QURBAN…DAN SAAT KITA MENJADI JENAZAH

26 11 2008

Rekans,

Kemarin sore sepulang kerja, saat mata mengantuk terbuai mesin bis
jemputan, 5 kali HP berbunyi, terkabar seorang uwak (bude) saya
meninggal dunia, dalam keadaan sakit pusing saat memberikan ceramah
bada Ashar kepada ibu-ibu di masjid. Perjalanan ke rumah pun berubah
arah, dibawah gerimis hujan Teteh berpacu waktu naik ojek menuju Duta
Harapan Bekasi. Jenazah telah dimandikan dishalatkan bada Isya pun
kami siap berangkat mengantar, dan pukul 10 malam alhamdulillah telah
dikebumikan di pekuburan keluarga di Garut. Sebuah akhir perjalanan
hidup yang begitu singkat…menyisakan renungan dihari ini…

Walau mata dan badan terasa berat terbangun, di pagi hari tadi Teteh
masih bisa masak sarapan pagi nasi dan sosis goreng…kalaupun dengan
tempe atau hanya nasi goreng saja, sebenarnya masih bagus…tapi kerap
saja ada mulut manusia berbicara lain “kok cuma nasi goreng aja, apa
tidak ada yang lain? akhirnya, sampai sore sepiring nasi goreng itupun
tidak dimakan, pun tidak jadi dibawa bekal kekantor, makan siang pun
harus keluar ongkos dan bayar berlipat, berhamburlah uang diiringi
kemubaziran yang sebenarnya potensial untuk meningkatkan kesejahteraan
kaum dhuafa…

Rekans, Teteh menghitung tak terasa sudah lebih dari 10 tahunan ternyata kita sudah 13
tahun punya penghasilan tetap, masih saja diantara kita termasuk Teteh
sering keluar keluhan bahkan protes “kerja kok begini-begini aja…gak
ada perubahan…”

Dan tidak jarang para backing vocal dirumah pun bernyanyi, entahlah
istri kita, anak atau orang tua sanak kerabat kita “cari kerja
tambahan dong..biar kayak si A tuh…atau pindah cari kerjaan lain gitu
seperti si B, kan enak jadi bos…”.

Disaat teman kita menadah tangan untuk dipertemukan dengan jodohnya,
ada dari kita yang telah dikaruniai isteri yang sabar dan shalihah,
pun dulu dipilihnya sendiri, masih saja berpaling, ” dia memang baik
sih, pinter ngaji dan bagus ibadahnya, lumayan seksi lah…tapi gak
ngangenin kayak si C gitu, dan cuek banget…”.

Sama saja dengan para wanita yang diberikan Allah jodoh lelaki
pas-pasan, lalu berkata “suami ku sih ya bokek ya standar…mending
dikasih ganti yang bagusan dikit gitu ya…andai saja dulu aku mau ya
dilamar si X yang udah jadi presdir sekarang”

Alhamdulillah, sudah diberi rizki rumah sendiri, walaupun masih
cicilan di BTN, tak sedikit banyak mulut kita ini menggerutu
“duuuh…coba ya kayak si D, punya rumah ditiap kota, ruko-nya banyak
disewakan, malah ada rumahnya yang percis hotel, di kompleks elit dan
full AC adeem…sementara, kita cuma punya rumah sempit, gerah , sesak
banget. Betul-betul gak betah, tapi lumayanlah…”

Padahal kalau kita mau membayangkan, masih banyak kerabat kita yang
terdampar di emperan toko, bahkan teman kerja kita pun masih banyak
yang masih ngontrak rumah petak, dan hanya mampu bermimpi-mimpi saja
punya rumah sendiri.

Bahkan banyak kita ini para istri begitu malu saat suaminya naik
angkot atau KRL atau motor butut tahun lama “Motornya jangan dipake
lagi lah pak…beli mobil gitu gimana caranya, kan keren gak ngisini…”

Diantara sekian banyak teman kita yang merindukan momongan begitu lama
menanti…masih ada diantara kita yang sudah dikaruniai anak, normal
dan sehat, namun kurang kinclong dibanding anak-anak lainnya, lantas
begitu entengnya mencari pelampiasan atau kambing hitam ” iya nak,
bapak yang salah milihin ibu, jadinya kamu ngikutin ibumu demek
begini…” Dan diwaktu yang berbeda, si ibu juga mirip-mirip berkata
“maafin ibu ya nak…dulu memang ibu terpaksa menikahi bapakmu, karena
bapak cinta banget dan maksa-maksa ibu..tuh jadinya kamu item deh
kayak bapak”.

Bahkan tak jarang, tangan lentik kita yang seharusnya penuh belai
kasih, malah teracung tajam didepan hidung buah hati kita, menyentil
telinganya, dan satu paket dilanjut dengan cubitan merah ditangan atau
paha imut mereka, bahkan kompak dengan mata kita yang melotot marah,
duh…

Jabatan sudah mentereng, rezeki mengalir, tapi masiiiiih saja ada
diantara kita yang mendengki menginginkan suatu posisi yang diduduki
orang lain, kasak kusuk kesana kemari bahkan berbagai cara digunakan
untuk menghempas dan mengambil alih kursi kedudukan orang lain.

Tak jarang, bentuk silaturahmi pun kita sesuaikan dengan
“status”…bingkisan dan penyambutan pengikat kekerabatan pun lantas
dibeda-bedakan sesuai dengan urutan kelas “duniawi”…kalau jabatannya
mentereng bolehlah dijemput dan difasilitasi….padahal, kita cukup
sering mendengar cemoohan terhadap seseorang “ahh…dulu aja lagi kere
boro-boro ngedipin, sekarang aja manggut-manggut karena dia udah jadi
bos…” benar-benar kita semua sudah lupa akan arti
bersyukur…tidakkah kita berpikir bahwa kita juga akan diperlakukan
sama…bagaimana jika semua atribut keduniaan kita itu lepas, akan
bertahankah semua orang-orang yang menyanjung kita itu bersama kita?
atau akan hilang seiringan begitu saja? maukah kita mengalaminya?
akankah kita bisa mengurus jenasah kita sendiri, mandi shalat kubur
dan mendoakan jenasah kita kelak, tanpa mereka?

Kita, Teteh…tanpa disadari sudah menjadi orang-orang miskin
ya…miskin? Ya, miskin yang bukan karena kita tidak memiliki
apa-apa, tapi justru sebaliknya. Kita ini tengah berlimpah harta,
memiliki sesuatu yang orang lain belum berkesempatan memilikinya, anak
istri suami rumah kendaraan pekerjaan kesehatan investasi dan lain
sebagainya. Namun kita ini benar-benar miskin meski dalam keadaan kaya
raya, karena kita seringkali lupa untuk mensyukuri dengan segala yang
dianugerahkan Allah saat ini. Ya, kita ini miskin rasa syukur.

Punya sedikit ingin banyak, boleh saja. Kita dapat satu, lalu ingin
dua bahkan lebih silahkan tidak dilarang. Kita merasa kurang dan mau
lebiiiiih terus, ya silahkan. Tidak ada masalah dengan keinginan untuk
terus terus dan terus bertambah, karena memang demikianlah sifat
manusia…tidak pernah merasa puas. Pertanyaannya…yang sedikit itu,
yang satu itu, yang kurang itu, sudahkah kita mensyukurinya?

Rasa syukur itulah letak kekayaan kita sebenarnya. Berangkat dari rasa
syukur itulah kita akan merasaaaa kaya, sehingga melahirkan keinginan
membagi apa yang kita punya untuk orang lain. Kita “merasa” miskin
karena tidak pernah mensyukuri apa yang telah kita punyai. Meski dunia
ini ada digenggaman kita, namun jika tak terlatih rasa syukur dihati
dan terucap di lisan ini, maka selamanya kita ini miskin, selamanya.

Yuk kita berhitung…duduk santai di teras rumah…menikmati harumnya
secangkir teh hangat yang mungkin disediakan oleh istri/ suami/ atau
pembantu kita, tanda kita kaya punya hidung normal dan pasangan yang
normal…sesekali kita berjalan ke tetumbuhan dan kolam ikan memandangi
keindahannya, tanda kita punya kaki mata dan indera lainnya yang
sehat…anak-anak mencium tangan pamit sekolah…suami/ istri yang
mencium kening dan mendoakan kita kala berangkat kerja “hati-hati ya,
semoga barokah”…dikantor mendapat kemudahan parkir, saling menyapa
ramah dengan satpam, disambut ceria oleh para cleaning service, lalu
kompak bekerja disela canda tawa canda dengan atasan dan staf
kita…itulah kekayaan. Subhanallah, dengan semua itu bukankah kita
ini kaya raya?

Dan apakah contoh kekayaan lainnya? Teteh melihat sendiri kemarin,
bagaimana saat uwak meninggal, begitu banyak orang-orang yang tidak
kami kenal, keluarga bukan, tetangga komplek bukan, teman-teman
kerjanya bukan…lalu? Mereka ada yang dari Depok, Manggarai,
Purwakarta, Cilincing, Tambun, Rengas, entah mana lagi…semuanya datang
bersegera dengan pakaian sangat sederhana, naik KRL dan ngompreng dari
stasiun menuju rumah duka…

tanpa dikomando mereka begitu sigap membantu membereskan rumah,
mendirikan tenda, menyiapkan pemandian, kafan, dan
memandikannya…lebih sigap daripada kami keluarganya ataupun para
tetangganya…mereka mengaku sebagai kerabat dan saudara, karena
almarhumah pun sedemikian penuh kasih kepada mereka dalam menyantuni,
berkeliling mengisi pengajian, mengajarkan usaha rumahan, memberikan
modal dagang, gigih memotivasi mereka yang terbiasa menadah jatah
Qurban justru sekarang menjadi muslim kuat yang bisa berQurban…

ah, semuanya terlihat saat tiba beliau wafat, hanya dalam waktu 2 jam
efektif saja, pengurusan jenasah berjalan dengan sangat lancar…sudah
nongkrong ambulance APV sebuah yayasan dimana beliau aktif mengajar,
membawa beliau ketempat pengakhiran jenasahnya…dan, tepat pukul 10
malam di Garut kami telah disambut oleh ratusan warga desa kaum dhuafa
yang begitu kehilangan dan terkenang dengan kemurahan sedekahnya,
kembali berduyun menshalatkan, lalu para pelayat memegang obor
berjejer membentuk pagar sepanjang lebih kurang satu kilometer menuju
lubang pekuburan yang telah mereka siapkan…dalam heningnya malam
dipegunungan, diterangi jejeran obor bambu, menyaksikan keranda
seperti melayang berpindah dari satu tangan ke tangan pelayat lainnya
yang berjejer sepanjang lebih kurang satu kilometer mengumandang
syahdu shalawat dan zikir, ah indaaaah sekali…lebih indah dari
temaram obor kafe daun di Dago Bandung…mungkin itulah keindahan
amalan beliau yang dirasakan oleh begitu banyak orang (lain), tidak
oleh keluarga kerabat atau tetangganya saja…

Sampai sekarang pun Teteh masih saja bertanya pada diri sendiri…jika
saatnya tiba dicabut rizki nyawa kita, akankah kita semudah dan
seindah itu menjalaninya? sebanyak itukah orang akan melayat kita?
semudah itukah pengurusan jenazah kita? seindah itukah pengakhiran
jenazah kita? seberapa panjang dan lamakah orang-orang istri/ suami
anak keluarga kerabat tetangga mendoakan kita ? apakah akhlak
anak-anak kita akan terjaga, siapa yang akan membesarkan mendidik
menghantar kesuksesan hidup mereka? padahal kita masih saja berteman
setan dan bergulat dengan banyak nafsu dunia yang tiada puasnya…bahkan
tanpa kita sadari, kesuksesan dunia kita pun telah melahirkan begitu
banyak keirian, dengki , musuh dan kebencian diantara kita, keluarga,
kerabat, tetangga, banyak orang…

Kurang dari 2 minggu ini, para tamu Baitullah akan melempar jamarot di
padang mina, simbol sang setan pembawa nafsu dunia, dan manusia
selayaknya menang lalu mensyukurinya dengan berQurban…

Rekans, berQurbanlah…janganlah ragu dan berhitung-hitung dengan nikmat
Allah pada kita. Karena ada saja dari kita yang selalu merasa sayang
atau tidak mampu untuk berqurban seekor kambing dengan menyisihkan
uang hanya 600 ribu rupiah sekali setahun, atau 1700 perak perhari!
Bayangkan dengan nikmat yang terlimpah pada kita setiap harinya,
sebandingkah hitungan rupiah itu?

Rekans, BerQurbanlah…dimana saja. Tidaklah salah kita begitu mudah
menyalurkan Qurban diberbagai masjid diperkotaan yang juga sarat
dengan kemiskinan, namun mereka seringlah merasakan daging dengan
mudah diberbagai sedekah acara kaum perkotaan dibandingkan dengan kaum
miskin di pedalaman dan pelosok. Maka kiranya bijak jika kita
mendahulukan saluran Qurban tempat-tempat kritis seperti lokasi
bencana, kelaparan, kantong kemiskinan dan sejenisnya, atau desa-desa
terpencil yang benar-benar hanya bisa merasakan rasa “daging” setahun
sekali saja dikala Qurban saja.

Mungkin sedikit referensi ini bisa membantu, para penduduk miskin di
Desa Cibokor dan Girimukti Cianjur yang masih mengungsi ditenda-tenda
akibat bencana longsor yang menelan puluhan korban jiwa, atau beberapa
desa terpencil di Garut yang masih dipenuhi anak-anak busung lapar
berperut buncit, bahkan rumput pun masih dicampurkan untuk menambah
volume nasi yang dimakannya. Bayangkan, secuil daging dari sekian
besar rizki kita qurbankan, dapat menyelamatkan sekian banyak dhuafa
yang kelaparan, menggerakkan mereka mendoakan keberkahan rizki dan
keselamatan hidup kita…menghantar kebaikan di akhir hidup
kita…saat kita menjadi jenasah yang sudah tidak mampu berbuat
apa-apa lagi…

Rekans, selamat berQurban…selamat berbagi…selamat berbahagia…

– teteh –

Al kautsar : 2 “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah”.

Iklan




Pekan Raya Persahabatan 50 Tahun Indonesia – Jepang

5 11 2008

Saturday for kids! Indonesia – Japan Expo 2008 tujuan kami…why? Temanku Akihiro sekeluarga aja sengaja jauh-jauh datang dari negeri sakura dan mau berpanas-panas nginep di gubuk sederhana kami selama 2 hari …kok ya kita yang tuan rumah gak nyempetin gitu loch… dan entahlah, untuk mereka, ini laksana big event respectly to celebrate betapa “hangatnya” persahabatan Indonesia – Jepang selama 50 tahun ini. Apalagi untuk Akihiro yang punya hubungan “emosional” dengan babah buyutnya yang orang Indonesia asli…so, ijinkan mengurai sekilas suasananya ya…

Sabtu pagi sekali kami sudah berbatik ria, siap meluncur ke arena PRJ Kemayoran. Karena ditotal rombongan cukup banyak 14 orang, ya kami harus terbagi menjadi 2 mobil yang semuanya produk Jepang juga, Suzuki APV and Toyota Kijang he he. Aini ngotot gak mau semobil bareng dengan bocah-bocah lainnya termasuk Hito putranya Akihiro. Maklum, baru satu hari kenal tuh anak 6 tahun udah pecicilan peluk dorong nyundul narik-narik kerudung putriku dari belakang, sambil nyerocos jepun yang tidak satu kata pun dapat kami mengerti…nyebelin juga sih he he kids !

Penjaga pintu masuk pun dibuat bingung…gimana enggak, undangan empat lembar yang datang empat belas ha ha…so, anak-anak dan para dayang digabung duduk manis dengan rombongan mahasiswa berjas biru dengan badge “Universitas Dharma Persada”…kami berempat duduk paling akhir dibaris undangan …

Rombongan aktor utama SBY dan mantan PM Jepang Yasuo Fukuda diiringi para petinggi menteri dan sejenisnya pun muncul…melambaikan tangan dan remark yang intinya sih agar persahabatan RI – Jepang ini bisa lebih tertata, diperbaiki dan meningkat khususnya dibidang ekonomi. Sedikit opening ritual lalu mereka diarak sebentar ke Hall A dan B dengan penjagaan super ketat, pulang diiringi lambaian teriakan para mahasiswa dan anak-anak serta kilatan lampu blitz, celebrities banget….

Hidangan refreshment tersaji, tapi kami lebih tergiring anak-anak yang langsung menuju arena expo…jadilah kami “guide” mereka, menerangkan jejeran foto-foto jadul orang Jepang dan produk-produknya masuk Indonesia, cuma kok foto “rodi” nya sedikit sekali ya? Dipamerkan juga brosur iklan dan produk jaman dulu seperti bedak tjantik “Aiko” memboeat pipi anda mentjadi haloes…barisan rongsokan motor honda jaman baheula…kerajinan jepang dan masih banyak lagi…

Di meja Pusat Kajian Jepang UI, kami diberi souvenir kamus Indonesia – Jepang yang lumayan tebel serta beberapa buku kajian…anak-anak berhenti di studio Manga melihat kelihaian para seniman mencoret-coret gambar kartun Manga, keren banget deh…

Kimono bertebaran dimana-mana dikenakan oleh para penerima tamu dan beberapa SPG yang cantik-cantik…saat masuk Hall A, kami sudah disambut dengan ibu-ibu berbatik BPEN Depdag membagikan souvenir bolpoin kayu dan menggiring anak-anak nonton si Kabayan, produk edu VCD dalam negeri untuk menumbuhkan nasionalisme sejak dini…setelah dibujuk2 barulah anak-anak mau beranjak…kami kunjungi warungnya PPU, Persada dan Unsada (alumni dari Jepang dan universitas yang mereka dirikan), NGO’Int Pusat Pendidikan Jepang, lalu melihat foto dan miniatur yang dipajang PT INKA,dan…lagi-lagi anak-anak tertahan antusias melihat mbok-mbok mendemonstrasikan proses batik tulis…ya apaboleh buat, orangtua nya pun jadi pilih-pilih dan bertransaksi batik cantik menarik hati yang juga boleh dibeli disana he he ….

Hampir semua pebisnis jepang di Indonesia berkiprah di expo, seperti Fujitsu, Panasonic, YKK, LNG Japan, Kajima, Toshiba, Fuji Xerox, Hitachi, Sharp, Epson, Teijin, Canon, Toray, Itochu, Mistubishi, Sojitz, Ajinomoto, Toto, Sumitomo, Marubeni, Ashaimas, JAL, Saporo, Yamatake Berca, Komatsu, Nippon Kei, Jasso, Kumon, Aots, Nikko, Haka, Ebata, Jetro, Jica, surat kabar jepang “Nikkei” sohibnya Kompas , dan masih banyak lagi…

Semuanya berkesan khususnya untuk anak-anak, karena selain menambah pengetahuan mereka, juga aneka souvenir dan goody bag yang begitu banyak mereka dapatkan seperti balon, gantungan kunci, gelang tangan, Tshirt, kipas, topi dan lainnya…

Beberapa arena favorit mereka, antara lain Panasonic, karena mereka bersimulasi didepan monitor yang besar sekali, memilih binatang kutub favorit mereka, tanya jawab banyak hal tentang climate change sambil pencet sana pencet sini, lalu mereka mengetikkan nama serta janji mereka untuk menyelamatkan bumi ini, lalu….jepret! mereka berpose kepada kamera yang menempel dimonitor…5 menit kemudian, foto mereka muncul dengan teraan nama dan janji yang mereka tulis sendiri dibawahnya….

Di YKK, mereka terkagum-kagum berada dibawah tenda kuning yang YKK sumbangkan untuk para korban bencana alam di Sumatera, Palestina, Aceh, dan masih banyak lagi…mereka juga bisa memilih langsung mata kancing dengan gambar yang mereka sukai, dan seorang pegawai mendemonstrasikan pembuatan kancing dan membuatkan gelang tangan untuk mereka, duh senengnya….

Daihatsu mempersembahkan Taiko, pukulan bedug khas Jepang yang membuat mereka terkagum-kagum akan gerakan atletisnya…lalu kami semua diajak untuk membuat lingkaran besar bersama mereka, melakukan Bunodori yaitu gerakan tarian yang khas dibawakan pada festival musim panas di Jepang, walhasil selama 10 menit’an mengikuti serasa kami pun bercucuran keringat he he segaaar….

Kostum pun harus kami ganti casual, lebih nyaman memang…lalu kami berkesempatan test drive MIEV, mobil seharga 3 juta yen atau sekitar 300 juta rupiah yang akan segera dipasarkan di Indonesia oleh Mitsubishi sekitar 2010…mobilnya sih mirip-mirip Honda jazz gitu, tapi ini mobil ga usah repot masuk pom bensin karena bahan bakarnya ya pake baterei yang cukup discharge selama 7 jam untuk perjalanan 150km…wah boleh juga lah untuk Jakarta Bandung nyampe he he..nyaman banget, tak sedikitpun suara mesin terdengar, dan rasanya sih seperti naik bombomcar aja…

Sambil menikmati lunch box, kami duduk menghadap panggung expo yang menampilkan fashion show ala Harajuku…weeh, sekian anak muda bermunculan dengan mengenakan kostum yang aneh-aneh pula bergaya aneh-aneh…aneh…

Kami pun lanjut ke Hall B, sekian stan perusahaan berbau Jepang berjejer disana…anak-anak sangat terkesan dengan rancangan rumah NEDO, yaitu eco house yang semua bahannya itu adalah berbahan daun ulang dan dirancang sedemikian rupa untuk menimalkan energi yang dipakai sebagai bentuk kepedulian kepada bumi di masa mendatang…

Di area JICA, anak-anak kami giring masuk ke MTR yang akan segera Jakarta punyai, “kok diem sih bu keretanya, boongan nihhh, gak seruuuu” kata anak-anak…dan, saatnya nonton Shinkansen!..anak-anak sudah tidak sabar menunggu diputarnya film 3 dimensi tentang kereta cepatnya orang Jepang, Jakarta Surabaya hanya 2,5 jam saja ditempuh, lebih cepat dari pesawat, keren deh…uh, anak-anak mereka senaaang sekali, sementara si Hito nyerocos terus sambil nunjuk-nunjuk layar, anak-anakku sih pada diem sambil kesel, mungkin Hito ingin mengekspresikan betapa bangganya kalo di negaranya udah ada kereta itu dan bahkan dia sering menaikinya he he…

Tak terasa malam sudah…kami sudah kelelahan…tujuan akhir kami adalah Obake, rumah hantu Jepang…sayang memang jika dilewatkan…namun karena antriannya seharian itu panjaaaaaaaaang terus, kami pun dengan berat hati mengundurkan diri….

Semua anak-anak melangkah gontai menuju parkiran dengan segala macam jinjingan souvenir ditangan, namun kami sempatkan untuk berfoto bersama dibawah banner merah “Indonesia – Jepang Friendship 50th years”…

Hmmm dinner dimana ya ? pukul 10 malam kami akhiri dengan menu Bebek Kaleyo di pinggiran jalan Cempaka Putih…ternyata orang Jepang doyan “meri” juga ya…

Teteh –

Event 1 – 9 November 2008, sayang kalau terlewatkan…