PAK USTAD, NARKOBA DAN TEMAN SHALIH

20 10 2008

Saya perkenalkan namanya Sabarudin, saat ini memasuki MPP di
Badan POM, namun dilingkungan Kampung Poncol Bekasi, dia seorang ustad
yang rendah hati dan berilmu tinggi, kurang senang jika dipanggil pak
haji, walaupun sudah lima kali terpilih Allah berangkat ke tanah suci.
Rumahnya sederhana hanya 4 x 10 m saja, tapi mesjidnya 10 x 20 m dan
perpustakaan umumnya 15 x 12 m. Rumah dan perpustakaannya tak pernah
sepi dari alunan ayat al-quran diselingi tawa gembira anak-anak, yang
terusir dari mesjidnya sendiri oleh engkong-engkong tua yang merasa
terganggu ibadah karena keriangan canda mereka.

Kedua putranya yang berwirausaha adalah master lulusan IPB, tidak
pernah kos selama kuliahnya namun menumpang di mesjid sambil merawat
dan memakmurkannya, sedang putrinya adalah sarjana dari UNJ, semuanya
sudah berkeluarga dan memberikan pak ustad 4 cucu yang lucu-lucu dan
menyejukkan hati.

Kesenangan beliau adalah “melepaskan hak”, terutama masalah materi /
duit, apapun yang disenangi orang lain lalu diminta darinya, sarung,
pot bunga, kursi tamu, kopiah, alquran, buku, waktu pribadinya, sandal
jepit, hak warisannya, beliau selalu senang hati ikhlas memberikannya.
Penampilan beliau sangat sederhana namun bersih, senyum sapa
senantiasa terbingkai di wajahnya. Mobilnya Suzuki Carry 80-an
layaknya omprengan UKI, namun dia lebih sering terlihat berjalan kaki
dan naik kereta listrik kemanapun. Setiap minggu bada subuh dia
memimpin acara cerdas cermat dimasjid, pesertanya dari mulai anak
kecil sampai nenek kakek yang udah reyot, 100 pertanyaannya adalah
hafalan doa dan ayat al quran, bagi setiap jawaban yang betul
berhadiah lima ribu rupiah dari amplop gajiannya, tak jarang uang lima
puluh ribu dibawa pulang para peserta yang pintar karena rajin
menghafal, betul betul minggu ceria.

Kedatangannya semalam ke rumah paman adalah bersilaturahmi,
berdiskusi mengatur jadwal pengajian mingguan KITA Kajian Ilmu Tauhid,
dan membawakan kami oleh-oleh sebuah “amplop”. Jangan salah kira dulu,
isinya materi seminar yang siangnya dia hadiri di Aula Fakultas
Kedokteran Salemba UI, yaitu tentang NARKOBA, SUPLEMEN EKSEKUTIF MUDA.

Salah satu narasumbernya, Prof Dr. Sri Hartati R Suradijono MA, Guru
Besar Fakultas Psikologi UI, mengatakan bahwa gejala penyalahgunaan
NARKOBA dalam gaya hidup masyarakat sudah berlangsung sejak dulu.
Zaman dahulu, orang menggunakan ROKOK dan MINUMAN KERAS. Sedangkan
sekarang, pil EKSTASI dan ragam narkoba lainnya digunakan untuk
mencari jalan keluar dari stres secara instan.

Padahal NARKOBA bukanlah jalan keluar, melainkan suatu PELARIAN. Si
pengguna tidak menyelesaikan masalah pencetus stres, tapi melarikan
diri dari stres dengan cara melupakannya (SEJENAK). Bedanya dengan
rokok, ekstasi dan narkoba lainnya memberikan efek LEBIH CEPAT DALAM
MERAIH RASA SENANG, dan juga LEBIH CEPAT DAMPAK KERUSAKAN OTAK yang
bisa ditimbulkan.

Karena gemar mencari efek atau sensasi itu, maka banyak pekerja
kantoran yang mengalami stres dan tidak bisa menyelesaikannya. Atau –
ini yang sungguh ia sayangkan – sebenarnya mereka “MALAS” mencari
jalan keluar secara bertahap.

Yang membuat masalah makin berat, umumnya pekerja kantoran pengguna
narkoba menganggap dirinya mampu mengontrol diri sepenuhnya, kapan
mereka boleh memakai dan kapan tidak. Bahkan mereka menegaskan “saya
bukan pecandu”. Padahal apapun jenis narkoba dan seberapa kecil
dosisnya termasuk ROKOK, semua mengandung potensi menimbulkan adiksi
atau KETAGIHAN.

Narkoba (narkotika dan obat terlarang lainnya) dimaknai sebagai setiap
zat – selain makanan, hidrogen dan oksigen – yang bila masuk ke dalam
tubuh seseorang lalu menimbulkan perubahan, baik fisik maupun
psikologis. Itu sebabnya, KAFEIN pada KOPI pun bisa berubah menjadi
NARKOBA JENIS STIMULAN. Dari segi medis narkoba digolongkan menjadi
tiga golongan yaitu :

1. Stimulan (KAFEIN, NIKOTIN, ekstasi, shabu, kokain dll), efeknya
meningkatkan detak jantung, proses berpikir lebih cepat, banyak
bicara, mata melek dalam waktu lama
2. Depresan (heroin dll), efek golongan ini semua terasa nyaman,
tenang, santai, gembira, karena kemampuan motorik menurun.
3. Halusinogen (ganja, LSD dll), efeknya seorang berhalusinasi visual
atau dengar, karena terjadi gangguan persepsi dari panca indra.

Yang paling banyak dipakai pekerja kantoran adalah golongan stimulan.
Meski berbeda golongan, efek-efek tersebut bukanlah harga mati,
artinya efek bisa berbeda-beda tergantung metabolisme tubuh, mood dan
kondisi psikologis pengguna yang bersangkutan.

Apapun alasan pengguna narkoba, masalah ada pada KEPRIBADIAN para
pengguna. Ciri khas kepribadian pemakai adalah mereka ingin terus
menerus mencari PLEASURE FEELING. Akibatnya otak yang bisa memunculkan
rasa senang secara alami, karena pengaruh obat stimulan, menjadi
RUSAK. Rasa senang hanya muncul jika ada obat, NEURON otak rusak dan
berfungsi TIDAK OPTIMAL, serta mempengaruhi PRODUK otak itu sendiri,
yaitu HASIL PIKIR. Kemampuan berpikir MENURUN sehingga tindakan
pengguna menjadi ABNORMAL bahkan di luar kendali.

Idealnya, mencegah penyalahgunaan narkoba harus dimulai sejak BELIA.
Perlu ditanamkan pada anak-anak bahwa SUKSES TIDAKLAH BERDASARKAN
MATERI, sehingga anak akan tumbuh besar dengan kepercayaan yaitu
PERCAYA DIRI pada apa yang DIA MAMPU, bukan pada apa yang DIA MILIKI.
Penting BELAJAR dari KEGAGALAN perlu ditanamkan, sehingga mereka nanti
tak perlu merasa harus cepat-cepat mencari TAMENG narkoba untuk bisa maju.

Bagaimana dengan yang sudah TERLANJUR DEWASA? tidak ada kata terlambat
untuk berubah. Yang penting usaha untuk berubah harus muncul DARI DIRI
SENDIRI. jika hanya karena paksaan pihak lain, perubahan tidak akan
berlangsung lama. Salah satu sebab menjadi pengguna adalah mereka
bertipe EXTERNAL LOCUS CONTROL, bahwa “saya bisa karena beruntung dan
saya gagal karena atasan saya, dan sebagainya”.

Padahal locus control atau kontrol diri haruslah SEIMBANG eksternal
maupun internal, sehingga memandang kegagalan sebagai cara mempelajari
kesalahan dan terdorong untuk melakukan PERUBAHAN. Pengaruh eksternal
pasti ada, namun pastinya DIRI SENDIRI PENYUMBANG PERAN TERBESAR. Maka
belajarlah mengubah pola pikir ini, tanamkan selalu bahwa diri kita
tetap bisa SUKSES BERGAUL dan BERKARIR tanpa menjadi pengguna.

Pada akhirnya, stres yang muncul dalam pekerjaan adalah hal ALAMI,
maka kita BUTUH ORANG LAIN untuk melihat dari SISI LAIN. Kita perlu
TEMAN SHALIH untuk menjadi PENDENGAR yang baik, karena keruwetan
pikiran perlu kita keluarkan secara BERKALA. Beruntunglah bagi mereka
yang sudah MENIKAH dan menjadikan pasangannya menjadi PARTNER
bercerita yang baik. Namun bagi yang MENYIA-NYIAKAN pasangannya,
celakalah mereka baik dalam kehidupan saat ini maupun di akhirat
sebagaimana Allah telah tetapkan. Selain itu, bukankah dengan
BERCERITA, cerita itu bisa kembali kita jadikan tujuan untuk MENGUBAH
DIRI ?

– teteh –
Hikmah silaturahmi semalam ke rumah Paman, semoga bermanfaat

Iklan