INDAHNYA ITIKAF RAMADHAN : SERI 2 : FIRST LOVE NEVER DIE ?

21 10 2008

Alhamdulillah, hari pertama belajar itikaf putriku cukup lancar. Setelah promosi CELANA ITIKAF-nya, dia langsung menyelusup ke Molly-nya dan terlelap. Pukul 12 malam jamaah terbangunkan suara lembut ustad Miftah Farid, mengajak perenungan, muhasabah yang setelah 1 jam kemudian diakhiri linangan airmata sujud taubat para jamaah. Teringat suatu hadist meriwayatkan, Rasulullah selalu mengisi sisa malam dengan memperpanjang BERDIRI dalam shalatnya sehingga kaki-kakinya memBENGKAK, melamakan sujud sehingga memerah PEDIH keningnya. Pastinya jauuuuh lebih berat dari yang kurasakan saat itu, mengikuti imam shalat malam dengan bacaan yang sangaaaaaaat panjang. Terus terang 2 jam adalah shalat malam terlama yang baru ini kulakukan, kalaupun lama ya lebih lama duduk doa MEMINTA-nya daripada berdiri atau bersujud memujiNYA…duh berat sekali, beraaat…

putriku? Pukul 1 kucoba ciumi pipi montoknya untuk membangunkan. Entah terbangun atau tidak, matanya merem saat kupapah berwudhu, kupakaikan mukena, kugelarkan sajadah, dan dirakaat ke 3 dia sudah menyerah minta shalat sambil duduk. Geliiii rasanya…melihat dia tetap mengikuti shalat malam sambil duduk dan mata terpejam, badan dan kepala bulatnya terangguk-angguk kedepan kebelakang menahan kantuk, dan setiap salam diakhiri dengan bersender kebahuku. Ah anakku sayang, tak apa, Allah dan Rasulullah serta para malaikat akan tetap tersenyum bangga melihat usahamu ini…

Tak terasa shalat malam berakhir di pukul 3, beberapa jamaah berkelompok membuka bekal. Ada rasa SESAK menyelusup saat melihat beberapa keluarga berkumpul diteras masjid sahur bersama, teringat suamiku, teringat Bapak yang menemani ibuku sakit dirumah, teringat adik yang itikaf bareng GENK DaruutTauhidnya. Tawaran sahur seorang ibu kutolak halus, nona kecil 4,5 tahunku ini masih harus diakali makan sayurnya…brokoli+wortel+udang+madu+susu, diblender and pake dot!…Segera kupapah anakku masuk kemobil, dan kutancap pulang kerumah Nini Aki-nya.

Minggu 28 Sept pagi ini terasa sejuk, udara angin Bandung sekitar rumah terasa tenang sekali. Matahari terbit bersinar kemerahan, namun tetap cerah dan tidaklah terik memanaskan. Terbayang terus kelezatan ibadah semalam, merindu untuk kembali dimalam ini. Magrib putriku berbuka puasa cukup banyak, dan tetap semangat “kemping”. Kali ini langkah menuntun kami masuk ke mesjid Salman ITB. Myprincess memasukkan lebih banyak lagi susu kotak kedalam ransel, katanya biar
teman-teman kempingnya ikut minum juga…gemeeeesss…

Bada tarawih dan ngaji 10 ayatnya, putriku sudah gaul kesana sini mencari kawan, terlihat sudah dia berlarian dengan 6 bocah perempuan di taman masjid. Tampak lain, beberapa keluarga kecil dan kelompok2 jamaah menggelar sajadah, ada yang membaca Alquran, buku, diskusi, tiduran, ataupun sibuk memainkan sms handphonenya. Pukul 10 malam tiba saat kubangkit mengajak masuk istirahat anakku, sebuah suara memanggil “neng…ieu neng leni? Ya Allah, inget keneh teu? Ieu urang, manonk…kumaha kabarna…naha maneh didieu, lain di Jakarta…aduh eta awak, baheula geboy ayeuna bet siga balon…hayu geura, loba babaturan Belitung diditu keur reuni itikaf yeuh, geus arinsyaf euy he he …(mode translate on “ini neng leni? Masih inget gak? Ini saya, manonk, gimana kabar, kenapa disini bukannya di Jakarta…duh itu badan, dulu geboy kok sekarang jadi kayak balon…ayo sini deh, banyak temen2 jalan Belitung (maksudnya exSMA3 Bandung) lagi reuni sambil itikaf, lumayan udah pada insyaf he he..)

Siapa gak kenal Firman alias mbah dukun alias manonk, badannya imut parasnya unik, terkenal paling “error”, sering bolos, bandel dan langganan dilempar penghapus oleh guru senior matematika, kalo maju kedepan tugas mengarang ceramah pidato dan sejenis pasti topiknya ya setan jin dan dunia metafisikanya, ditanya apapun Jawabannya ceplas ceplos jaka sembung gak nyambung, tapi….fisika-nya paling top!. Dulu kita semua heran kok dia bisa ya masuk SMA3, dan yang lebih heran lagi dia bisa jebol ITB ngikut jejak Bapaknya yang dosen Metalurgi ITB. Sekarang…dia dosen terfavorit di Fak. Teknik Perminyakan ITB karena ke”aneh”-anya yang gak pernah hilang…ah manonk…

Bener, walaupun banyak yang gak seangkatan, disitu banyak teman ex SMA3 yang kukenal dan dulu sekelas, ada Ahmad Somad, Yane, Ali, Wiwin, dll, semuanya rata2 memang aktivis Salman ITB yang sekarang udah pada jadi dosen di Almamaternya…ini mungkin salah satu hikmah itikaf, bisa menyambungkan tali silaturahmi yang sudah lama terputus…30 menit lah berkangen-kangen, baru saja mau bubar untuk meluruskan kembali niat itikaf, Manonk menahan langkahku menanti kedatangan seseorang yang katanya baru dia sms….seseorang datang, enteng Manonk berkata “Kang Yudi, saya tinggal ya, MUMPUNG masih RAMADHAN, udah pada gede dan kalian BELOM PADA MATI, ayo minta maaf, tuntaskan masalah lama, berkah Allah nih”….…dug! jantung rasanya copot, entahlah seperti apa mukaku melihat kemunculan seseorang yang hampir 18 tahun tidak pernah kulihat….

Yudistira, sang kakak kelas, sekarang dosen di Teknik Arsitektur ITB, yang bikin aku MABUR ke Jurangmangu, yang bikin aku tidak ambil jatah UMPTN di Teknik Kimia ITB daripada harus ketemu dia di kampus!!! yang yang setelah 3 tahun jalan bareng, lalu saat KKN menghilang tanpa kabar, dan kabar terakhir malah lanjut nikahin anak pak lurah !!!!!

30 menitku kembali tertunda…jujur, sedikit kaku dan ge-er kami basa-basi saling berbincang, tentang keluarga dan kondisi masing-masing…walau mata jahil BERCURI pandang, tetap KUTUNDUK mata
dan muka, karena terus kucoba kuTAHU DIRI … first love never die?… he he only to REMEMBER laaah…

alhamdulillah, Allah kirim malaikat kecilku…sambil menggosok mata putriku datang menguap mengantuk…kami akhiri silaturahmi, saling meminta maaf dan bertukar kartu nama, lantas mengucap salam pisah menuju sajadah masing-masing….

Selama ibadah malam itu…entah apa dipikirannya…Kang Yudi ternyata memposisikan diri dibaris terakhir ikhwan…namun TEPAT didepanku, yang ada dibaris pertama akhwat, hanya DIBATAS kain hijab tinggi….lewat kolong hijab, tanpa suara, berkali-kali Kang Yudi menyorongkan botol minuman dan snack untuk kami, meminjamkan sajadahnya yang lebih tebal dan lembut penghalau dingin, mengirimkan sms “kalo perlu apa-apa bilang ya” yang tak pernah sekalipun kubalas….PIKIRAN inipun lalu BERMAIN…MALAH terlintas segala KEBAIKANNYA masa dulu…terlintas BURUK SANGKA kenapa suamiku kok belum ada sms kabar pulang…terlintas JUSTRU segala KEKURANGAN SUAMIKU …terlintas perbandingan KELEBIHAN DIA dan KEKURANGAN SUAMIKU …a’udzubillahi minasyaithaanirrajiim…astagfirullah…kumohon ampun dan perlindungan pada Allah SWT…padahal tadi pagi suasana sedemikian damai tentram dan sejuk, dan malam ini begitu penuh dengan ujian HATI yang sungguh berat…ibadah malam itu terasa seperti berjalan dengan PIKULAN yang sangat BERAT, ingin rasanya BERHENTI ditengah jalan, tapi terus kulawan kulawan dan…tak terasa airmata membanjir mengakhiri ibadah malam ganjil terakhir itu…rasa sesak tadi MENGHILANG begitu saja dari dada, terasa RINGAN sekali, selaksa bersayap dan BEBAS terbang hendak kemanapun…dan…

Terdengar sebuah bisikan halus dari balik hijab ” stttt…bu …ibu…”…..”eh, siapa?” aku terkejut, suara yang BERBEDA dari fisik yang sebelumnya ada disitu dan kucoba hindari, tapi ini suara sangat KUKENAL, SANGAT…”iya…ini bapak, baru nyampe, susah nyari kendaraan dari terminal Leuwipanjang, terus naik ojek. Bapak baru jalan dari Cikarang jam 11, dapetnya bis ekonomi karena Primajasa udah abis…tadi Bapak harus beresin THR untuk temen-temen dulu, baru turun dari bos jam 8…bisa sih dikerjain besok, tapi kasian temen2 dan bapak juga udah kangen ibu dan aini…maafin bapak ya, pas mau balas sms info ibu itikaf disini, eh baterenya habis. Untung Molly-nya Aini ngejreng keliatan, dan pasti ibu selalu ambil baris depan, jadi bapak gak susah cari deh…ayo ah cepet, bapak tunggu diteras, keburu abis sahurnya, lapar nih, bapak udah pesenin nasi goreng tuh diluar….”

Ah, aku seperti TERBANGUN dari mimpi Cinderella…dari mimpi sang RUMPUT …yang selalu terlihat LEBIH HIJAU dan segar jika tumbuh dihalaman SEBELAH…

Treng! sebuah sms masuk “neng geulis…sahur bareng yuk…kita tunggu di sayap kiri ya”…hmmmm…LAKON wayang Pangeran Yudistira dari Astina Parahyangan ini kayaknya masih TERASAH anak panahnya he he..hanya kujawab “nuhun kang, parantos”

Sahur dan nasi goreng enam ribu perak ternikmat yang pernah kurasakan….terimakasih ya Allah, dimalam ganjil terakhir ini kau telah MELINDUNGI dari segala nafsu… kau telah tunjukkan kuasa keberkahan dan kemuliaanmu…kau telah ATUR segala urusan HATI ini dengan sedemikian MUDAHnya…

– teteh –

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu
turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk
mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: