MEMPERTANGGUNGJAWABKAN SEBUAH JABATAN

20 10 2008

JABATAN atau KEKUASAAN adalah al-amanah, yaitu kepercayaan yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada yang memberi jabatan tetapi juga kepada Allah sang pemberi amanah. ”Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai PERTANGGUNGJAWABAN tentang kepemimpinannya.” (HR Muslim).

Yang diberi jabatan pun harus memiliki KAPABILITAS terhadap jabatan yang diamanahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah, ketika DITAWARI kedudukan TINGGI dan menjadi kepercayaan Raja Mesir, ”Yusuf berkata, jadikanlah aku bendaharawan negeri Mesir, karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) dan berpengetahuan.” (QS Yusuf /12:55)

Di samping itu, untuk mendapatkan suatu jabatan harus dengan CARA yang BENAR dan tidak DIMINTA dengan penuh AMBISI. Ini terkait dengan ‘adalatul ‘am atau keadilan publik. Pernah Abu Musa bersama dua orang Bani Ammi menemui Rasulullah dan salah satu meminta Rasulullah memberikan jabatan kepada mereka, Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya, demi Allah! Kami tak akan memberi amanah kekuasaan kepada seseorang yang memintanya, dan juga pada orang yang berambisi padanya.” (HR Muslim).

Rasulullah juga berpesan pada Abdurahman bin Samurah, ”Janganlah engkau MENUNTUT suatu jabatan. Sungguh jika diberi karena AMBISImu, maka kamu akan MENANGGUNG seluruh BEBANnya. Tetapi, jika ditugaskan tanpa ambisimu, maka kamu akan DITOLONG mengatasinya.” (HR Bukhari & Muslim).

Dalam kitab Al-Imarah, Imam Muslim meriwayatkan Abu Dzar ”Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku jabatan?” Rasulullah menepuk pundaknya dan bersabda ”Wahai Abu Dzar, sungguh engkau itu LEMAH, sedangkan jabatan itu amanah. Jabatan akan menjadi KEHINAAN dan PENYESALAN pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan BENAR dan melaksanakan kewajiban yang diembankan kepadanya.”

Ath-tha’ah atau ketaatan, maka TUNAIKANlah amanah jabatan dengan sebaik-baiknya, jika tidak maka akan menjadi kehinaan, tidak saja bagi diri sendiri juga kepada orang lain di sekitarnya. Rasulullah SAW bersabda ”Apabila amanah diSIA-SIAkan tunggulah saat keHANCURannya.”.

Dengan semua contoh riwayat itu, maka sudah saatnya kita HIJRAH menyikapi kenaikan jabatan seseorang tidaklah dengan syukuran pesta-pesta atau sekedar ucapan selamat, namun denganlah cucuran AIRMATA SEDIH dan TAKUT mengingat beratnya pertanggungjawaban di akhirat kelak, dengan iringan DOA keselamatan dan…lafadz INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UUN…mungkin terasa janggal ya dijaman serba dihalalkan ini, namun ingatlah kepada SIAPA kita akan meminta syafaat saat kiamat dan mashar tiba….segala sesuatu datang dari-Mu dan kepada-Mu lah semuanya kembali, Ya Allah…

– Teteh –
sumber : disarikan dari nasihat bijak seorang ayah tua via SLJJ, yang saat ini masih memegang amanah jabatan Suami, Ayah, Kakek, Ketua RW, Kacab Persis Bandung, dan pimpinan sekian karyawan

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: