MEREKA SANGAT BAHAGIA MEMPUNYAI IBU YANG BANYAK

20 10 2008

Mungkin agak basi jika menceritakan sesuatu hal yang terjadi 3 minggu lalu, namun rasanya sulit terlupakan dan sayang jika tidak menjadi amalan hikmah bagi banyak sanak saudara kerabat teman-temanku ini…

Ya, tanggal 2 Agustus 2008 atas izin-NYA saya berkesempatan untuk diterbangkan Malaysian Airlines, memenuhi undangan pernikahan putrinya Dsp Che Mahazan bin Che Aik, Royal Police CID Chief di salah satu District di Malaysia. Mahazan menjadi salah satu “crazy” friend saya, setelah kami disponsori Amerika bertemu pada workshop Fraudulent Travel Document di ILEA Bangkok bersama 25 teman-teman se-Asia lainnya, bulan Februari lalu. 1 minggu di Thailand, dia yang paling doyan mengkritik saya yang menjadi tidak seksi karena tidak pake Highheels…dia yang pembohong bilang Fat is Beautiful…dia yang paling excited, periang dan kenceng bersenandung lagu-lagunya Yuni Shara di Function Room…dia yang getol minta call wake up shubuh…dia yang paling gentlemen ngusir anjing yang nguntit saya terus di lobby Rama Garden…dia yang gak pernah ngaku kabur malem-malem untuk masuk redcross….dia yang paling disegenin semua participant karena paling smart in discussion….dan….karena saya gak pake cincin kawin yang sudah kesempitan ini, dialah satu-satunya lelaki yang paling ceroboh karena tercepat dan terberani proposed me to be his second wife!!! Paraaah…..

No more interesting about “crazy” Mahazan to share…tentang gala diner di pesta pernikahan putrinya yang mewah pun pasti sudah sering rekans alami…bahkan tentang Kualalumpur, percaya banget rekans banyak yang sudah berkunjung. Tapi…..di pesta saya berkenalan dengan salah satu tamunya, seorang seorang perempuan ayu berkerudung, cantik dan keliatannya cerdas. Terpampang dikartu namanya “Dr. Gina Puspita”. Mengapa saya disatumejakan dengannya? Ya karena dia juga tamu dari Indonesia, tinggal di bilangan Ciputat.

Gina banyak berada di Malaysia karena selain 2 dari 4 anak-anaknya bersekolah disana, juga sibuk bersama suaminya Dr. Riesdam Effendi menjalankan bisnis yang diamanahkan gurunya Abuya Ashaari, pendiri Darul Arqam, sang opposant Tuan Mahathir Mohammad mantan perdana menteri. Namun sekarang perusahaan Rufaqa yang banyak bergerak dipermodalan pendidikan, berkembang pesat terutama di wilayah Timur Tengah dan Asia, tentunya termasuk di Indonesia.

Masih tertarik denger cerita saya ? yuuuuk, lanjut mang…
Saat kita melting komunikasi tentang status, keluarga, suami, anak, pekerjaan, kekerabatan dengan Mahazan dan lain sebagainya, inilah bagian yang paling seru, Gina sangat percaya diri bercerita panjang lebar (tepatnya syiar) tentang keharmonisan rumah tangganya, yang terdiri dari seorang suami dengan 4 orang anak dan…4 orang istri dalam satu rumah!. Maaak….

Bak nyanyian merdu, suaranya begitu percaya diri dan tertata merespon pertanyaan, ketidaktahuan dan segala keheranan saya tentang kehidupan rumah tangganya. Gimana saya gak heran, bahkan dia sendiri yang mencarikan calon ketiga istri untuk sang suami, yaitu Basyiroh, Salwa dan Fatimah. d’ohhhh!

Keliru jika banyak perempuan (seperti saya sendiri misalnya) menduga sebaliknya, karena mereka ternyata dia dan ketiga madu-nya bekerja di kantor yang sama dan tinggal seatap rumah hidup rukun dan bahagia. Kalo suami dengan salah satu istri, ketiga lainnya ngobrol-ngobrol di satu kamar. Jika sedang bepergian di luar kota, mereka akan bertukar pesan lewat “bang SMS”….akrab gitu dech.

Dengan menyitir satu hadits, Gina meyakinkan saya bahwa Poligami yang didasarkan pada Allah tidak akan menimbulkan masalah, bahkan enak dan perlu. Tuturnya, beragama, bernegara adalah cara hidup, yang tidak dapat diwujudkan sendiri-sendiri, namun harus bahu membahu bersama-sama, demikian juga dalam berumah tangga. Setelah Gina dan suami belajar, membaca, mendengar, dan menteladani keluarga guru mereka dengan 4 istri 37 anak, 200 cucu yang sangat kompak dalam mendukung perjuangan umat, lalu mereka bersepakat bahwa poligami juga dapat mereka lakukan. Dengan persetujuan guru, Gina sendiri loh yang ngedate pertamakali dengan para calon istri suaminya, lalu sampaikan hasrat kepada orang tua mereka dan Gina pula yang melamarkannya. Walaaaah….

”Teh Leni…baru saja kita niat mau baik, Allah sudah kasih bantuan. Beda pendapat pastilah terjadi, tidak saja di poligami namun juga di monogami . Tapi alhamdulillah semua perkara dimudahkan, masalah keluarga dapat diatasi baik, karena selalu ditujukan untuk mencari keridhaan-NYA. Kita akan rasa poligami indah dan perlu, karena bisa mendidik hati kita, memahami tingkatan ridha kita dan menuntut kita untuk belajar kesabaran, memahami di hati ada cemburu lalu kita akan berusaha untuk belajar tidak iri dengki, Sehingga timbul rasa untuk membahagiakan orang lain.”

”Coba Teh Leni rasa, ini masa sudah rusak, nilai moral manusia sudah merendah. Misal, banyak para wanita bicara merasa dihina dengan poligami, tapi saat diminta buka aurat dan menjadi tontonan tidaklah merasa hina. Sudahlah hilang malu karena ketiadaan iman. Apa kata ada bicara manusia normal pasti tidak mau dipoligami. Apakah istri-istri Rasulullah bukan wanita normal? Justru merekalah manusia normal, karena menghamba, mencintai, melaksanakan perintah Tuhannya. Sering saya merasa hina dalam shalat karena malu pada-NYA, mengapa “orang jahat” seperti saya DIA masih beri rasa kebaikan dalam poligami. Bagaimana dengan Rasulullah, “manusia terbaik”, dan bagaimana hebat keluarganya?. Keliru jika ada manusia berumahtangga, cinta suami adalah segala-galanya. Jangan kita takut kehilangan cinta suami, karena menikah adalah bukti cinta kita pada-NYA. Besarkanlah cinta kita pada-NYA, maka DIA sendiri yang akan membagi kebahagiaan itu. Tentang finansial, rizki, DIA tidak saja mencukupkan dalam poligami yang diridha-NYA, bahkan menambah-nambahnya. Hubungan suami, kami berempat dan keempat anak kami sangatlah baik, tak ada pembedaan mereka dari ibu yang mana. Misal ketika salah satu dari kami berfokus pada pekerjaan, maka anak-anak tidak pernah kekurangan perhatian karena ada ibu-ibu lainnya. Bahkan ilmu amalan anak-anak kami lebih berlipat lengkap dan beragam daripada teman-teman mereka dari keluarga monogami, karena keberagaman ilmu amalan yang diajarkan para ibu-ibunya. Tak jarang mereka ungkap betapa bahagianya mempunyai ibu yang banyak.

”Teh Leni…jangankan untuk mengkritik poligami, cobalah rasakan gerakan aktivis perempuan yang mengkritik poligami, kaum feminisme belumlah mendapatkan kejayaan, bahkan di Perancis negara pencetusnya. Saya pernah sepuluhan tahun tinggal disana, gerakan feminis tidaklah berbuah hasil tapi justru kesengsaraan bagi kaum wanita. Katakanlah mereka bisa mendapatkannya, namun sungguh menjadi siksaan karena tidak sesuai dengan fitrah. Ingat saat Aa Gym berpoligami, dan ada monogami anggota DPR tapi hina berselingkuh. Masyarakat lebih meramaikan poligami, dikatakan zalim, bahkan mau dilarang. Padahal menurut saya, monogami dalam kasus tertentu berpotensi selingkuh dan itu jauh lebih menzalimi dan menjadikan perempuan tak ada harganya. Masyarakat yang berpandangan demikian tidak bisa disalahkan, karena kita sendiri gagal mensyiarkan kebaikan di masyarakat. Wajar mereka membenci poligami karena sulit mencari poligami yang layak ditiru dan diteladani di Indonesia. Marilah kita kembali pada-NYA, penyelesai segala masalah, bukannya disibukkan dengan berbagai bentuk diskusi, opini, penafsiran bahkan hujatan yang pada akhirnya bersifat merendahkan Rasulullah. Orang terkesan ketakutan, padahal kan poligami hanya sekedar satu dari sekian ribu syariat Islam, bukan perkara wajib. Sedangkan bicara yang wajib pun, shalat, tiang agama, apakah negara pernah peduli?. Padahal pendidikan, ekonomi, kebudayaan, semua aspek negara kita rusak dan bermasalah. Mau monogami atau poligami, jika kembali kepada aturan-NYA, maka tetaplah semuanya akan harmoni. (duh bener-bener bicaranya Doktor nih, fair…)

Pesta perlahan usai, kami saling mengucapkan doa dan salam perpisahan, lamaaa saya mampir dan melamun, tenggelam di empuknya sofa lounge hotel diiring denting piano…“ how do I ever, ever survive….how do I live without you….”

Poligami? …. ah, tentunya masih saja menjadi rahasia besar dalam hatiku….

– Teteh –
oleh-oleh 3 minggu lalu, semoga bermanfaat

Iklan

Aksi

Information

2 responses

15 11 2009
Sakinah Effendi

wah…teh…postnya bgus saya suka…
teteh udh lma knal dgn ibu sya?
saya anak keduanya…

30 03 2010
nurlaenileni

alhamdulillah, semoga kita bisa ambil hikmahnya ya
semoga allah beri keluangan saya untuk bisa kenal lanjut sama ibu sya dan para putrinya yang hebat-hebat ini
salam bunda ya sayang.
terimakasih sudah mampir ya. teteh dibimbing ngeblog yah, lieur he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: