Tetaplah memberi

19 04 2010

Pagi ini,  saya senang banget bisa berkesempatan duduk sarapan lontong
sayur berdampingan dengan seorang sahabat.  “Teteh, ayo dong kapan bikin
lagi, kangen dengan tulisannya”. Hayyah, malu lah hati ini, karena
berbagai hal alasan sampai tak bisa menyisih waktu untuk berkunjung dan
meramaikan dunia persilatan milis kami.

Oke lah kalo beg beg begitu…demi menyenangkan hati sang sahabat, saya  sempatkan luang waktu makan siang ini untuk menulis sedikit pengalaman pribadi saja ya, semoga ada hikmah bermanfaat yang bisa dipetik.

Ehm ehm, bismillah, begini ceritanya,

September 2009, karena hal sepele terjatuh saat mengganti lampu, adik kami
mengalami cedera tulang belakang, sehingga sakit bila bergerak dan sulit untuk berjalan. Berbagai dokter yang kami datangi memberikan analisa dan keputusan tindakan medis yang berbeda, ini sangat membingungkan.

Begitu indah Allah mengatur semua. 9 Februari 2010 tanpa sengaja kami
berbincang dengan penjaga toilet bandara yang baru saja mendapatkan sedekah besar dari seseorang yang rutin PP Singapore karena profesinya sebagai dokter bedah tulang. “namanya Dokter Lutfi” begitu kata sang penjaga.

Dari mesin google kami dapatkan beberapa RS di Jakarta sebagai tempat praktek beliau, hampir semuanya terjadwal penuh. Alhamdulillah satu nomor tersisa yang mempertemukan kami dengan beliau di RSPI. Analisa dan keputusannya adalah, kerusakan pada tulang belakang 4 dan 5 harus dikikis, diganti dengan tulang pada pangkal paha lalu disambungkan kembali.

Operasi yang dilakukan oleh tim dokter yang beliau pimpin berjalan dengan
lancar. Kami sangat bersyukur hanya perlu 3 hari saja adik kami pulih pasca
operasi, sudah boleh pulang kerumah dan dapat bergerak serta berjalan normal kembali.

Saat pembayaran hampirlah copot jantung kami karena kuitansi menunjukkan pengurangan hampir 40 % dari 90 jutaan yang harus dibayar. Cashier menjelaskan bahwa sepasang pen/ alat sambung seharga 30 juta ternyata sang dokter bawa dan beli sendiri dari distributor dengan seharga cuma 10 juta saja, dan beliau mengembalikan biaya jasa operasi yang menjadi hak beliau beserta tim senilai 20 juta-an, dan beberapa biaya terkait jasa beliau dan tim senilai 10 juta-an.

Beliau jugalah yang menyarankan kami untuk melakukan operasi di RS Mitra
Kemayoran, karena lebih ekonomis dibanding RSPI dan karena beliau adalah ketua tim operasinya. Saat reservasi, dengan cueknya beliau tanpa diminta menggaransi segala pengeluaran kami di RS, padahal sesuai peraturan kami seharusnya diawal mendeposit uang sebanyak 80% dari total estimasi biaya.

Kami baru kenal saat itu, saudara atau teman pun bukan, bahkan tak pernah seucap kata pun kami pernah meminta semua yang telah beliau lakukan itu, selama ini kami hanya pasrah sujud minta kemudahan saja dari Allah. Kami juga sangat terkenang dengan kata sikapnya yang begitu sopan dan santun. Ranking ke-4 ahli bedah tulang se-Asia ini begitu bawel dan humoris saat menerangkan, ramah dan gemar hormat merundukkan badannya seperti padi yang makin meninggi dan berisi.

Itu kenapa kami gemar sekali membincangkan pengalaman luar biasa ini kepada teman kerabat saat menjenguk, ataupun dengan tulisan seperti ini. Amanat Rasulullah, ibrah nikmat dan kebaikan Allah melalui seseorang seperti Dokter Lutfi ini harus banyak diceritakan agar banyak orang bisa mendoakan beliau sebagai balasan dari kami, dan bisa mencontoh kebaikan beliau sesuai kapasitas kita masing-masing.

Entah itu sekolah, rumah tangga, persahabatan, kesehatan, pekerjaan atau dalam usaha, semua itu adalah ujian kehidupan. Bagi yang sedang sakit jasmani, puyeng kepalanya, mentok karirnya, sedang merugi atau ditipu usahanya, semua itu hanya ujian hidup. Jangan bersedih, tetap bersyukur dengan ceria semangat dan ditingkatkan sabar tawakal ikhtiarnya, tetaplah memberi sesuai dengan kapasitas amanah yang Allah telah berkahkan kepada kita.

Yuk kita terus meminta hanya kepada Allah. Sang Maha Pengasih tahu betul apapun yang terbaik dan dibutuhkan serta saat yang tepat untuk kita. Pertolongan Allah akan datang, bahkan dengan aneka cara, waktu dan bentuk yang bahkan hal yang tak pernah kita bisa duga. Nikmat mana lagi yang harus kita dustakan dalam hidup ini. Allah itu baik banget, Maha Pemberi.

“Ah, aku ini siapa, apa sih yang bisa aku kasih”. Padahal ingin memberi itu
adalah fitrah, jadi memang gak perlu menahan diri. Bukan materi dan manfaat
secara material saja, tapi yang namanya memberi walau sedikit akan menumbuhkan cinta dan persaudaraan. “Memberi ikhlas sebutir kurma pun akan menghalau dari api neraka. Maka saling menghadiahilah, niscaya kalian akan saling mencintai, dan menghilangkan kedengkian”, begitu Rasulullah bilang.

Cerita membantu dan memberi, saya yakin betul banyak teman-temanku ini udah pada jagonya, Temu kangen dan traktiran, bakti sosial bersama, kalau sakit saling menjenguk, kepada yang wafat datang bertaziah, yang lahiran ditengokin, yang putus asa disemangatin, souvenir luar negeri kacang batam udang sambel kerupuk keripik bandeng tahu-tahu nemprok di meja, dipinjemin mobil, ditemenin wisata kota, bahkan yang dinas keluar kota pun sempat-sempatnya extra bagasi nenteng dus-dus bertuliskan Bhek Putra, duh duh duuuh, luar biasa.

Subhanallah, semoga ini bisa terus kita lakukan. Dalam kapasitas apapun dan
sekecil apapun, tetaplah memberi, jadikan semua itu tabungan EPOS yang pasti Allah cairkan pada saat yang tepat, bahkan dari arah yang tak pernah kita duga.

Iklan