TERNYATA AKU MAKIN CINTA…CINTA SAMA KAMU

21 10 2008

Saat berpakaian ba’da shubuh menjelang aktivitas hari jumat ini, dari
sebuah acara rohani langganan di stasiun televisi swasta, sayup
terdengar suara dalam telepon…

“Mamah, AA…curhat donk! saya ibu Mira di Pasarminggu. Saya anak tertua
dari 4 bersaudara, sudah berkeluarga semua. Ibu kandung kami yang
sudah PIKUN tingggal dirumah saya. Saya SAYANG dan senang beliau
tinggal bersama saya untuk saya rawat. Namun sekarang ini perilaku dan
ucapan beliau seringkali sangat MENGGANGGU ketenangan rumah dan
tetangga kami, karena beliau berkhayal menjadi REMAJA dan ingin
MENIKAH lagi. Keseharian beliau dirumah KURANG terperhatikan karena
kami semua pergi bekerja. Kami berencana untuk memasukkan beliau ke
rumah panti JOMPO yang memberikan fasilitas dan pelayanan yang baik,
serta beliau dapat mengikuti kegiatan-kegiatan didalamya. Demi Allah
tidak ada NIAT BURUK, murni kasih sayang kami kepadanya agar beliau
mendapat kehidupan masa tuanya yang lebih SEJAHTERA, diperhatikan dan
dirawat dengan baik. Serta gangguan pikunnya pun dapat ternetralisir
karena berada dalam KOMUNITASnya. Daripada tidak terperhatikan karena
kami semua sibuk dengan aktivitas keluarga dan pekerjaan
masing-masing. Pertanyaan saya adalah….BERDOSAKAH kami dengan niatan
itu?

Mamah Dedeh, sang ustadzah, terdengar tangkas dan tegas menjawab
pertanyaan itu…”Jawabannya adalah DOSA!!!!! Coba ibu Mira lihat surat
Al Isra 23-24…”Dan Tuhanmu telah memerintahkan tidak menyembah selain
Dia, dan BERBUAT BAIKlah kepada kedua orangtuamu. Jika salah satu atau
keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, jangan
sekali-kali kau mengatakan AH dan memBENTAKnya. Ucapkanlah kepada
mereka perkataan yang BAIK. RENDAHKAN dirimu kepada mereka dengan
penuh KASIH sayang dan ucapkan “wahai Tuhanku, sayangilah mereka
seperti mereka kepadaku sewaktu aku KECIL”…” …jadi Ibu Mira, BATALKAN
niat memasukkan ibunda ke panti jompo. Apapun kendalanya itu adalah
UJIAN dari Allah SWT. Rawatlah ibunda di rumah. Tidak ada tempat yang
dapat menggantikan selainan kenyamanan rumah sendiri. Cobalah ingat
bagaimana dulu ibunda membesarkan anda dan adik-adik…apakah kalian
dititipkan ibunda ke panti ASUHAN atau tempat PENITIPAN? …tentu tidak,
pasti dilakukan ibunda dengan TANGANNYA SENDIRI, susah payah penuh
PERJUANGAN…tentu ibupun merasakannya bagaimana susahnya ibu merawat
dan membesarkan kepada anak-anak ibu sendiri sekarang”…

ah…teringat ibu bapakku yang sudah reyot peot…bagaimana susahnya
mengajak mereka tinggal dirumahku…berkali sudah mereka kujemput
kutahan kubujuk kuimingi segala macam perkiraan KESENANGAN, dan
berkali pula mereka segera BEBERES ingin pulang kerumah
mereka…teringat aksi NGAMBEK nya untuk urusan-urusan sepele, dan secepat
KILAT pula kepala mereka tiba-tiba NONGOL lagi di pintu rumah dengan
berbagai alasan LUCU, entah bagaimana mereka melakukannya diantara
jarak 120km-an rumah kami…kadang sering pulang kerja kudapati
lengangnya rumah, karena si kecilpun tanpa pamit sudah DICULIK
mereka….dan masih banyak lagi, duh…

Gemes? kesel? astagfirullah, sering banget…namun senantiasa terhapus
oleh ingatan MANIS semasa kecil dan remaja…ibu yang bercucuran
keringat kelelahan dan kepanasan menjejeriku berjalan saat karnaval
TK…bagaimana semangatnya mereka menyediakan segala yang terbaik untuk
perlengkapan sekolahku dan lebaranku…ibu yang telaten menyuapiku 3
minggu kala sakit typhus saat kelas 5 SD…sampai malam ayah
mengotak-atik mobil jeepnya demi bisa mengajak aku KEMPING di pantai
setiap akhir tahun…betapa marah ibu saat ayah meNYENTILku karena
menyembunyikan surat cinta monyet dari teman sekelas SMP dibawah
bantal…bahkan masih terbayang ekspresi muka BINGUNG mereka mereka saat
aku pubertas SMA…dan terkenanglah kembali tetesan airmata MAHAL yang
coba ayah sembunyikan saat menikahkanku, yang kali itu PERTAMA
kulihat…indaaaaah…..

Ups! masih pukul 10 pagi… kulirik tas keresek dari koperasi kantor
berisi 2 piyama merek Kencana Ungu, ingat terakhir kubelikan saat ayah
operasi hernia 4 tahun lalu…lalu kuraba gelang magnet dymium dikakiku,
yang saat lebaran kemarin menjadi topik pertanyaan ibu yang tiada
habisnya, masih ada nih, tentu akan segera pindah menghiasi kulit
kisut pergelangan ibu…tak sabar rasa hati menunggu 7 jam lagi untuk
segera bersua sore ini, sekaligus menjemput pulang liburan si kecil…

Mamah Dedeh tengkyu yaaa…lamat terdengar suaran jadul Vina dari speaker
sebelah PC jadulku….”ternyata…aku makin cinta, cinta sama kamu, hanya kamu seorang kasihku…tak ingin yang lain…” oh Bandung, Im coming home…

– teteh –

Iklan




TANGAN TERINDAH DI DUNIA

20 10 2008

”Mamaaah lama banget sih. Cape nih nunggunya…” dulu saat remaja, kata-kata itu sering banget kuucapkan saat mengantar sang Mamah modis belanja baju, pilih ini itu, ngepas sana sini. Bahkan tak jarang kubumbui dengan mulut manyun dan menggrundel gak keruan, lengkap pokoknya. Sampai ada masa, dimana aku cukup dengan hanya ngedrop Mamah di lobby store, dan ga mau menemaninya berbelanja, beteee nungguinnya…

Dan itu sudah sangat lama berlalu…saat kemarin hari minggu di Bandung, aku berkesempatan menemani sang Mamah yang sudah berubah menjadi nenek, belanja kebutuhan bajunya. Tentunya sekarang aku tidak bete lagi menunggu, karena dibikin sibuk oleh putri kecilku dengan segala kelincahan candanya. Terlihat, Mamah sibuk sendiri memilih dan mengambil baju, bolak balik masuk kamar pas. Namun kali ini terasa lebih lama,…lebih lama dari kebiasannya mematut baju dikamar pas…

Akhirnya, syaitan ketidaksabaran itu pun muncul…rasa penasaran menuntunku untuk mencoba turut masuk kekamar pas bersamanya. kulihat…bagaimana Mamah mencoba pilihan pakaian ketiganya itu dengan susah payah…tubuhnya harus begitu pelan dia sandarkan ke dinding kamar pas, hanya untuk dapat memasukkan kedua kakinya ke lubang pakaian yang dia pilih…sambil bibir mungilnya nyengir menahan rasa sakit rematik di tungkai kakinya…perlahan dia bungkukkan badannya dan menarik gaun menuju ke atas badannya…pelan sekali..

Seketika rasa penasaran dan ketidaksabaranku terganti oleh suatu rasa kasihan yang begitu dalam kepadanya. Aku berbalik pergi keluar kamar pas, dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar berderai tanpa henti dan disadari…

AKu mencoba sedikit mengintip dari celah kain pintu…terlihat Mamah kembali harus susah payah menyilangkan tangannya ke belakang untuk menarik ristleting dan mengikatkan tali-tali hiasannya….terlihat tangannya begitu kaku, lamban, dan gemetaran, karena radang sendi menemani usia tuanya.

Sambil menenangkan diri dan melapangkan dada yang begitu sesak ini, aku pun segera menerobos kembali kain pintu kamar pas, dan tanpa suara, untuk pertama kalinya selama hidup ini, kubantu dia menarik ristleting dan mengikatkan tali-tali hiasannya. Ah, rasanya tak pernah mamah secantik ini dengan gaun indah pilihannya…setelah dibuka kembali, tanpa berkata-kata gaun pun kubawa ke kasir…

Selama menghabiskan sisa hari minggu itu, pikiranku tetap saja kembali pada saat di kamar pas tersebut…terbayang badan Mamah yang berusaha bersender pada dinding…tangannya yang gemetar berusaha menarik ristleting dan mengikat tali-tali hiasannya…Badan yang telah menyangga tubuhku 9 bulan di dalam rahim…merengkuh kemungilan seorang bayi dalam pangkuan buaiannya, kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi, memandikan, memakaikan baju, membelai dan memeluk dengan kasih, dan terlebih dari semuanya, kedua tangan itulah yang selalu menengadah mendoakan anak-anaknya…dan sekarang, tangan itu pula yang telah menyentuh hati seorang anak dengan cara yang paling membekas…

Tanpa berlama-lama, saat antri di kasir, kedua tangan indah itu telah ada dalam rengkuhan tangan seorang anak, lalu menciumnya, dan mengejutkannya dengan memberitahukan bahwa, kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini…

Jazakallah alhamdulillah, Allah telah ciptakan dengan penuh keajaiban, dan sampai saat ini belum ada yang dapat menandingi keindahan tangan ibu… Allah telah membuat seorang anak yang tidak tahu diri ini dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu.

Hanya dapat berdoa, suatu hari kelak tangan yang sedang kutengadahkan ini pun harus memiliki keindahannya tersendiri…

– Teteh –