JABATAN DAN PERSAHABATAN

20 10 2008

Kepemimpinan dalam arti suatu JABATAN, sekarang sudah umum dipersepsikan kebanyakan orang sebagai hubungan yang bersifat FORMAL dan FUNGSIONAL semata dengan bawahannya. Jalinan yang mengikat antara seorang Pemimpin dan bawahannya adalah KONTRAK yang muatannya melulu dikaitkan dengan target, gaji, bonus, dan lain lain yang bersifat KUANTITATIF.

Hubungan persaudaraan yang bersifat PERSONAL dan EMOSIONAL, saat sekarang seolah-olah ILLEGAL untuk dijadikan landasan interaksi dunia kerja dan organisasi, dasar perikatan antar Pemimpin-bawahan, murid-sekolah, bahkan para Kyai-Santri dan Suami-Istri. Saat ini, semuanya hanyalah KONTRAK KERJA + JOB DESCRIPTIONnya, sangat mengerikan.

Memang sulit untuk mau belajar jujur pada diri kita sendiri, bahwa kita sang manusia, adalah sangat hina, karena penuh dengan segala macam kebutuhan dan ketergantungan kepada orang lain. Sedangkan fakta mengindikasikan bahwa kita sang manusia sebagai makhluk ruhaniah, jika dibangun komunitasnya semata hanya atas dasar hukum formal saja, atau hanya dengan AD / ART produk akal manusia semata, maka terasa sekali kita sang manusia akan cenderung FRIGID, sarat kepentingan dan rawan dimanipulasi. Dampaknya, kalbu kita sang manusia terasa HAMBAR, NALAR ruhaniah pun terasa sangat menjadi STAGNAN.

Kepemimpinan, apalagi dalam dunia dakwah, alangkah indah jika didasarkan pada semangat PERSAHABATAN dan PERSAUDARAAN, yang relasinya lebih bersifat PERSONAL dan EMOSIONAL. Dengan begitu, seorang pemimpin akan memandang dan menyikapi bawahan atau rakyatnya bukan sebagai OBJEK yang harus senantiasa diawasi, dikendalikan atau diberi sanksi.

Kita sebagai pelaku interaksi ruhaniah, alangkah indah bila memposisikan diri sebagai manusia yang BERAKHLAK (bedakan akhlak dengan moral), yang dapat memandang siapa/ apa pun, selain Penciptanya, adalah SESAMA makhluk yang wajib berperan dalam statusnya masing-masing untuk sama-sama mengabdi kepada Sang Penciptanya.

Sangat disayangkan jika kita sebagai pelaku interaksi ruhaniah, hanya menilai pencapaian target adalah sebagai deretan angka dan ukuran kuantitatif. Padahal sejatinya semua itu adalah sebuah AMANAH dan TANGGUNGJAWAB dunia akhirat. Secara vertikal, setiap pelaku melakukan amalan harus DIJALAN dan HANYA UNTUK sang Penciptanya. Dan secara horisontal, pelaku interaksi ruhaniah menjadikan kepemimpinannya dan mitra muamalahnya sebagai landasan mencapai target bersama.

Teman-temanku, yang pernah 3 tahun lebih bersama-sama dalam satu arena pendidikan, kita semua pasti pernah merasakan, jika kedekatan yang dihasilkan oleh interaksi ruhaniah yang ALAMI, terasa sangat SOLID, dan secara perlahan berubah setelah memasuki dunia pekerjaan masing-masing. Saat itu godaan materi, fitnah dan segala hal yang menjadi pemicu konflik MUDAH diatasi. Terlalu MAHAL jika nilai ukhuwwah, persahabatan dan kekeluargaan harus ditukar dengan uang, karir atau jabatan. Suasana kerja yang nyaman dan tentram, saling percaya dan saling mendukung jauh lebih penting dibandingkan dengan materi, gaji atau hanya sekedar tips dan bonus.

”Tidaklah sempurna iman seseorang, sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri ” (HR Bukhari dan Muslim).

persahabatan, kekeluargaan, dan jabatan, akan senantiasa diuji…

– teteh –

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: