka tidak mendapatkan numeral kredibilitas untuk kenaikan pangkat dan jabatannya walaupun hampir bekerja setiap hari untuk menyelesaikan proyek tersebut. Sang ketua tim pun dianggap sebagai orang yang yang ‘mangkir’ terhadap atasannya…tambahan lagi, reward akhir justru diberikan kepada pejabat organisasi sang ketua tim. Apa yang salah?

Ada banyak aturan dan sistem yang mengatur bagaimana setiap anggotanya bertindak, jika kita hidup dalam suatu organisasi. Jadi, jika kita masih mau tercatat didalamnya, maka ikutilah aturannya. Dalam kasus itu, maka seharusnya sang bawahan haruslah selalu berada dalam penugasan resmi (selalu didukung dengan surat tugas). Inti dari hikmah untuk sang ketua tim diatas adalah, anda berhak mempunyai ide apapun, tetapi berperilakulah dalam konteks sistem organisasi. Inilah hikmah untuk si ketua tim agar dapat menyatukan dua hal yang kelihatannya bertentangan, yaitu kebebasan dan keterikatan.

Saya terlahir sebagai seorang yang simple dan cuek dalam menyikapi sesuatu…entahlah dalam kehidupan pekerjaan, jabatan, rumah tangga, sosialisasi, dan lain sebagainya…walaupun semua itu harus terukur dengan segala latar belakang spiritualis yang suka tidak suka ya harus saya asah…. nah, semua mengalir terjadi, ketika suatu saat saya seperti ”kejatuhan” genteng…tanpa proses aplikasi apapun saya ditunjuk oleh rektor salah satu kampus islam tempat saya mentransfer ilmu, untuk menerima beasiswa master ekonomi syariah di salah satu perguruan tinggi negeri, untungnya masih di Indonesia, di Jakarta pula…untuk apa? Ijasah syariah tentunya tidak akan diakui dalam dunia persilatan pekerjaan saya, mungkin ditertawakan karena no value dibanding para master ilmu public lulusan luar negeri…pun saat yang bersamaan saya sedang kuliah dalam tingkatan yang sama…tantangan lain adalah stress fisik saya yang mengharuskan harus bolak balik bedrest dengan perut besar kehamilan saya…namun tetap saya jalani dengan prinsip ’elmu mah teu beurat mamawa”…benar, disanalah saya benar-benar mendapat pencerahan spiritualis non-duniawi…

Singkat kata, ijasah master syariah itupun didapat dan harus saya pertanggungjawabkan dihadapan para ”suhu” di markasnya di Jogyakarta….dan seiring gempa melanda negeri kita ini, saya mendapatkan perintah untuk berpartner dalam mengelola pembelian proyek donasi senilai juta juta dolar….saya shock!…I am nothing dalam hal ini….tapi, akhirnya saya pun mau harus membangun capacity building, dan memulai lagi memperkuat sisi duniawi yang selama kuliah perlahan saya tinggalkan….prinsp spiritualitas pun akhirnya menjadi “kejarlah dunia seakan-akan engkau hidup selamanya, tetapi kejarlah akhirat seakan-akan engkau akan mati esok hari”…tapi kemampuan zuhud pun perlu dikembangkan…yaitu mengejar dunia, tanpa terikat duniawi….

Alhamdulillah, partner saya itu mengajarkan banyak hal, yang tidak sedikitpun pernah saya dapatkan di organisasi pemerintahan yang membesarkan saya….saat polaritas itu muncul, mengharuskan saya membuat ukuran-ukuran dan kepentingan negosiasi, maka dia hanya tertawa-tawa saja…. “jangan ragu untuk melunak kepada orang…tapi tetap harus istiqamah berkeras pada masalah”.

nah, ada saat saya ditempatkan dalam suatu struktur keorganisasian…dan saya pede banget karena education and skill background saya cukup strategis dan relevan, memungkinkan ide inovasi saya akan banyak tertuang dan searah dengan bos saya…namun saat berjalan, sang bos malah pindah…dan sang pengganti malah menganggap saya sebagai ”new comer” karena saya memang experience skill nya nol dibidang itu…apa partner saya bilang? ”Teh..belajarlah untuk merunduk ketika akan memasuki suatu pintu, dan barulah tegap ketika sudah ada didalamnya”…astagfirullah, saya hampir celaka dengan ke’pede’an saya…saya perlu untuk untuk merendahkan hati dulu dan mendelete latar belakang diri untuk bisa belajar teknik operasi di bidang tersebut dalam jangka waktu tertentu….saya harus memahami situasi realnya dulu, barulah saya bisa ideal dalam solusi dan visi….saya tidak akan pernah bisa membuat satu solusi yang ”bermanfaat” jika saya sendiri tak pernah paham masalahnya….

Teman….dalam hidup kita akan selalu dihadapkan dalam setiap pilihan…dilema karena perbedaan-perbedaan…ya, karena memang hidup ini terbentuk karena polaritas, karena baik dan buruk, karena nafsu syaitan dan iman malaikat, karena adam dan hawa….

Dari setiap perbedaan…mateng di ”pohon” atau di”karbit”…jalur ”normal”atau ”VIP”…kelas”reguler” atau ”extension”…”swasta” atau negeri”…”abroad” atau”lokal”…”penjilat” atau ”penyapu”… semua itu hanyalah peluang…peluang agar kita punya kemampuan untuk bisa mengadopsi kreativitas hidup ini….

sebuah renungan nakal disore hari….mudah-mudahan bisa memper”kaya” dan me”ninggi”kan pangkat jabatan hidup kita semua….padahal hidup kan cuma “mampir” sejenak…

– teteh –

Iklan




MEMPERTANGGUNGJAWABKAN SEBUAH JABATAN

20 10 2008

JABATAN atau KEKUASAAN adalah al-amanah, yaitu kepercayaan yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada yang memberi jabatan tetapi juga kepada Allah sang pemberi amanah. ”Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai PERTANGGUNGJAWABAN tentang kepemimpinannya.” (HR Muslim).

Yang diberi jabatan pun harus memiliki KAPABILITAS terhadap jabatan yang diamanahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah, ketika DITAWARI kedudukan TINGGI dan menjadi kepercayaan Raja Mesir, ”Yusuf berkata, jadikanlah aku bendaharawan negeri Mesir, karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) dan berpengetahuan.” (QS Yusuf /12:55)

Di samping itu, untuk mendapatkan suatu jabatan harus dengan CARA yang BENAR dan tidak DIMINTA dengan penuh AMBISI. Ini terkait dengan ‘adalatul ‘am atau keadilan publik. Pernah Abu Musa bersama dua orang Bani Ammi menemui Rasulullah dan salah satu meminta Rasulullah memberikan jabatan kepada mereka, Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya, demi Allah! Kami tak akan memberi amanah kekuasaan kepada seseorang yang memintanya, dan juga pada orang yang berambisi padanya.” (HR Muslim).

Rasulullah juga berpesan pada Abdurahman bin Samurah, ”Janganlah engkau MENUNTUT suatu jabatan. Sungguh jika diberi karena AMBISImu, maka kamu akan MENANGGUNG seluruh BEBANnya. Tetapi, jika ditugaskan tanpa ambisimu, maka kamu akan DITOLONG mengatasinya.” (HR Bukhari & Muslim).

Dalam kitab Al-Imarah, Imam Muslim meriwayatkan Abu Dzar ”Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku jabatan?” Rasulullah menepuk pundaknya dan bersabda ”Wahai Abu Dzar, sungguh engkau itu LEMAH, sedangkan jabatan itu amanah. Jabatan akan menjadi KEHINAAN dan PENYESALAN pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan BENAR dan melaksanakan kewajiban yang diembankan kepadanya.”

Ath-tha’ah atau ketaatan, maka TUNAIKANlah amanah jabatan dengan sebaik-baiknya, jika tidak maka akan menjadi kehinaan, tidak saja bagi diri sendiri juga kepada orang lain di sekitarnya. Rasulullah SAW bersabda ”Apabila amanah diSIA-SIAkan tunggulah saat keHANCURannya.”.

Dengan semua contoh riwayat itu, maka sudah saatnya kita HIJRAH menyikapi kenaikan jabatan seseorang tidaklah dengan syukuran pesta-pesta atau sekedar ucapan selamat, namun denganlah cucuran AIRMATA SEDIH dan TAKUT mengingat beratnya pertanggungjawaban di akhirat kelak, dengan iringan DOA keselamatan dan…lafadz INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UUN…mungkin terasa janggal ya dijaman serba dihalalkan ini, namun ingatlah kepada SIAPA kita akan meminta syafaat saat kiamat dan mashar tiba….segala sesuatu datang dari-Mu dan kepada-Mu lah semuanya kembali, Ya Allah…

– Teteh –
sumber : disarikan dari nasihat bijak seorang ayah tua via SLJJ, yang saat ini masih memegang amanah jabatan Suami, Ayah, Kakek, Ketua RW, Kacab Persis Bandung, dan pimpinan sekian karyawan





BULE AUSTRALIA…DAN PUASA RAMADHAN

20 10 2008

Aneh juga kalo kroco macem saya ini harus mewakili RSVP-nya big bos ke gedung Centre For Strategic and International Studies, ghak phantess!. Tapi apaboleh, karena itu disposisi, ya duduk manislah di Seminar Expressing Islam : Religious Life and Politics in Indonesia. Mau tahu yang terjadi, kawan?

Saat pulang seminar, saya di “Selamat Siang Mba” oleh Pak Polisi di per4an Harmoni karena tragedy lampu merah maju terus pantang mundur (damai 30 rebu deh hi hi). Paginya pun, untuk nyampe ke gedung tua CSIS di Tanah Abang III itu kudu muter-muter bingung jalan dan baru nyampe 1 jam setelah acara berlangsung. Yang hadir sih para akademisi dan politisi senior dan ngetop lah, tapi gak ada gitu akademisi ulama atau MUI, heran. Narasumber lokalnya hanya Dr. Hadi Soesastro CSIS dan Dr. Anis Baswedan-Universitas Paramadina, sisanya??? 90% semua bule Australia, waaauww!!!

Dr. Greg Fealy dari Australian National University bicara panjang lebar tentang How Consuming Islam, yang slide-nya full gambar iklan2nya MQ nya Aa Gym, Wisata Hatinya KH Mansyur, SMS Quran-nya Uje, cover lagunya Opick. Mengupas sisi marketing mereka doank, ga lebih.

Women and Islamic Politics sangat ringan diulas, sekedar menyebut partai-partai Islam tertentu yang pro dan kontra. Mbak Robin Bush, Doktor dari The Asia Foundation membahas tentang Trends Local Shari’a Law Implemention. Yang ditampilkan hanya data-data statistik perbankan dan sekian Perda syariah, yang semuanya dengan mudah bisa kita dapat sendiri dari mesin google aja.

Ini yang lucu, Ian Wilson, Doktor ganteng dari Murdoch University kebagian membahas Islam dan Preman Groups, justru 99% membahas mendalam tentang FBR daripada katakanlah FPI, lengkap dengan foto-fotonya. Perasaan, FBR kan komunitas etnik, tidak mewakili komunitas Islam, gimana seeeeh!

Walaupun acara disclosing oleh Prof Azyumardi Azra-Director Post Graduate UIN Syarif Hidayatullah, dan diakhiri dengan maem Nasi Bali bareng, tetep aja beberapa temen2 saya yang mewakili akademisi UI sangaaaat gak puas, saya pribadi juga. Very childish proposal, bukan strategic studies, karena tidak memberi ruang secara penuh dari berbagai sudut pandang dan koridor Islam terutama yang berdasarkan Al Quran dan Al Sunnah. So, fully im not recommending you at all for reading those such paper (apalagi kalo harus beli, gak usah deh).

Well, itu hanyalah salah satu ekspresi ketidakpuasan dan kekecewaan dari sekian banyak anugrah dan kebahagiaan hidup seorang manusia, astagfirullah….bersyukur doooooonk…

Ya, ya bersyukur…alhamdulillah, Ramadhan sebentar lagi, bulan terindah penuh rahmat magfirah dan ampunan Allah. Malaikat Jibril senantias berdoa menjelang Ramadhan:

“Ya Allah, tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan mereka tidak bermaafan kepada kedua orang tuanya, tidak bermaafan seorang suami kepada istrinya dan istri kepada suaminya,tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”

Maka Rasulullah pun mengatakan “Amiin, amiiin, amiiiiin” . Dapatkah kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat, dan yang meng”amiin”kan adalah Rasullullah serta para sahabat, pun dilakukan pada hari Jumaat !!!! Coooool…

Temans, tolong ikhlas maafkan segala kekeliruan dan kekhilafan saya ya, yang mungkin melahirkan segala sifat iri dengki dan sakit hati, sejak masa perkenalan kita Jurangmangu dulu, perkuliahan maupun dalam pekerjaan sampai sekarang ini. Semoga kita tidak meninggalkan satu haripun ibadah wajib puasa ramadhan ini, menjalaninya dengan khusyuk, sehingga diberkati dan dirahmati Allah, diampunkan segala dosa nista hina kita. Semoga kita dapat kembali lahir menjadi manusia-manusia yang saling menyayangi dan mengasihi, serta rindu untuk selalu berbuat kebaikan, amin Insyaallah. Maaf maaf maaaaaf…..

Selamat Berpuasa Ramadhan teman-teman !!!

– Teteh –