MEMINTA MAAF DAN MEMBERI MAAF

21 10 2008

Putri kecilku sedang belajar puasa dihari pertama ini, diam-diam menghampiri dan mengadu kepada kakeknya, ayahku, karena derasnya air mata yang tanpa komando mengaliri pipiku. Ya, dadaku sesak, penuh rasa penyesalan.

“ada apa nak, ini airmata duka atau suka? ” tanya bapak duduk menghampiriku.

“pak, demi Allah aku bahagia hari ini walau BOLOS ngantor demi saum pertamaku bersama bapak dan mamah yang sangat kukasihi. Tidak ada alasan jika airmata ini adalah tanda duka. Namun benar jika airmata ini adalah menyakitkan karena ganjalan hatiku”.

Lalu kuceritakan masalah yang kuhadapi 5 menit lalu via yahoo messenger. aku disadarkan oleh teman karibku dari sebuah kekeliruan besar kepadanya, yang demi Allah tidak kusengaja. Aku segera tersadar, segera beristigfar bersujud memohon ampunan Allah, aku ikhtiar maksimal sebagai penebusan dosa, dan tentu kurendahkan diri meminta maaf padanya. Namun sampai detik ini, maaf darinya tak kunjung kuterima, ya Allah, bisakah ini menjadi ramadhan terbaikku jika masih ada orang yang tersakiti olehku dan belum memaafkanku?

“nak, bapak ingin bertanya, sulit dan ikhlaskah kamu saat meminta maaf kepadanya? Bandingkan ketika saat kau dalam posisi memberi maaf, mana yang tersulit, MEMINTA maaf atau MEMBERI maaf? Aku hanya diam membisu.

“Nak, keduanya bernilai lebih, meminta maaf adalah hal yang SULIT , dan memberi maaf adalah hal yang MULIA.

Ya, keduanya memiliki kedudukan dan tujuan yang sama, meniadakan sebuah kesalahan yang berdampak bagi kedua belah pihak. MEMINTA MAAF adalah hal yang SULIT, karena itu menuntut kesadaran yang tulus dari hati dengan maksud mengakui segala kesalahan dan kekhilafan serta berjanji tidak akan mengulanginya dengan alasan apapun. Dan sulitnya meminta maaf, adalah karena terlebih dahulu harus tahu dan mengakui bahwa kita telah berbuat salah. Penyakit orang dewasa adalah penyakit SUPERIORITAS. Merasa diri paling benar dan paling hebat. Dan tentu saja sebagai seorang yang hebat adalah anti untuk melakukan kesalahan apalagi mengakui bahwa dirinya telah berbuat salah. Orang semacam ini akan sangat sukar untuk menyadari bahwa dirinya telah berbuat salah. Biasanya penyakit ini disertai syndrome peka mata. Mata akan sangat peka terhadap kesalahan orang lain. Dan
akan dengan refleknya menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang telah diperbuatnya. Jika tidak ada orang lain maka akan menyalahkan barang/hal lain. Setelah menyadari jika kita telah berbuat salah maka langkah selanjutnya adalah mau mengakui dan mengungkapkan jika kita telah berbuat salah. Banyak orang yang TAHU dirinya salah tapi ENGGAN mengakui, apalagi di muka UMUM, karena merasa dengan mengakui kesalahan berarti orang lain lebih benar dan lebih baik dari kita. Suatu hal yang sangat bertentangan dengan penyakit superioritas.”

” Maka barangsiapa bertobat sesudah melakukan kejahatannya, dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah bertobat kepadanya (menerima tobatnya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al-Ma-idah [5]: 39).

Sedangkan memberi maaf adalah dalam posisi yang MULIA . Tidaklah mudah seseorang meLAPANGkan hatinya dengan tulus, untuk mengikhlaskan segala bentuk kesulitan dan ketidaknyamanan yang timbul dari sebuah kesalahan perbuatan seseorang. Namun semua yang ada pada diri kita seperti harta, ilmu dan badan termasuk hati kita adalah milik Allah dan hanya DIPINJAMKAN kepada kita untuk
disyukuri, dimanfaatkan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Jika badan kita termasuk hati disakiti, maka yang lebih BERHAK marah adalah yang mempunyai hati tersebut. Yang lebih berhak menghukum dan memberi balasan yang setimpal adalah Allah SWT. Yang pasti, Allah sangat pengasih dan penyayang, telah tersedia lautan pahala dan kavling surga bagi seseorang yang meminta maaf dan memberi maaf dalam KEIKHLASAN, semata-mata karena rasa cinta dan ibadah kepada Allah SWT.

” Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (QS Al-Ma-idah [5]: l3.

” Berlapang dadalah terhadap mereka dengan cara yang baik Al-Hijri [5]: 85). “Berlapang dadalah terhadap mereka dengan mengatakan salam/kedamaian (QS Al-Zukhruf [43]: 84).

Ya, memaafkan adalah ciri utama orang beriman yang sedang menuju taqwa. Dan meminta maaf adalah perilaku terbaik seseorang yang pernah bersalah untuk menuju taubatan nasukha.

Pops! Sebuah message board muncul dilayar PC ku, dan berbunyi…. “sorry, tadi sholat ashar jadi keputus….ya…Allah…gw gak marah, gw cuma sedih & kaget…mudah-mudahan kamu ngerti kalo ada di posisi gw saat ini….gw dengan ikhlas, senang hati, memaafkan….gw jg minta maaf ya…mungkin ada kata-kata gw yang kamu gak
berkenan…plis…maapin…..tks ya udah mengerti kondisi ini…satu keajaiban di awal ramadhan…. satu doa terijabah walaupun tidak terucap…. trimakasih Ya Allah…. Engkau berikan kawan, sahabat yang mengerti….. jadilah tetap seperti itu di masa yang akan datang… thanks dear….”

sesak menghilang entah kemana…tangis terhenti…senyum terkembang dibibir nan kering ini…tangan keriput bapak mengusap lembut kepalaku…”alhamdulillah nak, dia shalihah, dia telah memaafkanmu…” Terimakasih ya Allah, karenaMU dia ridha, ramadhanMU ini memang begitu indah…

– teteh –

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: